
Melihat laba-laba yang tidak berani bergerak maju, semua orang terkejut. Bukan hanya musuh, melainkan Retya bersama 1000 Pasukan Kemenangan ikut terkejut.
Tetapi tidak lama kemudian, Retya sadar lebih dulu. Ia melambaikan tangannya dan berteriak "Angkat senjata kalian! Bunuh semua pasukan pasukan musuh!".
Bersamaan dengan teriakan Retya, semua orang kembali sadar.
Retya memimpin gerakannya lebih dulu, kali ini ia memakai tombak dan menusuk ke arah Kerzan.
Ribuan pasukan di sekitar Retya mengikuti gerakannya, mereka mengangkat tombak dan menusuk ke arah kavaleri laba-laba.
Pemanah yang ada di belakang mulai menembak, hujan panah jatuh ke arah pasukan kavaleri musuh.
"Stab!".
Banyak pasukan kavaleri laba-laba yang tidak siap segera tertembak oleh panah atau tombak pasukan Retya, mereka tidak pernah berpikir laba-laba jinak yang selalu mereka gunakan akan melawan kali ini. Oleh karena itu, banyak pasukan musuh terbunuh di gelombang awal serangan.
Kerzan yang merupakan seorang jendral dan mempunyai banyak pengalaman di medan perang bergerak tepat waktu, ia melompat dari laba-laba nya dan berputar di tanah.
Meskipun laba-labanya tertusuk banyak tombak dan panah musuh sampai mati, setidaknya ia tetap bertahan hidup.
Tidak berani membuang waktu, Kerzan berdiri tanpa peduli terhadap semua luka di tubuhnya.
Melihat ratusan pasukan kavaleri laba-laba yang terbunuh sebelum perang di mulai, Kerzan berkata penuh kebingungan "Apa yang sebenarnya terjadi disini?".
Selama berperang, Kerzan tidak pernah mengalami kekalahan seburuk ini. Mereka belum membunuh seorangpun di pihak musuh, tidak, bahkan mereka belum mendekati musuh. Namun kurang lebih 100 pasukan elit kavaleri laba-laba telah terbunuh, Kerzan merasa dirinya sedang bermimpi, mimpi yang sangat buruk.
Torn di sisi lain membuka mulutnya lebar-lebar tidak percaya, ia bertanya dengan ragu "Apa yang terjadi disini? Sebenarnya apa yang tuan lakukan kepada laba-laba musuh hingga tidak berani bergerak maju? Apakah tuan sebenarnya menjinakkan laba-laba musuh secara diam-diam".
__ADS_1
"Aku tidak mungkin melakukan hal tersebut secepat itu, penjinak hewan terbaik dari markas sekalipun tidak dapat mengendalikan 1000 monster laba-laba hanya dengan waktu sehari", kata Myro menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kenapa?", tanya Torn yang tidak mampu menahan rasa penasarannya.
Mereka selalu berperang melawan Dark Elf namun tidak pernah berhasil membuat strategi yang dapat mengalahkan musuh, sedangkan Myro dan Ren disini cuma mengamati Dark Elf sebentar dan berhasil membuat strategi yang tepat. Torn merasa sedikit tidak percaya, apakah Dwarf memang selemah itu?
Myro tidak menjawab melainkan Ren yang ikut menonton dari samping memberikan jawaban kepada Torn "Laba-laba membenci aroma yang dihasilkan oleh Eucalyptus, oleh karena itu mereka tidak berani melangkah maju akibat 20 Eucalyptus muda yang berada di depan pasukan Retya".
Myro mengangguk "Dengan kekuatan, kau bisa mengalahkan musuh mu. Sedangkan memakai kecerdasan, kau mampu memenangkan medan perang sekalipun pasukan di pihak mu lebih sedikit. Itu adalah apa yang aku pelajari selama bertahun-tahun meninggalkan Kota Aras. Sekarang, kita hanya perlu menonton Retya bergerak sambil menunggu hasilnya".
"Tuan benar, peperangan telah berakhir", kata Ren setuju.
Torn yang ada di samping masih kaget, ia menatap Myro dan Ren seperti sedang melihat monster.
