
Saat ini pasukan elit Kerajaan Azeroth kembali mengumpulkan 7000 pasukan gabungan bangsawan yang mencoba melarikan diri, walaupun jumlah mereka tidak lagi 7000 sebab terlalu banyak pasukan yang mati di medan perang barusan dan melarikan diri.
Oleh karena itu, dari 7000 pasukan maka hanya ada sekitar 6000 pasukan yang masih tetap berbaris sambil menundukkan kepala mereka.
Orang yang paling marah atas kekalahan ini adalah Jerat, ia melangkah maju dan memukul seorang prajurit yang melarikan diri ini hingga terjatuh ke tanah "Apakah kalian tidak malu sebagai pasukan Kerajaan Azeroth? Kalian sudah melarikan diri sebelum bertarung, apakah kalian tidak malu!".
Melihat semua pasukan ini menjadi diam, Jerat menarik pedangnya sambil berteriak penuh kemarahan lagi "Apakah kalian tahu mengenai tindakan kalian? Seharusnya kalian sudah di hukum mati berdasarkan aturan militer, tindakan kalian membuat kapten kalian juga mati bersama 1000 rekan yang lain! Apakah kalian sudah memikirkannya?".
Tidak ada seorangpun yang berani menjawab, mereka menundukkan kepala mereka dengan takut.
Jerat semakin meledak marah, wakil dirinya yang mati di medan perang tadi sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Jadi bagaimana bisa ia tidak marah mengetahui anaknya mati akibat para prajurit penakut ini.
Karena tidak ada yang berbicara lagi, Jerat melangkah maju dan bersiap untuk menebas pasukan di depannya ini "Kalau kalian tidak berbicara maka aku akan membunuh kalian atas semua kesalahan yang kalian lakukan! Seorang prajurit harus siap mati setelah mereka melarikan diri dari medan perang".
"Jerat, sudah cukup!", teriak pangeran ke 4 dengan wajah suram.
"Pangeran, hukum militer harus ditegakkan! Apabila kita membiarkan mereka pergi tanpa di hukum mati, maka mereka mungkin mencoba melarikan diri lagi sebelum berperang", kata Jerat yang masih merasa marah akibat kehilangan wakilnya, jika ia tidak marah maka ia pasti tidak berani melawan perkataan pangeran ke 4.
"Jerat, aku sudah kehilangan 1000 pasukan tapi masih gagal merebut Benteng Trock! Kita tidak bisa kehilangan lebih banyak pasukan lagi!", kata pangeran ke 4 ikut marah juga.
Seharusnya ia hanya bisa kehilangan paling banyak 2000 pasukan untuk merebut Benteng Trock ini, bahkan menurut rencana Luin maka mereka hanya akan kehilangan paling banyak 500 pasukan dengan memakai strategi lautan manusia. Namun siapa yang berpikir, sebelum mereka berperang maka 1000 pasukan sudah hilang.
"Luin, sebagai pembuat strategi ini, apakah kau memiliki pembelaan!", teriak pangeran ke 4 dengan wajah dingin, apabila Luin bukan anak Marquis dan teman dekatnya maka pangeran ke 4 mungkin sudah menebas kepalanya.
Ia tidak bisa kalah di perang ini, selama ia gagal merebut Kerajaan Kavaleri maka posisinya sebagai pangeran yang menggantikan raja pasti menjadi semakin lemah.
__ADS_1
Luin berlutut di depan pangeran 4 dengan keringat dingin, tidak ada lagi kesombongan pada dirinya kemarin "Pangeran, aku salah membuat rencana dan siap di hukum! Aku sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa pasukan ini akan begitu penakut, mereka sudah lari dari medan perang hanya karena melihat rekan mereka mati. Luin siap menerima hukuman apapun atas tindakannya membuat strategi yang salah!".
Pangeran ke 4 melihat Luin sebentar lagi sebelum melambaikan tangannya "Lupakan, aku tidak menghukum mu sekarang sebab kau harus membuat saran yang lebih baik untuk merebut Benteng Trock. Jika kau tidak memiliki saran yang lebih baik, aku tidak akan membiarkan kau pergi karena kesalahan hari ini!".
Luin berteriak tanpa ragu "Tuan, kekalahan ini sebab para pasukan ini sama sekali tidak terlatih, kenapa kita tidak melatih mereka lebih dulu sebelum menyerang?".
"Luin, kau tahu bukan bahwa aku tidak memiliki banyak waktu untuk merebut Kerajaan Kavaleri? Selama aku tidak bisa menyelesaikan tugas ini dengan batas waktu yang sudah ditentukan, itu sama dengan gagal! Lalu kau pikir berapa lama waktu yang diperlukan untuk melatih pasukan? Sebulan? 2 bulan?", kata pangeran ke 4 dengan dingin.
"4 hari sudah cukup, dengan bantuan Tuan Jerat dan 4000 pasukan elit dari Kerajaan Azeroth maka sudah cukup untuk melatih para pasukan ini. Kita tidak perlu membuat mereka menjadi pasukan elit, paling tidak cukup untuk berbaris dan tidak melarikan diri hanya akibat melihat rekan mereka yang mati!", teriak Luin.
Pangeran ke 4 mengangkat kepalanya menuju Jerat "Apakah kau bisa melakukannya?".
