
4 Hari berlalu dengan cepat, saat ini Jendral Ritke sedang duduk di atas tembok Benteng Trock dengan sebuah perban yang mengikat tangan kanannya.
Tembakan Falka memang tidak fatal terhadap hidup Ritke, tapi hal ini menyebabkan Ritke tidak bisa bertarung sebab tangannya tidak bisa memegang pedang lagi sampai lukanya sembuh yang membutuhkan waktu beberapa bulan.
"Jendral, apakah luka di tanganmu tidak apa-apa?", tiba-tiba seorang prajurit yang merupakan tangan kanan Ritke datang untuk menanyai keadaannya.
Ritke menatap luka di tangannya sambil menggelengkan kepala "Aku memang tidak bisa memegang pedangku tapi hal ini tidak akan menganggu aku untuk memimpin kalian, tidak perlu khawatir. Selain itu, kalian juga harus berhati-hati! Aku mendengar bahwa seharusnya Jendral Limo sama sekali tidak boleh ikut di pertarungan ini, informasi penting ini kita dapatkan langsung dari seorang pangeran Kerajaan Azeroth sehingga tidak mungkin salah. Jadi kemungkinan besar, ada keberadaan kuat lain di samping pangeran ke 4 selain Jendral Limo, kalian harus berhati-hati".
"Aku mengerti jendral, aku akan memberitahu pasukan yang lain juga", kata prajurit itu yang pergi untuk berbicara dengan prajurit di sekitar.
Ketika Ritke baru akan menutup matanya untuk beristirahat, lagipula musuh sudah tidak menyerang selama beberapa hari.
Sebuah teriakan prajurit terdengar "Musuh menyerang! Musuh memulai kembali serangan mereka!".
Mendengar hal itu, Ritke berdiri untuk menemukan bahwa pasukan musuh mulai berbaris untuk menyerang mereka. Berbeda dari beberapa hari yang lalu, pasukan Kerajaan Azeroth lebih tertib dan teratur. Setidaknya mereka tidak seperti para penduduk yang dipersenjatai lagi.
"Beritahu seluruh pasukan untuk bersiap, musuh kali ini sudah berbeda dari sebelumnya! Kita memang sudah menang dan hampir membunuh 1000 pasukan musuh, namun mereka masih memiliki 6000 pasukan dan sekitar 4000 pasukan elit, jangan sampai menjadi sombong karena kemenangan sebelumnya!", teriak Ritke.
"Dimengerti, jendral!", teriak semua jendral dengan tegas.
...----------------...
Myro kembali mengamati medan perang yang akan datang bersama para anak bangsawan yang lain, sedangkan Falka dan Kavaleri Mongol maka mereka belum mendapatkan kesempatan beraksi lagi kali ini.
Pangeran ke 4 berjalan mendekati Myro dengan senyum ramah, alasannya tidak lain adalah kemampuan Falka saat memanah Ritke. Bahkan Limo di belakang pangeran ke 4 mengagumi kemampuan panah Falka, oleh karena itu pangeran ke 4 lebih menghormati Myro daripada sebelumnya.
"Myro, apakah kau bisa beristirahat dengan baik?", tanya pangeran ke 4 yang berdiri di samping Myro.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini, sebelum bisa meraih kemenangan maka cukup sulit untuk tidur, aku selalu merasa khawatir", kata Myro sopan.
"Kau benar, aku juga sama!", kata pangeran ke 4 yang semakin menghargai Myro, perkataan Myro barusan berarti bahwa ia khawatir terhadap hasil perang ini yang sama seperti dirinya.
"Menurutmu, apakah kita bisa menang kali ini?", kata pangeran ke 4 dengan percaya diri.
Luin yang tidak jauh dari situ segera melangkah maju "Pangeran tidak perlu khawatir, setelah hari ini maka bendera Kerajaan Azeroth akan berkibar di Benteng Trock!".
"Aku tidak bertanya denganmu", kaya pangeran ke 4 memutar matanya "Aku bertanya pada Myro".
Myro menatap ke arah 6000 pasukan yang sudah terlihat sedikit seperti pasukan seharusnya, lalu ke arah Ren yang ada di belakangnya.
"Aku yakin pasukan kali ini akan mengalami kekalahan lagi", kata Myro tanpa ragu.
