
Di Kota Rumerk, tidak sedikit orang yang memakai jubah. Alasannya yaitu beberapa pedagang yang menutupi identitas mereka atau orang-orang yang memanfaatkan jubah untuk melindungi diri mereka dari cahaya matahari secara langsung, bagaimanapun tempat ini berbeda dari bumi yang memiliki payung supaya mampu menahan matahari.
Oleh karena itu, keberadaan 3 orang Myro yang mengenakan jubah tidak menarik perhatian sedikitpun.
Bahkan jubah itu sangat membantu sebab Ren pasti sangat menarik perhatian banyak pria akibat wajahnya, karena bantuan jubah maka pria di sekitar tidak mengetahui wajah cantik Ren yang membuat perhatian terhadap Myro serta yang lainnya berkurang.
Di sepanjang jalan, Myro menemukan ada banyak sekali toko-toko yang menjual benda atau makanan khusus baik dari Provinsi Utara ataupun Provinsi Kemenangan, seperti yang diharapkan dari sebuah kota pada perbatasan 2 provinsi.
Melihat keramaian serta jumlah toko yang sangat banyak, Myro merasa toko disini tidak kurang dari Kota Loth sekalipun.
Meskipun dari luas kota dan jumlah penduduknya, Kota Rumerk tetap berada di bawah Kota Loth. Namun dari segi ekonomi dan bisnis, Kota Rumerk mampu bersaing terhadap Kota Loth tanpa masalah.
Myro mendatangi toko secara bergantian untuk membeli beberapa benda yang menarik perhatiannya atau makanan. Sebagai Count Kemenangan yang terkenal, Myro sama sekali tidak kekurangan uang lagi seperti awal-awal dirinya menjadi bangsawan.
Lagipula para walikota seperti di Kota Rumerk adalah orang kaya, sebagai atasan mereka, kenapa Myro tidak menjadi kaya juga?
Namun Myro tidak membuang-buang uangnya secara bodoh, bahkan sebagian besar barang di villa Myro bukan barang mewah.
Di mata Myro, selama sesuatu tidak terlalu dibutuhkan, ia tidak perlu membelinya. Bukankah lebih baik bagi Myro menggunakan uangnya untuk melakukan pengembangan terhadap kota-kota yang menjadi wilayah kekuasaannya?
Belum lagi bencana mungkin terjadi di beberapa kota seperti Kota Jalrus, Myro harus memiliki beberapa penyimpanan uang atau makanan supaya mampu mengatasi keadaan buruk secara tiba-tiba tersebut.
__ADS_1
Selesai dari daerah pertokoan, Myro berjalan menuju sekolah yang baru dibangun.
Sejak peraturan baru Myro dimana semua anak pada wilayahnya boleh sekolah secara gratis, setiap kota yang menjadi wilayah kekuasaan Myro mulai membangun sekolah.
Kota Rumerk juga membangun sekolah yang cukup besar, berdasarkan pengamatan sebentar Myro, terdapat kurang lebih 40 kelas dengan 1000 murid.
Mereka menatap para murid yang belajar di sekolah melalui jendela, namun posisi mereka cukup jauh supaya tidak menarik perhatian.
Yorou yang melihat keadaan kelas tersenyum lembut "Bukankah bagus? Anak-anak belajar dengan baik, di masa depan, mereka pasti menjadi pendukung penting untuk wilayah tuan. Selain itu, pemerintah Kota Rumerk mungkin tidak seburuk seperti yang ada pada laporan Baron Feld. Lihat murid-murid di kelas, bukankah mereka semua memakai pakaian yang sama? Dengan pakaian semua murid sama, tidak ada perbedaan status di sekolah. Oleh karena itu, mereka yang berasal dari keluarga kaya dan miskin tidak akan terlihat terlalu berbeda".
"Paman Yorou benar, di daerah pertokoan tadi sangat makmur. Baik penjual dan pembeli, ada banyak sekali yang menunjukkan seberapa berkembangnya ekonomi Kota Rumerk. Setidaknya hal tersebut menunjukkan bahwa walikota dan pegawai Kota Rumerk merupakan orang-orang yang mampu, mereka bisa memanfaatkan posisi kota yang strategi sebagai kemajuan kota", kata Ren membuka kipas lipatnya "Tetapi, apakah seragam yang sama di sekolah adalah hal yang bagus?".
Sebelum Yorou selesai berbicara, Myro ikut berkata "Yorou, apa yang Ren maksudkan bukan tujuan dari seragam murid yang disamakan, melainkan Ren bertanya-tanya tentang darimana semua seragam berasal".
