PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 23 : KENAPA KERAJAAN AZEROTH MEMBAWA PARA PEMULA INI BERPERANG?


__ADS_3

Melihat para prajuritnya yang berteriak penuh semangat, senyuman percaya diri muncul di wajah pangeran ke 4.


Ia berjalan ke arah seorang pria dari prajurit elit Kerajaan Azeroth yang bertugas memimpin 7000 pasukan ini. Bagaimanapun 7000 pasukan ini hanyalah penduduk yang dipersenjatai sehingga mereka sama sekali tidak bisa memimpin medan perang, oleh karena itu pangeran ke 4 memilih wakil Jerat sebagai pemimpin 7000 pasukan ini.


"Aku serahkan kepadamu", kata pangeran ke 4 dengan senyum ramah.


"Sebuah kehormatan bisa mendapatkan kepercayaan pangeran, aku pasti menjatuhkan Benteng Trock walaupun harus memakai hidupku!", teriak wakil Jerat itu dengan senang, lagipula tidak semua orang bisa mendapatkan kepercayaan pangeran.


"Jangan kecewakan aku, tunjukkan semua yang sudah kau pelajari sebagai wakilku selama puluhan tahun ini", kata Jerat yang memegang pundak wakilnya tersebut.


"Aku pasti tidak mengecewakan kapten", kata pria itu penuh semangat.


Pangeran ke 4 dan Jerat pergi untuk berdiri di samping, lalu pangeran ke 4 berkata "Kalian bisa mulai!".


Wakil Jerat mengangguk, karena ia sudah mendapatkan izin pangeran ke 4 maka ia menarik pedangnya tanpa ragu "Seluruh prajurit, dengarkan! Tunjukkan keberanian pasukan dari Kerajaan Azeroth, hari ini kita akan mengubah warna Benteng Trock yang berwarna hitam menjadi merah darah dengan darah para musuh kita! Seluruh pasukan, serang!".


"Serang!", teriak 7000 pasukan tersebut yang menarik senjata mereka.


Setelah itu 7000 orang ini bergegas maju di bawah kepemimpinan wakil Jerat, tanpa formasi atau apapun, mereka hanya maju ke depan membawa senjata mereka serta tangga. Lagipula Benteng Trock terlalu tinggi, tidak mungkin untuk tidak memakai tangga jika berusaha naik ke atas Benteng Trock.


Ren yang ada di belakang Myro segera menggelengkan kepalanya "Semua pertarungan ini sudah berakhir!".


Myro hanya tetap berdiri diam di samping, ia penasaran apakah semuanya benar-benar seperti yang Ren katakan kemarin.


Di atas tembok kota, Jendral Ritke yang merupakan seorang pria berusia 40 tahun dengan rambut coklat pendek serta tubuh yang cukup kurus melihat serangan pasukan Kerajaan Azeroth dengan wajah suram.


"Apa yang sedang dipikirkan Kerajaan Azeroth? Kenapa mereka membawa para pemula ini ke medan perang? Apakah Kerajaan Azeroth meremehkan kita atau benar seperti informasi yang kita dapatkan bahwa pemimpin perang ini hanyalah seorang pangeran yang belum pernah berperang sebelumnya", kata Jendral Ritke sambil berpikir, tiba-tiba sebuah senyuman muncul di wajahnya "Apabila aku bisa menangkap pangeran itu maka mungkin bisa ditukar dengan banyak uang dari Kerajaan Azeroth".


Jendral Ritke menarik pedangnya sebelum berteriak ke arah 2000 pasukan yang ada di sekitarnya "Kalian semua bersiap, walaupun musuh memiliki jumlah yang lebih besar daripada kita tapi mereka semua hanyalah pemula yang diberi senjata, mereka sama sekali bukan lawan pasukan elit seperti kita! Tunjukkan kepada mereka, kenapa Benteng Trock ini bisa bertahan selama bertahun-tahun dari serangan Kerajaan Azeroth!".


"Aaaaa", 2000 pasukan penjaga Benteng Trock berteriak penuh semangat, meskipun jumlah pasukan musuh lebih banyak dari mereka namun tidak ada sedikitpun ketakutan di wajah para prajurit ini.

__ADS_1


Mereka sudah menjadi pasukan selama puluhan tahun dan melewati banyak medan perang, oleh karena itu hal ini sama sekali tidak bisa membuat mereka takut.


Para pasukan penjaga tembok kota langsung menarik busur di tangan mereka dan menembak ke arah pasukan Kerajaan Azeroth, hujan panah segera terjadi.


Dihadapan hujan panah ini, 7000 pasukan itu hanya bisa berdiri dengan ketakutan. Sedangkan beberapa orang yang memiliki reaksi lebih cepat langsung mengangkat perisai mereka untuk menahan panah tersebut.


"Stab!".


Puluhan orang terbunuh akibat tertusuk anak panah, wakil Jerat yang berhasil menahan panah itu memakai perisai di tangannya berteriak "Jangan takut, kemenangan ada di depan mata! Terus maju!".


Wakil Jerat melangkah maju lagi sambil terus mengangkat perisainya untuk berjaga-jaga, namun ia tiba-tiba menyadari sesuatu bahwa 7000 pasukan di belakangnya sama sekali tidak mengikuti gerakannya.


