
"Jadi, kau tidak membawa kembali mayat Guliger melainkan memberikannya pemakaman yang layak seperti prajurit lainnya, apakah benar begitu, Yuki?", kata Myro yang baru tiba di perkemahan pasukan pegunungan utara.
Yuki dan Muteki duduk di depan Myro sambil menundukkan kepala mereka, walaupun tanah sedang bersalju sekarang sehingga kaki mereka sangat kedinginan, mereka sama sekali tidak peduli.
Myro juga sedikit tidak bisa berkata-kata, ia memberitahu 2 kakak adik ini agar berdiri dan tidak perlu berlutut di tengah salju, tapi mereka tetap keras kepala dan duduk disini sambil mengakui kesalahan mereka.
Karena 2 orang ini sangat keras kepala, Myro tidak dapat mengatakan apapun lagi dan membiarkan mereka melakukan apapun sesuai dengan yang mereka butuhkan.
Yuki berteriak "Tuan, Yuki siap menerima hukuman apapun karena bertindak tanpa izin tuan! Padahal kalau tuan menunjukkan mayat Guliger kepada pasukan di Ibukota Kerajaan Orc-Goblin, semangat mereka pasti menurun! Oleh karena itu, Yuki tidak keberatan mendapatkan hukuman apapun atas tindakan bodohnya".
"Diam!", teriak Muteki marah, ia berkata kepada Myro "Tuan, kesalahan seorang prajurit adalah tanggung jawab kaptennya! Belum lagi Yuki merupakan adikku, sebagai kakak serta kaptennya, aku merupakan orang yang harus dihukum atas kesalahan kali ini! Bagaimanapun aku tidak mengajari adikku dengan baik dan bertindak tanpa izin tuan, Muteki siap menerima hukuman menggantikan adiknya".
"Kakak!", Yuki terkejut terhadap perkataan Muteki.
Padahal ketika ia baru kembali dari membunuh Guliger, Muteki marah besar sebab Yuki tidak melakukan pekerjaan sesuai apa yang ia katakan yaitu membawa mayat Guliger untuk digantung.
Tetapi pada akhirnya, sekalipun Muteki marah, ia tetap peduli pada adiknya. Bahkan ia mencoba mengambil tanggung jawab atas kesalahan adiknya, semua orang bisa melihat seberapa peduli Muteki terhadap adiknya.
Melihat adiknya berencana mengatakan sesuatu lagi, Muteki berteriak "Aku bilang diam maka kau harus diam, aku adalah kapten dan kakakmu! Kau hanya perlu melakukan apa yang aku katakan!".
Yuki langsung menundukkan kepalanya penuh rasa bersalah, apabila kakaknya sampai dihukum akibat tindakan yang ia buat, Yuki pasti merasa lebih bersalah lagi.
__ADS_1
Ren yang ada di belakang Myro hanya berdiri diam, walaupun Ren merasa kesalahan yang dilakukan Yuki tidak perlu dihukum, tapi keputusan terakhir bukan berada di tangannya melainkan Myro.
Ia memang sering memberi saran kepada Myro, namun Ren tidak pernah lupa akan posisinya. Ia cuma seorang penasihat yang memberi Myro saran, keputusan akhir masih berada di tangan Myro.
"Berdiri!", kata Myro tegas.
Muteki dan Yuki terkejut terhadap perkataan tiba-tiba Myro, Muteki berkata penuh keraguan "Tuan, apakah yang anda maksud--".
Sebelum Muteki menyelesaikan perkataannya, Myro berkata "Bukankah kau berkata Yuki harus mengikuti perkataan mu sebab kau merupakan kapten? Aku adalah tuan kalian, lalu kenapa kalian tidak berdiri ketika aku mengatakan untuk berdiri?".
Muteki dan Yuki saling menatap sebelum berdiri penuh keraguan, Myro mengulurkan tangannya menuju 2 kakak beradik tersebut.
Pada awalnya mereka berpikir Myro berencana memberi mereka hukuman, tapi Myro hanya menepuk pundak mereka "Aku tidak menyalahkan apa yang kalian lakukan! Yuki, izinkan aku bertanya! Kau memakamkan Guliger karena menganggapnya sebagai seorang prajurit yang layak bukan?".