"Darimana? Bukankah setiap murid yang bergabung di sekolah mendapatkan seragam dari pemerintah Kota Rumerk?", kata Yorou.
"Aku harap memang benar begitu", kata Myro yang mulai meninggalkan sekolah "Masalahnya aku tidak pernah membuat peraturan dimana seragam murid harus disamakan, tapi pemerintah Kota Rumerk melakukannya sendiri. Kalau begitu, mereka tidak mungkin memakai uang dari pemerintah pusat sebab aku tidak pernah menerima laporan Kota Rumerk masalah seragam sekolah, Feld tidak mungkin menyembunyikannya dariku".
"Apabila semua seragam benar-benar berasal dari pemerintahan Kota Rumerk sendiri, aku akan memberi mereka penghargaan sebab memberi 1000 murid seragam sama sekali bukan biaya yang murah. Apalagi berdasarkan pengamatan ku barusan, seragam mereka bukan pakaian sembarangan melainkan dibuat oleh bahan khusus".
Yorou mengerti sesuatu, apakah mungkin pemerintah kota begitu baik menggunakan uang mereka untuk memberikan seragam kepada para murid tanpa aturan dari pemerintah pusat?
__ADS_1
Jika pemerintah Kota Rumerk memakai uang mereka sendiri, Yorou harus mengakui pemerintah mereka sangat baik. Namun apabila uang seragam tidak berasal dari pemerintah, maka uang seragam berasal dari--
Sebelum Yorou selesai berpikir, suara Myro terdengar "Nak, kau berencana pergi ke ladang? Bukankah anak seumuran mu seharusnya pergi ke sekolah?".
Yorou kembali mengangkat kepalanya lagi untuk menemukan seorang anak berusia 10 tahun yang berpakaian seperti akan ke ladang sedang berdiri di depan rumahnya, mungkin anak itu sedang menunggu ayahnya.
Anak tersebut menatap Myro "Kakak, apakah kau bukan penduduk asli Kota Rumerk?".
"Kau benar, aku berasal dari kota lain", jawab Myro mengangguk.
"Seperti itu, tidak aneh kakak tidak mengetahuinya. Aku memang tidak bersekolah sebab setiap hari aku harus pergi ke ladang bersama ayahnya, aku tidak punya cukup uang agar bisa belajar di sekolah", kata anak itu tersenyum pahit.
Wajah Myro membeku terhadap perkataan anak itu "Tidak punya uang, bukankah semua sekolah gratis?".
"Kakak, apakah kau berasal dari Kota Loth, Kota Vendes atau Kota Rorec?", kata anak itu nampaknya mengerti asal Myro "Di seluruh Provinsi Kemenangan, hanya 3 kota tersebut yang mempunyai sekolah gratis secara penuh sebab disana adalah kota awal yang menjadi kekuasaan langsung Count Kemenangan. Tapi di kota lain berbeda, Count Kemenangan tidak dapat mengetahui semua yang terjadi di kota lain".
"Pemerintahan sebagian besar kota di Provinsi Kemenangan memang memberikan sekolah gratis, tapi ada biaya seragam dan buku yang sangat mahal. Setidaknya bagi anak petani sepertiku, aku tidak bisa membayarnya".
"Apakah mereka yang tidak memiliki seragam dan buku tidak boleh sekolah?", kata Myro tetap tersenyum, tapi hanya ia dan orang-orang terdekatnya yang tahu bahwa Myro sangat marah sekarang.
"Tidak, kami yang tidak membeli seragam dan buku juga boleh datang karena peraturan Count Kemenangan yang memperbolehkan seluruh anak belajar secara gratis, pemerintah Kota Rumerk tidak berani menghentikan kami pergi ke sekolah yang bertentangan dari aturan Count Kemenangan serta bisa dilaporkan", kata anak itu menggelengkan kepalanya "Namun para guru selalu tidak memperdulikan kami sebab mereka tahu, murid yang tidak berseragam berarti tidak membayar. Tanpa peduli apakah kami mengerti atau tidak, guru cuma memperdulikan murid-murid berseragam, selain itu kami bahkan tidak diajari cara menulis! Oleh karena itu, aku dan beberapa temanku merasa tetap disana tidak akan menambah pengetahuan kami. Lebih baik kembali ke rumah dan membantu keluarga mencari uang daripada terus membuang waktu disana".
__ADS_1