Ia mempunyai kekuatan kuat, setidaknya Torn mampu menahan pasukan laba-laba yang menyerang tambang di awal meskipun mendapatkan bantuan beberapa pasukan penjaga tambang. Tetapi kalau ia diberi 1000 Pasukan Kemenangan, ia tidak yakin dirinya dapat mengalahkan seluruh Dark Elf yang menyerang.
Saat Pasukan Kemenangan terus membunuh kavaleri laba-labanya yang tidak berani maju, Retya muncul dari Pasukan Kemenangan dan bergegas menuju Kerzan.
Beberapa prajurit musuh mencoba menghentikannya, tapi Retya membunuh mereka dengan mudah sebelum tiba di depan Kerzan dan menusuk tombaknya.
"Tang!".
Kerzan mundur sejauh 10 langkah dan jatuh duduk ke tanah, ia tidak percaya bahwa dirinya yang tidak lain merupakan jendral Dark Elf dipukul mundur hingga jatuh ke tanah oleh Retya memakai 1 serangan.
"Kemampuanmu cukup buruk, paling tidak dari segi kemampuan, kau di bawah jendral tingkat perak yang sama sekali tidak berharga", kata Retya dingin "Untungnya kau mampu melatih pasukan kavaleri laba-laba yang berguna untuk tuan di masa depan, kalau tidak aku pasti berencana membunuhmu!".
Retya menangkap leher Kerzan sebelum mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua Dark Elf yang lain bisa melihat "Aku telah menangkap jendral kalian, menyerah! Tidak ada gunanya lagi melakukan perlawanan!".
__ADS_1
Seluruh Dark Elf terkejut, mereka menatap Kerzan yang ditangkap Retya dengan mudah penuh keraguan "Kenapa jendral musuh sangat kuat? Jendral Kerzan sekalipun bukan lawannya!".
"Apakah kita harus menyerah atau bertarung? Apa yang harus kita lakukan?".
"Untuk apalagi kita bertarung? Hanya ada kematian bagi mereka yang tetap keras kepala, ayo menyerah!".
"Apakah kau gila? Sebagai pasukan Dark Elf yang pemberani, bagaimana mungkin kita menyerah!".
Kerzan tentunya menyadari kepanikan pasukannya, laba-laba mereka tidak bergerak, jendral mereka tertangkap, banyak rekan mereka telah mati, selain itu masih banyak pasukan musuh yang mengepung mereka.
Siapapun pasti melihat, selama mereka melawan maka mereka akan mati.
Kerzan berusaha mengatakan sesuatu kepada pasukannya, tapi tangan Retya di lehernya terlalu kuat hingga ia kesulitan berbicara atau bernafas.
Ketika Kerzan berpikir dirinya mungkin mati, suara Myro terdengar dari belakang "Retya, lepaskan jendral musuh dulu!".
"Baik, tuan!", kata Retya yang melepaskan tangannya dari leher Kerzan.
"Brak!".
Kerzan jatuh dengan berat ke tanah, sikap Retya terhadapnya benar-benar dingin yang jauh berbeda dari sikap Retya terhadap Myro atau rekan-rekannya.
Myro berjalan mendekati Kerzan yang baru bisa bernafas lagi sebelum berbicara "Namamu Kerzan bukan? Lebih baik kau menyerah! Aku adalah Count Kemenangan, Myro Aras dari Kerajaan Azeroth! Selama kalian menyerah, kita dapat menghentikan peperangan ini. Kalian mungkin harus menjadi wilayah bawahan ku, tetapi sebagai gantinya, kalian dapat memperoleh kedamaian serta beberapa sumber daya seperti makanan, pendidikan, ataupun pakaian bagi penduduk kalian".
"Sebagai seorang jendral, kau pasti tahu pilihan yang benar bukan? Kalau kau menolak, kalian semua mati tanpa keuntungan apapun. Jika kalian menyerah, wilayah kalian akan semakin maju dan penduduk kalian dapat hidup lebih makmur. Tetapi kalian mungkin harus memberikanku sebagian pasukan agar membantuku memenangkan medan perang di masa depan, tapi tidak perlu khawatir, aku akan membantu kalian dengan biaya pelatihan prajurit ataupun perlengkapan mereka. Bagaimana, Kerzan?".
Kerzan tersenyum pahit, ia tahu dirinya tidak mempunyai pilihan lain sehingga Kerzan menghela nafas "Aku memutuskan untuk menyerah!".
__ADS_1