
Myro bersama hampir 10.000 pasukannya sudah menunggu di dekat Benteng Rulfes, tapi mereka tidak berani terlalu dekat sebab takut diketahui oleh musuh.
Walaupun malam sangat gelap, tapi jika puluhan ribu pasukan terlalu dekat dari Benteng Rulfes maka keberadaan mereka pasti diketahui.
Ketika Myro sedang menunggu dengan diam di bawah kegelapan malam, akhirnya suara teriakan peperangan terdengar dari Benteng Rulfes.
Meskipun posisi mereka jauh, namun suara teriakan itu masih bisa terdengar sedikit.
Mata Myro yang ada di bawah penutup kegelapan malam bersalju bersinar, ia menarik pedang yang ada di pinggangnya sebelum berteriak "Seluruh pasukan serang! Hari ini kita akan membuat sejarah baru, merebut Benteng Rulfes hanya dengan waktu 1 malam!".
"Serang!", teriak prajurit di depan Myro penuh semangat.
Myro yang memakai kudanya memimpin Kavaleri Mongol lebih dulu bersama Ren dan Lopen, sedangkan Gladius bersama Legiun Romawi, Penjaga Praetorian dan pasukan baru milik Retya segera mengikuti bersama Infanteri salju serta pasukan Loir.
Tindakan Myro mungkin sangat berisiko sebab Kavaleri Mongol bergerak terlalu cepat, hal ini membuat pasukan infanteri hanya bisa tertinggal di belakang.
Tetapi Myro tidak memiliki pilihan lain, jika mereka terlambat maka Falka dan Retya mungkin terbunuh lalu mereka gagal merebut Benteng Rulfes.
Myro tidak keberatan gagal merebut Benteng Rulfes, bagaimanapun ia bisa terus mencoba selama memiliki pasukan yang cukup.
Namun selama Myro kehilangan Retya dan Falka ataupun seseorang dari mereka, itu adalah kerugian paling besar sebab Myro sama dengan kehilangan seorang jendral berbakat di sampingnya.
Oleh karena itu, Myro harus bergerak secepat mungkin sebelum kehilangan jendral hebatnya.
...----------------...
Di atas tembok Benteng Rulfes, Falka melangkah maju bersama Kavaleri Mongol di belakangnya.
Melihat gerakan Falka, kapten tembok Benteng Rulfes lambung mengetahui tujuan mereka "Hentikan musuh! Jangan biarkan mereka mendekati alat pembuka gerbang!".
__ADS_1
Di bawah perkataan kapten, 500 pasukan di atas tembok Benteng Rulfes mulai melangkah maju.
"Slash!".
Falka menebas pedangnya tanpa ragu dan 2 prajurit terbunuh akibat serangan tersebut, lalu ia terus menebas pasukan yang ada di depannya tanpa henti.
Di bawah serangan ganas Falka bersama Kavaleri Mongol, 500 prajurit ini sama sekali bukan lawan.
Sang kapten yang melihat semua itu memutuskan melangkah maju ke arah Falka sambil mengambil pedangnya "Mati, para penjahat!".
"Tang!".
Falka menahan serangan pedang kapten dengan mudah, lalu ia menendang perut kapten yang membuatnya jatuh ke tanah dan menusuk jantung kapten.
"Stab!".
Kapten membuka matanya lebar-lebar penuh rasa tidak percaya, sebagai orang yang bisa ditunjuk menjadi pemimpin 500 pasukan, ia pasti memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Tapi pada akhirnya, Falka bisa membunuhnya dengan mudah.
Falka menarik pedangnya dari tubuh kapten dan terus membunuh musuh yang ada di sekitarnya.
Ketika ia lepas dari pengepungan 500 orang, seluruh tubuh Falka sudah dipenuhi oleh darah.
Tapi Falka mengabaikan semua darah di tubuhnya dan berlari menuju orang-orang yang masih mencoba menutup kembali gerbang.
Sekarang gerbang Benteng Rulfes sudah setengah tertutup, para prajurit yang mencoba terus menutup gerbang menemukan Falka yang mendekat bersama beberapa Kavaleri Mongol sehingga mereka mencoba melawan.
Perlawanan mereka dihadapan kekuatan Falka sama sekali tidak ada artinya, mereka dikalahkan dengan mudah lalu Falka membiarkan 5 Kavaleri Mongol membuka kembali gerbang sebesar mungkin.
