PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 325 : DUKE PERANG


__ADS_3

Prajurit yang berlutut di depan Raja Azeroth VI berkata dengan pahit "Yang mulia, para pejabat dan penjaga perbatasan sama sekali tidak bisa disalahkan! Siapa pikir Kapten Sarvo yang merupakan kapten 10.000 pasukan pada divisi 1 mengkhianati kita, ia membantu dan ikut pergi bersama pasukan Jendral Kelrun meninggalkan Kerajaan Azeroth beberapa hari yang lalu! Ia membawa 10.000 pasukan miliknya dan bekerja sama dengan 35.000 pasukan Jendral Kelrun untuk meninggalkan Kerajaan Azeroth, dengan bantuan Kapten Sarvo, tidak ada seorangpun di perbatasan yang berani menghentikan mereka".


"Kapten Sarvo? Kenapa aku sepertinya pernah mendengar nama ini?", kata Raja Azeroth VI ragu-ragu.


Prajurit segera lanjut melaporkan "Yang mulia, Kapten Sarvo merupakan seorang prajurit muda berbakat dari Kerajaan Azeroth kita. Pada usia 25 tahun, ia berhasil menerima kepercayaan Raja Azeroth V dan menjadi kapten 10.000 pasukan dari divisi 1. Seperti apa yang diketahui semua orang, divisi 1 adalah pasukan terkuat milik Kerajaan Azeroth di antara 5 divisi lainnya. Oleh karena itu, setiap orang yang mampu menjadi kapten 10.000 pasukan pada divisi 1 pasti kuat dan cerdas. Setidaknya, bakat Kapten Sarvo telah diakui sejak muda! Sebagian besar kapten 10.000 pasukan divisi 1 yang lain pasti berusia di atas 30 tahun, oleh karena itu Kapten Sarvo cukup terkenal dan disebut-sebut mempunyai peluang paling besar menjadi jendral utama divisi 1".


Setelah mendengar perkataan prajurit itu, Raja Azeroth VI menjadi semakin bingung "Selama ia terus setia, Sarvo bisa menjadi pemimpin dari divisi 1, divisi terkuat di Kerajaan Azeroth. Kenapa ia memutuskan pergi ke wilayah Myro bersama pasukannya? Apakah Myro bisa memberikan kekuasaan yang lebih baik daripada pemimpin divisi 1?".


Sebelum prajurit tersebut menjelaskan, sosok Verlan muncul di ruangan tersebut "Yang mulia, tidak aneh jika Kapten Sarvo mengkhianati kita. Bagaimanapun di militer dulu, Sarvo adalah murid Jendral Kelrun. Bahkan kalau bukan bantuan dukungan Jendral Kelrun, Sarvo pasti tidak dapat naik jabatan secepat itu. Karena hal tersebut, orang-orang menganggap Sarvo sebagai anak angkat Jendral Kelrun! Saat mengetahui yang mulia membiarkan Kelrun tetap di Kota Bern, Sarvo pasti telah kehilangan kesetiaannya kepada yang mulia".


Wajah Raja Azeroth VI langsung menjadi suram ketika mendengar penjelasan Verlan, ia menutup matanya dan berkata "Verlan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Dimana perdana menteri? Jika terus seperti ini, banyak sekali anggota militer kerajaan yang akan mengkhianati kita mengingat Jendral Kelrun memiliki banyak murid di militer Kerajaan Azeroth. Kita harus menyiapkan rencana baru untuk menahan murid-murid Jendral Kelrun supaya tidak memberontak, jangan sampai kejadian Sarvo kembali terjadi".


Melihat kekhawatiran Raja Azeroth VI, Verlan tersenyum percaya diri "Yang mulia tidak perlu khawatir, tidak semua murid Jendral Kelrun akan memberontak. Kejadian Sarvo tidak akan terulang lagi, bagaimanapun Sarvo merupakan anak angkat Jendral Kelrun sehingga tidak aneh ia memberontak, tapi yang lainnya cuma murid sehingga mereka tidak akan seberani itu untuk melawan Kerajaan Azeroth. Sedangkan perdana menteri, ia sekarang tidak berada di istana".


"Dimana perdana menteri?", tanya Raja Azeroth VI sedikit marah "Ketika keadaan Kerajaan Azeroth menjadi semakin buruk, kemana ia pergi?".


"Perdana menteri sedang mengatasi perlawanan Duke Perang untuk yang mulia", kata Verlan menjelaskan "Meskipun kabar buruk terus terjadi pada Kerajaan Azeroth, besok yang mulia akan mendengar kabar baik yaitu perlawanan Duke Perang akan berakhir!".


"Apakah kau yakin?", kata Raja Azeroth VI ragu-ragu sebab Duke Perang merupakan masalah terbesar mereka.