"Jika kau memakamkannya sebab alasan tersebut, maka aku tidak marah", kata Myro tersenyum "Mampu mengalahkan Guliger memakai 2000 samurai sudah cukup bagus, kenapa aku harus menyalahkan mu karena masalah kecil? Selain itu, tanpa mayat Guliger sekalipun, aku mempunyai rencana untuk mengalahkan Ibukota Kerajaan Orc-Goblin secepat mungkin tanpa terlalu banyak korban".
Mendengar perkataan Myro, semua orang kecuali Ren penasaran. Lagipula sebelum memberitahukan rencana yang ia buat, Myro akan mendiskusikannya dulu dengan Ren sebab posisi serta kemampuan Ren sebagai penasihat militer Myro.
"Tuan, apa rencana yang anda miliki?", kata Retya penasaran, ia tersenyum penuh semangat sebab selama tuannya berhasil merebut Kerajaan Orc-Goblin, kekuasaan Myro kemungkinan besar mampu bersaing melawan Raja Azeroth V dan pangeran ke 7.
Sebuah senyuman muncul di wajah Myro "Kita akan memecah pasukan dan penduduk di Ibukota Kerajaan Orc-Goblin menjadi 2 bagian!".
__ADS_1
"Memecah pasukan dan penduduk di ibukota?", kata Retya penasaran, ia tidak mengerti maksud perkataan Myro.
Bukan cuma Retya, hampir semua pengikut Myro yang lain sama sekali belum mengerti apa yang Myro rencanakan.
"Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan lebih banyak lagi, biarkan kalian melihat sendiri secara langsung mengenai strategi yang aku buat!", kata Myro.
...----------------...
"Yang mulia, ayo menyerah! Selama kita menyerah, kita semua dapat terus bertahan hidup! Tapi jika kita terus melawan, Count Kemenangan pasti menghukum mati kita semua!", kata seorang menteri di Istana Kerajaan Orc-Goblin, karena pengepungan Myro terhadap Ibukota Kerajaan Orc-Goblin dan kematian Guliger, Raja Albert mengumpulkan semua petinggi kerajaannya untuk mencari cara menyelesaikan masalah.
Tanpa menunggu Raja Albert berbicara sendiri, perdana menteri memukul meja penuh kemarahan "Pengkhianat! Apakah kau tidak mempunyai kesetiaan kepada kerajaan dan yang mulia? Kita para Orc bisa mati, tapi kita tidak akan menyerah!".
"Perdana menteri, tidak peduli apa yang kita pilih, kita pasti kalah! Daripada semua orang harus mati, kenapa tidak mencoba menyerah supaya tetap bertahan hidup? Selama kita hidup, ada kesempatan di masa depan bagi balas dendam kita!", seorang menteri berdiri dan angkat bicara.
"Jendral Guliger bertarung sampai mati di medan perang penuh keberanian serta kesetiaan kepada kerajaan, apakah kalian tidak malu memilih menyerah?", seorang jendral lain angkat bicara.
Pertarungan mulut terjadi di ruang diskusi Istana Kerajaan Orc-Goblin, kelompok pejabat dan penguasa terbagi menjadi 2 bagian yaitu memilih menyerah serta memberi Raja Albert kepada Myro sedangkan kelompok lain memilih terus melawan sampai mati seperti apa yang dilakukan Guliger.
Raja Albert yang menjadi pusat di ruang pertemuan duduk diam pada tahtanya, rambutnya sebagian besar berubah menjadi putih, wajahnya terlihat bertambah puluhan tahun lebih tua dari sebelum berperang melawan Myro.
Bagaimana mungkin Raja Albert tidak kesulitan? Kerajaan yang ia miliki sejak waktu ayah dan kakeknya harus hilang di tangannya sendiri, Raja Albert benar-benar merasa sangat bersalah atas ketidakmampuan dirinya melawan Count Kemenangan, Myro Aras.
__ADS_1
Kalau orang yang lebih hebat menjadi raja, mereka mungkin belum tentu kalah.
Melihat para petinggi yang dulunya setia mulai mengkhianatinya dengan memilih mengirim ia ke Count Kemenangan untuk dihukum sebagai ganti hidup mereka, Raja Albert berteriak marah "Diam! Apa yang kalian lakukan? Ini adalah ruang diskusi istana, bukan tempat dimana kalian dapat saling berteriak seperti orang bodoh!".