PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 22 : APA YANG PALING PENTING BAGI SEORANG AHLI STRATEGI


__ADS_3

Dengan ditentukannya rencana peperangan besok, semua orang yang ada di ruangan itu kembali ke tenda pasukan mereka masing-masing.


Walaupun pangeran ke 4 mengajak Myro ke pertemuan tersebut, pada akhirnya semua orang menganggap Myro seperti tidak ada. Lebih tepatnya mereka masih meremehkan Myro yang hanya seorang anak Baron, lagipula orang yang memiliki jabatan terendah di ruangan itu adalah anak dari seorang Earl yang berkuasa di Provinsi Utara. Tidak aneh apabila orang-orang itu meremehkan pendapat Myro, jadi alasan ini juga yang membuat Myro memutuskan untuk tidak banyak berbicara di pertemuan tadi.


Sedangkan untuk Firhel, seorang wanita yang memimpin pasukan logistik maka Myro yakin wanita ini pasti memiliki latar belakang lain. Paling tidak wanita ini harus memiliki hubungan dekat dengan pangeran ke 4 baik itu temannya ataupun wanitanya, jika tidak maka ia tidak mungkin mendapatkan posisi sepenting itu dari pangeran.


Ketika sedang bejalan kembali, Myro tidak bisa untuk tidak bertanya pada Ren yang mengikuti di belakangnya "Ren, menurutmu bagaimana rencana tadi? Aku merasa rencana lautan manusia itu cukup baik, namun aku sebelumnya menemukan bahwa kau menggelengkan kepala tidak setuju. Apakah menurutmu rencana milik Luin itu salah?".


Falka yang ada di samping ikut menatap Ren penasaran, ia sama sekali tidak memiliki kecerdasan untuk membuat strategi yang baik sehingga ia sangat tertarik untuk mendengar pendapat Ren.


Ren yang dari tadi diam membuka kipas lipat di tangannya, ia menutupi mulutnya memakai kipas lipat itu "Aku harus mengakui bahwa rencana ini cukup baik, setidaknya hal ini membuktikan bahwa Luin benar-benar belajar di akademi dan mendapatkan nilai dengan kecerdasannya sendiri, bukan memakai uang ataupun kekuasaan ayahnya yang seorang Marquis. Jika ia tidak pernah belajar, ia tidak mungkin bisa membuat strategi yang cukup baik untuk seorang pemula seperti ini. Tetapi, ia melakukan kesalahan besar!".


"Kesalahan besar?", tanya Myro dengan hati-hati sebab ia tidak bisa menemukan kesalahan pada strategi lautan manusia ini "Kesalahan besar apa? Kenapa aku tidak bisa menemukannya dari rencana tersebut?".


Ren melangkah maju ke depan Myro, setelah itu ia berbalik untuk berhadapan langsung dengan Myro, karena Ren berdiri di depannya maka Myro harus berhenti melangkah maju.


"Tuan, buku dan medan perang itu berbeda!", kata Ren dengan tegas "Luin membuat strategi hanya berdasarkan buku yang ia baca, tapi ia tidak melihat langsung menuju ke medan perang sebenarnya. Strategi lautan manusia memang sangat baik, setidaknya kita memiliki jumlah pasukan 5 kali lipat dari musuh yang merupakan keadaan menguntungkan untuk memakai strategi ini jika berdasarkan pada buku, namun masalahnya Luin melupakan sebuah hal yang tidak dijelaskan pada buku yaitu pasukan kita bukanlah para prajurit terlatih melainkan penduduk yang dipersenjatai!".

__ADS_1


"Para penduduk itu berbeda dari pasukan elit, kita menang di kuantitas tapi kalah pada kualitas! Oleh karena itu, kita sama seperti ombak yang berusaha menghancurkan istana pasir! Walaupun begitu, istana yang kita hancurkan bukanlah istana pasir melainkan sebuah istana besi!".


Baik itu Myro ataupun Falka sedikit bingung terhadap penjelasan Ren, tentunya Ren juga bisa melihat semua itu.


Apabila itu orang lain, maka Ren tidak akan repot-repot untuk menjelaskan lebih banyak lagi yang menghabiskan waktu serta tenaganya. Tapi orang di depannya ini adalah tuannya, jadi Ren kembali berkata "Tuan, apakah anda tahu apa yang paling penting bagi seorang ahli strategi?".


"Belajar?", jawab Myro dengan ragu.