__ADS_1


Jika bukan gangguan Duke Perang, orang yang membawa mayat Kelrun kembali bukan Myro, melainkan dirinya. Oleh karena itu, Raja Azeroth VI tidak yakin perdana menteri dapat menyelesaikan masalah dengan mudah.


Verlan mengangguk tegas "Yang mulia tidak perlu khawatir, perdana menteri memang sudah cukup tua, tapi ia dulunya dikenal sebagai orang paling cerdas di Kerajaan Azeroth. Saat perdana menteri bergerak, Duke Perang sekalipun harus menyerah!".


...----------------...


Jauh dari Ibukota Kerajaan Azeroth, Kediaman Duke Perang.


Sebagai Duke yang terkenal di Kerajaan Azeroth, Duke Perang tentunya memiliki kekayaan yang besar, kekuatan militer kuat serta kekuasaan di banyak kota.


Tapi sejak divisi 2 dan 3 bersama pasukan gabungan bangsawan Kerajaan Azeroth menyerang wilayahnya, Duke Perang terus mengalami kekalahan serta lebih dari setengah kota miliknya jatuh ke tangan Kerajaan Azeroth.


Bukan hanya itu, Duke Perang kehilangan banyak sekali pasukan. Saat ini, ia hanya mempunyai 200.000 pasukan yang masih bertahan.


Walaupun Duke Perang telah melalui banyak medan perang serta mempunyai banyak strategi hebat, ia juga memiliki ratusan ribu pasukan elit. Tetapi dibandingkan divisi 2 dan divisi 3 Kerajaan Azeroth, ia sama sekali bukan lawan.


Duke Perang berada di ruang kerjanya, ia duduk di kursi dan sibuk menatap dokumen yang ada pada tangannya.


Sekalipun berada di villanya, Duke Perang tetap memakai baju besi sebab ia tahu, musuh mungkin mengirim pembunuh.

__ADS_1


Lagipula apabila Duke Perang mati, pasukannya pasti berhenti bertarung sehingga tidak aneh kalau ia ditargetkan oleh pembunuh musuh.


Duke Perang terlihat seperti seorang pria tua berusia 50 tahun dengan rambut putih panjang serta wajah tegas, aura menakutkan seorang prajurit bisa dirasakan dari seluruh tubuhnya.


Sewaktu Duke Perang sibuk mengamati dokumen di tangannya, pintu ruang kerja terbuka dan seorang pria berusia sekitar 30 tahun dengan rambut emas pendek berjalan mendekati Duke Perang tanpa ketakutan sedikitpun "Kakek, kenapa kau memanggilku? Apakah kau akhirnya berhasil mengalahkan Raja Azeroth VI dan waktunya bagiku untuk naik ke atas tahta?".


Duke Perang menatap pria di depannya penuh rasa tidak senang, jika bukan karena pria di depannya ini adalah cucunya sendiri serta anak dari Raja Azeroth V, ia pasti sudah membunuhnya atas sikap tidak sopan.


Benar, pria di depan Duke Perang tidak lain adalah pangeran ke 1, cucu dari Duke Perang.


Menarik nafasnya, Duke Perang berkata "Duduk!".


Pangeran ke 1 duduk di kursi depan meja kerja Duke Perang, ia mengambil gelas teh yang sudah disiapkan untuknya pada bagian atas meja kerja sebelum berkata "Kakek, seperti yang aku katakan, kenapa kau membuatku datang kesini? Seperti yang kakek tahu, aku sedang makan siang bersama teman-teman bangsawan ku yang lain. Oleh karena itu, jika pembicaraan kakek bukan sesuatu yang penting, aku harus pergi".


Duke Perang hampir meledak marah, pangeran ke 1 ini jauh lebih buruk dari semua pangeran lain.


Ia adalah orang sombong yang merasa tahta Kerajaan Azeroth adalah miliknya sebab ia anak yang paling tua, padahal ia tidak memiliki kemampuan atau bakat apapun.


Bukannya belajar, setiap hari pangeran ke 1 selalu berkumpul bersama anak muda dari keluarga bangsawan atau pejabat untuk makan malam atau pesta sehingga baik ia tidak mampu bertarung ataupun mempunyai kecerdasan untuk menjadi raja.

__ADS_1


Jika bukan dukungan kakeknya yaitu Duke Perang, pangeran ke 1 tidak akan mempunyai kesempatan sedikitpun menjadi raja.


Duke Perang menghela nafas dan mulai menyesal, ia benar-benar bodoh sebab telah mendukung pangeran seperti ini untuk menjadi raja "Kau tidak perlu khawatir, kakek tidak akan berbicara terlalu lama bersamamu".


__ADS_2