Semua orang terkejut terhadap perkataan Myro, mereka semua merasa kali ini akan menang sehingga mereka tidak mengerti kenapa Myro menganggap bahwa mereka pasti kalah lagi. Di antara semua orang, hanya Limo yang terkejut dengan cara berbeda, ia terkejut karena Limo tidak pernah berpikir bahwa Myro benar-benar bisa melihat hasil perang ini. Sebagai seorang jendral besar dari Kerajaan Azeroth, Limo tahu bahwa pangeran ke 4 pasti kalah lagi kali ini, namun sesuai arahan kakeknya maka Limo tidak boleh membantu pangeran ke 4 sedikitpun.
Ketika Luin akan meledak marah, ia tidak bisa marah karena pasukan sudah mulai melakukan serangan.
"Semua pasukan serang! Balas dendam untuk kematian rekan kita beberapa hari yang lalu!", teriak seorang prajurit yang ditunjuk sebagai pemimpin 6000 orang ini.
Kali ini Jerat tidak berani memilih orang kepercayaannya sebagai pemimpin para pemula ini, jadi ia hanya memilih seorang prajurit elit Kerajaan Azeroth yang tidak terlalu ia kenal.
"Serang!", teriak para prajurit penuh semangat, lalu mereka bergegas maju untuk menyerang Benteng Trock.
Melihat bahwa pasukan sudah maju, Luin hanya menatap Myro dengan kebencian sebelum mengamati para prajurit yang menyerang. Menurutnya ia tidak perlu marah sekarang, saat pasukannya menang maka itu bisa menjadi bukti terbaik untuk menunjukkan bahwa Myro salah.
Pangeran ke 4 hanya diam, ia memang tidak percaya bahwa mereka akan kalah lagi, tapi ia tidak tertarik untuk membuat Myro terlalu malu juga sebab masih ada Falka yang mengikuti Myro. Oleh karena itu, pangeran ke 4 masih harus mempertahankan Myro disini.
__ADS_1
Panah kembali berterbangan dari atas tembok Benteng Trock, setelah itu panah tersebut menembak jatuh 6000 pasukan Kerajaan Azeroth.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini pasukan terus melangkah maju menuju Benteng Trock walaupun beberapa rekan mereka mati, nampaknya pelatihan selama 4 hari ini sangat berguna.
Para pasukan Benteng Trock menembak sebanyak 2 kali lagi sebelum akhirnya pasukan Kerajaan Azeroth bisa meletakkan tangga pada tembok benteng tersebut.
Setelah tangga diletakkan, para prajurit naik tanpa ragu ke atas Benteng Trock.
Melihat bahwa pasukan Kerajaan Azeroth sudah jauh lebih baik dari kemarin, bahkan mereka sudah mulai naik ke atas tembok kota, Ritke sama sekali tidak panik.
Ia mengulurkan tangannya ke depan sambil berteriak "Jangan panik, hentikan pasukan musuh yang naik ke atas tembok! Jika ada pasukan musuh yang berhasil naik maka bunuh segera mungkin, lalu jatuhkan mereka kembali! Selama musuh tidak bisa naik ke atas tembok, mereka tidak bisa merebut Benteng Trock ini!".
Para prajurit Benteng Trock mulai mengambil batu dan air panas yang sudah disiapkan, setelah itu mereka melemparkannya ke arah para prajurit yang mencoba naik ke atas tembok.
Pertarungan berdarah terjadi, selama pasukan jatuh dari ketinggian 10 meter tembok benteng ini, mereka kemungkinan besar mati ataupun patah tulang. Tidak peduli yang manapun itu, pasti berakibat fatal.
Pada akhirnya beberapa prajurit berhasil naik ke atas tembok benteng tersebut, tapi ada banyak sekali prajurit Kerajaan Azeroth yang mati ketika mencoba naik akibat dilempar batu besar dan air panas.
Saat mengetahui bahwa pasukan berhasil naik, pangeran ke 4 mulai berteriak senang "Dengan ini, hanya masalah waktu sebelum kita bisa menang!".
Bagaimanapun setiap kali pasukan berhasil naik ke atas tembok musuh, maka itu sering berarti kemenangan sudah dekat.
Tetapi senyum di wajah pangeran membeku ketika menemukan bahwa setiap kali pasukan Kerajaan Azeroth berhasil naik, puluhan tombak menyambutnya yang langsung membunuh prajurit itu.
Lalu tubuh prajurit itu dibuang kembali ke bawah, lagipula pasukan Kerajaan Azeroth hanya bisa naik secara bergantian, hal ini menyebabkan setiap pasukan yang baru naik harus siap menerima puluhan tombak musuh yang sudah menunggu mereka.
Oleh karena itu, pada akhirnya pasukan masih gagal merebut tembok Benteng Trock.
__ADS_1