"Belajar memang penting namun ada sebuah hal yang lebih jelas lagi yaitu mempelajari tentang perasaan manusia, bukan hanya sebuah strategi!", kata Ren yang menutup kipas lipat di tangannya "Kita harus memahami perasaan dari musuh kita, pasukan kita, dan rekan kita untuk memenangkan medan perang. Para penduduk ini bukan seorang prajurit terlatih, saat menemukan kematian rekan mereka maka para penduduk ini pasti ketakutan. Apakah seorang penduduk yang setiap hari pergi ke ladang ataupun bekerja di kota bisa memiliki keberanian untuk menyerang tembok kota musuh setelah melihat rekan mereka mati dengan mata mereka sendiri? Selama prajurit tidak berani maju, bagaimana kita bisa menang?".


Myro perlahan-lahan mengerti, ia berencana untuk mengatakan sesuatu namun Ren langsung menghentikannya "Tuan pasti mengerti besok dengan lebih jelas lagi mengenai apa yang aku ceritakan sekarang!".


Myro dan Falka hanya bisa saling menatap, lalu Falka menghela nafas "Nona Ren memang sangat menakutkan, sebagai tentara bayaran yang sudah sering di medan perang maka aku mengerti bahwa semua yang Nona Ren katakan itu benar. Tetapi waktu mendengar penjelasan Luin di awal, aku merasa bahwa rencana strategi lautan manusia merupakan rencana yang sangat baik, meskipun begitu saat aku mendengar penjelasan Nona Ren maka aku menyadari bahwa rencana Luin memiliki banyak kelemahan!".


Myro mengangguk, ia sebelumnya berpikir bahwa rencana Luin tidak memiliki celah, namun siapa yang berpikir bahwa Ren bisa mengetahui semua celah di rencana Luin dengan mudah. Nampaknya Ren yang menjelaskan bahwa ia merupakan ahli strategi pada awal bertemu Myro sama sekali bukan sebuah kebohongan.


Mereka kembali ke tenda sebelum menjelaskan semua rencana besok pada Ibu Myro dan Ferbas, lalu semua orang kembali tidur di tenda masing-masing untuk perang besok.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan harinya, semua pasukan membersihkan tenda-tenda yang ada dengan cepat ketika matahari belum terbit. Mereka semua mulai sarapan lalu berangkat, pangeran ke 4 hanya diberi waktu 3 bulan untuk merebut seluruh Kerajaan Kavaleri, oleh karena itu ia tidak tertarik untuk membuang-buang banyak waktu disini.


Belasan ribu prajurit mulai berkumpul lalu bergerak dengan cepat menuju Kerajaan Kavaleri, mereka melewati beberapa kota bangsawan di tengah jalan, di antaranya merupakan Kota Aras. Walaupun begitu, Myro sama sekali tidak memperdulikan Kota Aras sebab ia sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan kota ini.


...----------------...


Mereka tiba di depan Benteng Trock pada siang hari, mereka sudah berangkat sebelum matahari terbit sehingga tidak ada masalah untuk tiba disini sekitar tengah hari.


Dengan saran Jerat, para pasukan tidak segera menyerang melainkan beristirahat dan makan dulu sebelum mulai berbaris lagi setelah 2 jam.


7000 pasukan gabungan bangsawan segera berbaris sedangkan para anak bangsawan hanya berdiri di samping, para anak bangsawan ini sama sekali tidak memiliki keberanian untuk memimpin medan perang secara langsung sehingga mereka hanya menonton pasukan mereka yang siap menyerang.


Sedangkan pasukan Myro tidak ikut di peperangan ini, kavaleri tidak cocok untuk menyerang tembok kota dan baik itu pangeran ke 4 ataupun Luin mengerti hal itu yang membuat mereka tidak membawa pasukan Myro di penyerangan kali ini.


Pangeran ke 4 berdiri di depan seluruh pasukan gabungan bangsawan dan elit kerajaan ini, ia menunjuk ke arah benteng berwarna hitam di belakangnya sebelum berteriak "Waktunya sudah tiba, para prajurit pemberani ku! Ayo kita tunjukkan kepada Kerajaan Kavaleri ini, kekuatan para harimau utara dari Kerajaan Azeroth! Kita akan membawa kemenangan kembali menuju Kerajaan Azeroth lalu membawa kembali kemuliaan!".

__ADS_1


"Aaaaa!", teriak para prajurit dengan penuh semangat, mereka sudah bermimpi untuk membawa kembali kemenangan dan di sambut ketika kembali ke Kerajaan Azeroth tanpa memikirkan mengenai resiko kematian di medan perang ini.


__ADS_2