Jerat berlutut tanpa ragu, meskipun ia masih marah akibat kehilangan wakilnya namun Jerat menahan kemarahan tersebut "Selama pangeran yang memberikan tugas tersebut, Jerat akan melalukan yang terbaik untuk menyelesaikannya! Setelah 4 hari, 6000 pasukan ini paling tidak sudah bisa menjadi seorang prajurit yang sebenarnya dengan pelatihan yang aku miliki!".
Setelah itu pangeran ke 4 kembali ke tenda bersama Limo yang terus diam, sebenarnya orang yang paling marah atas kekalahan memalukan ini adalah pangeran ke 4. Namun ia tahu bahwa dirinya tidak bisa hanya marah melainkan mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu lalu meraih kemenangan, oleh karena itu pangeran ke 4 tidak menunjukkan kemarahannya sedikitpun.
Ketika pangeran ke 4 sudah pergi, Jerat membawa 4000 pasukannya untuk melatih 6000 pasukan ini.
Selain itu Jerat menemui Myro untuk mencari bantuannya, menurut Jerat dengan bantuan Falka maka mereka pasti bisa melatih pasukan ini jauh lebih cepat lagi.
Ia sudah melihat Falka yang berhasil menembak tangan Jendral Ritke sebelumnya, jadi Jerat sekalipun sangat kagum terhadap kemampuan panah Falka.
Myro tidak langsung menjawab hal tersebut melainkan menatap ke arah Falka, lagipula Myro membutuhkan keputusan Falka sebelum membuat keputusan ini.
Falka mengangguk setuju sehingga Myro juga memberikan izinnya, menurut Falka maka waktu ini merupakan waktu yang baik untuk melatih 400 Kavaleri Mongol miliknya agar tidak keberatan.
__ADS_1
Jerat bersama Falka dan pasukan mereka segera pergi untuk melatih 6000 penduduk yang dipersenjatai itu, tidak perlu menjadi pasukan elit, paling tidak 6000 pasukan ini tidak akan lari seperti kejadian sebelumnya.
Myro kembali ke tendanya bersama Ren dan ibunya, Ferbas memutuskan untuk pergi bersama para prajurit yang lain agar melatih kemampuannya yang sudah berkarat. Lagipula ia cukup lama tidak bertarung, jadi ini merupakan kesempatan yang baik baginya untuk mengembalikan ketajaman pedangnya lagi.
Saat baru kembali ke bagian tenda pasukan Myro yang kosong sebab hanya ada 3 dari mereka, pasukan yang lain pergi berlatih.
Ibu Myro memutuskan untuk melatih mengayunkan pedangnya sebentar, ia juga sudah lama tidak berlatih yang membuat Ibu Myro mencari sebuah lapangan yang cukup kosong di dekat tenda pasukan Myro serta mulai berlatih sendirian disana.
Sekarang hanya ada Myro dan Ren yang duduk di kursi kayu kecil yang ada pada tengah-tengah kumpulan tenda ini, sebenarnya ini merupakan tempat untuk menghidupkan api unggun ketika memasak ataupun pada malam hari agar mengurangi udara dingin.
Tetapi mereka belum harus memasak dan hari masih cukup jauh dari malam, mereka hanya duduk disini untuk menunggu pasukan kembali dari berlatih.
Myro tidak bisa untuk tidak bertanya agar bisa menghabiskan waktu dengan lebih cepat "Ren, kenapa kau tidak memberitahu rencana mu tadi? Aku yakin kau pasti memiliki rencana yang lebih baik daripada rencana yang dibuat Luin barusan. Bagaimanapun Luin sudah gagal, selama kau memberitahu pangeran ke 4 mengenai rencana mu maka ia mungkin mencobanya. Selama rencana yang kau berikan berhasil, pangeran ke 4 pasti memberimu hadiah".
Ren menggerak-gerakkan kipas lipat di tangannya sambil berkata "Kesombongan Luin sudah terpukul akibat kekalahan ini, tapi masih belum cukup! Sebagai anak Marquis dan lulusan terbaik akademi, ia pasti tidak membuang kesombongannya kecuali gagal lagi!".
"Jika aku memberitahu strategi milikku sekarang, maka Luin pasti menolak. Pangeran ke 4 lebih dekat dengan Luin, jadi ia pasti lebih memilih memakai strategi Luin daripada strategi milikku. Oleh karena itu, kenapa aku harus repot-repot memberi mereka strategi apabila tahu akan di tolak? Lebih baik menunggu hingga Luin terus kalah dan kehilangan kesombongannya, bahkan jika perlu maka sampai pangeran ke 4 putus asa. Hanya dengan cara itu, mereka akan mendengarkan saran ku dan menerimanya!".
Myro harus mengakui bahwa Ren benar-benar sudah memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, setidaknya Myro cukup yakin mengenai kesombongan Luin.
Kecuali ia terus kalah hingga kesombongannya hancur, Luin kemungkinan besar akan menolak semua rencana orang lain dan merasa strateginya sebagai 3 besar lulusan akademi strategi perang lebih baik daripada strategi Ren yang asalnya tidak jelas.
Kalau begitu, Myro masih harus menunggu sampai Luin kalah lagi sebelum bisa menunjukkan kehebatan pengikutnya.
Falka sudah menunjukkan kehebatannya dengan menembak tangan Jendral Ritke dari kejauhan, sekarang hanya perlu menunggu sampai waktunya bagi Ren untuk bersinar dan menunjukkan kemampuannya ke semua orang.
__ADS_1