"Krak!".
__ADS_1
Wajah penasihat yang baru muncul dari benteng berubah saat menemukan gerbang kembali terbuka.
Ia menatap ke arah para prajurit di sekitarnya yang berdiri dengan bodoh akibat gerbang yang kembali terbuka, mereka tidak mengerti kenapa gerbang kembali dibuka, padahal tadi sudah hampir ditutup.
Penasihat meledak marah terhadap tindakan para prajurit ini "Apa yang kalian lakukan? Musuh mencoba membuka kembali gerbang, mereka sudah berhasil merebut tembok benteng tapi kalian masih berdiri bodoh disini? Pergi! Rebut kembali tembok benteng!".
Para prajurit itu kembali sadar, mereka bergegas menuju tangga untuk naik ke atas tembok kota namun menemukan Retya bersama 200 pasukannya masih berdiri diam disana menjaga tangga tersebut.
Di sekitar Retya, terdapat kurang lebih 400 mayat. Di antara semua mayat tersebut, Retya sendiri sudah membunuh hingga 100 pasukan yang menunjukkan seberapa menakutkan kekuatan yang ia miliki.
Walaupun begitu, nafas Retya sudah sangat berat sekarang. Tidak peduli seberapa kuat dirinya, ia masih manusia. Menurut Retya, ia paling banyak bisa mempertahankan tangga ini selama 5 menit.
Ketika pasukan musuh masih disibukkan oleh Retya, suara langkah kaki kuda terdengar.
Wajah para prajurit Benteng Rulfes berubah sebab mereka tahu bantuan pasukan musuh sudah datang, dari berat suara langkah kaki kuda ini maka jumlah pasukan musuh sekitar 1000 lebih yang membuat mereka semakin panik.
"Cepat! Tutup gerbangnya sebelum musuh datang!", teriak penasihat yang menjadi semakin panik dengan semakin dekatnya musuh.
"Penasihat tidak perlu khawatir, kami akan mengatasi ini", kata seorang Orc tinggi yang ada di samping penasihat, lalu ia melangkah maju bersama 1000 pasukan Orc menuju Retya.
1000 pasukan Orc ini lebih tinggi daripada pasukan Orc lain di sekitar, selain itu mereka juga memiliki aura yang lebih kuat.
Pasukan Orc ini tidak lain adalah Kavaleri Serigala yang di bawa putra mahkota, kapten Kavaleri Serigala ini melangkah maju ke depa Retya sambil membawa sebuah pedang besar yang lebih tinggi daripada 2 meter dipundaknya "Wanita, aku harus mengakui kau sangat kuat! Meskipun 100 pasukan yang kau bunuh bukan elit, tapi aku sekalipun tidak bisa membunuh 100 orang sendirian seperti dirimu".
"Apabila kita bertarung dengan adil, aku mungkin bukan lawan mu. Tapi kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri karena berani menyerang Benteng Rulfes hanya membawa 400 pasukan, aku tidak tahu apakah tuan mu sangat bodoh? Ia mengirim jendral sehebat dirimu hanya untuk mati disini, benar-benar bodoh! Kalian semua, bunuh semua pasukan musuh yang lain, aku akan melawan wanita ini!".
"Baik, kapten!", 1000 pasukan di belakang kapten bergegas maju melawan 200 pasukan di belakang Retya.
Wajah Falka yang ada di atas tembok kota menjadi suram, mereka masih sibuk melawan 500 pasukan penjaga tembok kota yang masih hidup sehingga tidak bisa memberikan bantuan kepada Retya dan pasukannya. Jika terus seperti ini, ada kemungkinan Retya akan mati.
__ADS_1
Melihat Retya yang hanya diam, senyum bercanda muncul di wajah kapten Kavaleri Serigala "Wanita kecil, jangan bilang kau sudah takut sekarang sebab tidak bisa melihat kesempatan menang? Tidak perlu khawatir, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit lalu menggagalkan rencana bodoh tuan mu itu!".
Retya yang menundukkan kepalanya perlahan-lahan mengangkat kembali wajahnya menatap kapten Kavaleri Serigala, mata merah miliknya terlihat di bawah kegelapan malam bersalju dan suara marah Retya bisa terdengar "Aku tidak peduli apa yang kau katakan tentang diriku, tapi sejak kau mengejek tuanku, kau harus siap kehilangan kepalamu!".