Wajah wakil Jerat menjadi sangat suram, ia berteriak ke arah pasukan di belakangnya "Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian tidak mendengar aku mengatakan untuk terus maju?".


Tidak peduli bagaimana wakil Jerat berteriak, maka pasukan ini tidak melangkah maju.


Lagipula sebelum pergi berperang ini, mereka hanyalah penduduk yang belum pernah melihat mayat sebelumnya. Jadi mereka semua sangat ketakutan waktu melihat rekan mereka yang mati, bahkan di antara beberapa pasukan, ada mereka yang muntah akibat tidak tahan melihat kejadian berdarah tersebut.


"Aku tidak bisa mati disini! Aku masih memiliki keluarga di rumah!", teriak seorang prajurit di antara 7000 pasukan itu.


Seluruh medan perang menjadi diam, lalu reaksi longsoran salju segera terjadi.


Para pasukan ini berteriak ketakutan lalu berbalik untuk melarikan diri dari sini, tidak ada ketertiban militer sedikitpun karena mereka memang belum pernah dilatih sebagai prajurit.


Melihat 7000 pasukan yang langsung runtuh dan melarikan diri, semua orang membeku. Bahkan Jendral Ritke tidak bisa berkata-kata, ia tidak pernah berpikir bahwa 7000 pasukan ini terlalu lemah seperti ini.


Jendral Ritke kembali sadar, ia tahu bahwa ini merupakan kesempatan sehingga ia berteriak "Tembak! Bunuh sebanyak mungkin musuh sebelum mereka pergi dari jarak daerah panah kita!".


Mendengar teriakan jendral mereka, 2000 pasukan Kerajaan Kavaleri kembali sadar. Mereka menarik panah mereka untuk menembak pasukan Kerajaan Azeroth yang mencoba melarikan diri ini.


Wajah wakil Jerat menjadi putih seperti kertas, ia berteriak-teriak marah terhadap para pasukan yang melarikan diri ini "Apa yang kalian lakukan? Selama kalian terus melangkah maju maka kita bisa menang, tapi siapapun yang mundur pasti dijatuhkan hukuman militer, pada akhirnya kalian pasti di hukum mati--".

__ADS_1


"Stab!".


Sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya, sebuah panah menusuk tubuh wakil Jerat tersebut. Tida lama kemudian, beberapa panah lainnya mengikuti hingga kurang lebih 5 panah menusuk tubuh wakil kapten Jerat.


Ia sudah terlalu marah hingga lupa bahwa dirinya masih ada di wilayah panah musuh, wakil Jerat menundukkan kepalanya untuk menemukan 5 panah yang menusuknya.


Wakil Jerat memuntahkan seteguk darah, sejak ia menjadi wakil Jerat maka ia berpikir dirinya memiliki masa depan yang cerah, setidaknya ia bisa terus memimpin medan perang lalu naik jabatan hingga menjadi seorang pemimpin.


Tapi siapa yang berpikir bahwa ia mati di tempat seperti ini, wakil Jerat menatap ke langit untuk terakhir kalinya sebelum berteriak "Kemuliaan bagi Kerajaan Azeroth".


Setelah itu tubuhnya jatuh ke tanah, tidak mungkin baginya untuk bertahan hidup setelah ditembak 5 anak panah seperti itu.


Melihat pasukan Kerajaan Azeroth yang terus ditembak jatuh oleh panah, Myro berkata "Falka, aku tidak senang melihat rekan kita di tembak seperti hewan buruan. Meskipun kita tidak saling mengenal, bagaimanapun kita berada di kelompok yang sama sekarang. Beri pasukan musuh peringatan".


Mendengar hal tersebut, Falka mengangguk "Aku mengerti tuan".


Falka turun dari kudanya lalu melangkah maju sambil membawa busurnya. Walaupun ada banyak pasukan yang melarikan diri melewatinya, Falka sama sekali tidak peduli.


Ia meletakkan sebuah anak panah di busurnya sebelum membidik ke atas tembok kota musuh, kemudian ia melepaskan tali busur yang ia tarik.


Panah yang Falka tembakkan terbang dengan cepat menuju Tembok Benteng Trock, lalu sesuatu yang mengejutkan semua orang terjadi.


"Stab!".


Jendral Ritke yang ada di atas tembok jatuh duduk di tanah akibat sebuah panah menusuk tangannya, seluruh pasukan di atas tembok kota terkejut melihat hal tersebut "Jendral Ritke!".


Mereka yang tadinya terus menembak panah ke arah 7000 pasukan musuh menghentikan gerakan mereka sebab khawatir terhadap keadaan jendral mereka.


Jendral Ritke tidak memperdulikan teriakan para prajuritnya, melainkan ia menatap ke arah sekitar medan perang untuk menemukan siapa orang yang menembakkan panah ini ke arah dirinya.


Tiba-tiba mata Ritke akhirnya jatuh pada tubuh Falka yang ada di tengah medan perang.

__ADS_1


Falka menurunkan busurnya, ia menemukan bahwa Ritke menatap ke arah dirinya sehingga Falka tidak bisa untuk tidak membuka mulutnya "Ini hanya peringatan, berikutnya akan menjadi kematian mu!".


Walaupun posisi mereka sangat jauh yang membuat Ritke tidak mungkin mendengarkan apa yang dikatakan Falka, tapi ia bisa mengetahuinya dengan membaca gerakan pada mulut Falka tersebut.


__ADS_2