PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 32 : MENCOBA MELARIKAN DIRI


__ADS_3

Ketika Ritke dan pasukan Benteng Trock baru tiba di perkemahan mereka yang sudah ditinggalkan sesuai rencana, Myro bersama seluruh pasukan Kavaleri Mongol yang bersembunyi di padang rumput sekitar segera menyadari bahwa rencananya sebentar lagi di mulai. Dengan bantuan kegelapan malam maka posisi mereka yang bersembunyi di padang rumput dekat perkemahan sama sekali tidak diketahui musuh, apabila itu siang atau lagi hari maka keberadaan mereka pasti sudah diketahui oleh musuh.


Sesuai apa yang Myro pikirkan, Jerat yang terletak tidak jauh dari situ dan juga sedang bersembunyi langsung berdiri, ia berteriak ke arah para pasukan di sekitarnya "Seluruh pasukan serang! Pemanah menembak dari belakang sedangkan kalian yang membawa pedang dan tombak maka ikuti aku untuk memburu musuh terutama yang mencoba melarikan diri!".


"Baik, kapten!", teriak semua prajurit di sekitar dengan penuh semangat sebab kemenangan sudah ada di depan mata.


Bersamaan dengan teriakan itu, Jerat sudah melangkah maju sambil membawa pedang di tangannya.


Para pemanah pasukan gabungan bangsawa, pemanah elit Kerajaan Azeroth dan Kavaleri Mongol sudah mengangkat busur di tangan mereka, lalu ratusan hingga ribuan panah terbang di langit menuju ke Ritke dan pasukannya yang sudah melompat menuju jebakan yang sudah mereka siapkan.


Ritke yang baru berbalik untuk melarikan diri tiba-tiba mendengar suara tembakan anak panah, walaupun ia tidak bisa melihat arah tembakan anak panah itu karena keadaan malam yang terlalu gelap, tapi Ritke tahu bahwa semua panah itu menembak ke arah mereka.


Tanpa ragu sedikitpun,. Ritke mengangkat perisai kecil yang ada di tangannya dan mengangkatnya ke atas langit untuk menghentikan panah yang mendekat.


"Stab!".


Dengan bantuan perisai yang ada di tangannya maka Ritke sama sekali tidak terkena sebuah panah pun, tapi pasukan yang lain tidak secerdas dan cepat seperti Ritke.


Oleh karena itu, sebagian besar pasukan Benteng Trock tertembak anak panah. Ada beberapa pasukan yang langsung mati akibat tembakan itu, namun sebagian besar pasukan hanya terluka ringan atau berat seperti tidak bisa berjalan lagi akibat panah menembak kakinya.


"Jangan panik! Seluruh pasukan ambil perisai kalian, lalu bergerak mundur secara perlahan-lahan kembali ke Benteng Trock!", teriak Ritke berusaha mengingatkan pasukannya untuk mundur.

__ADS_1


"Serang!", sebelum Ritke bisa mundur, suara teriakan pertarungan bergema dari seluruh arah di perkemahan ini, Ritke tahu bahwa mereka sudah dikepung.


Tidak lama kemudian, pasukan Kerajaan Azeroth yang dipimpin oleh Jerat terlihat dari balik kegelapan malam, mereka menyerang semua pasukan Ritke.


Meskipun sebagian besar pasukan di Benteng Trock adalah pasukan elit yang sudah melewati banyak medan perang, tapi mereka tidak siap terhadap pengepungan pasukan Kerajaan Azeroth ini. Belum lagi mereka masih sangat panik karena tidak mengerti tentang keadaan yang sedang terjadi, hal ini membuat pasukan Kerajaan Azeroth bisa mengalahkan mereka dengan mudah.


Jerat memimpin pasukan elit Kerajaan Azeroth secara langsung, ia berteriak di bagian depan pasukan serta menebas setiap pasukan Benteng Trock yang ada di depannya.


Tidak peduli siapapun musuh yang ada di depannya, dengan tebasan pedang Jerat maka mereka pasti mati.


Seluruh tubuh dan pedang Jerat sudah ditutupi oleh darah, tidak diketahui berapa banyak pasukan yang sudah ia bunuh tetapi kehebatannya barusan sudah menunjukan alasan kenapa ia bisa menjadi seorang kapten di pasukan elit Kerajaan Azeroth, walaupun tidak sekuat Falka namun Jerat ini masih tidak lemah.


Jerat tidak memperdulikan darah di seluruh tubuhnya, ia hanya menatap kiri dan kanan sambil berteriak "Aku Kapten Jerat dari pasukan elit Kerajaan Azeroth, siapa di antara kalian yang merupakan Jendral Ritke? Apabila kau masih memiliki keberanian seorang jendral, maka maju dan lawan aku! Kita akan berduel!".


Bukan karena ia takut melawan Jerat, melainkan Ritke merasa dirinya tidak boleh mati disini.


Selama ia bertahan hidup serta pergi dari sini, maka ia bisa kembali ke Keluarga Kerajaan Kavaleri dan memimpin ribuan kavaleri elit kerajaan untuk membalas dendam.


Dengan gelapnya malam dan banyaknya pasukan Benteng Trock yang mencoba menutupi lokasi jendral mereka dari musuh, Ritke sudah bisa bergerak mundur secara perlahan-lahan untuk pergi dari tempat ini.


Meskipun pasukan Kerajaan Azeroth membawa obor bersama mereka, tapi keadaan malam terlalu gelap yang membuat obor sama sekali tidak cukup untuk menerangi seluruh perkemahan ini.

__ADS_1


Ketika Jerat masih sibuk mencoba mencari Ritke, puluhan pasukan Benteng Trock bergegas mengepung dirinya.


Hal ini menunjukkan kesetiaan pasukan Benteng Trock kepada Ritke, bahkan mereka lebih memilih mati daripada membiarkan musuh mengetahui lokasi jendral mereka.


Melihat puluhan pasukan yang mengepung dirinya, Jerat sama sekali tidak panik melainkan marah "Aku rasa malam ini kita masih tidak bisa membunuh Ritke, padahal membiarkan ia tetap hidup merupakan pilihan yang paling berisiko tapi tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa menemukan keberadaannya di tengah malam seperti ini!".


Ritke saat ini sudah cukup menjauh dari Jerat, ketika sudah dipastikan bahwa Jerat tidak bisa lagi melihatnya sekarang maka Ritke berbalik lalu berlari tanpa ragu. Ritke sudah meninggalkan kuda miliknya sejak penembakan panah tersebut, alasannya adalah hanya ia dan wakilnya yang memakai kuda. Oleh karena itu, jika Ritke tetap terus memakai kuda maka posisinya menjadi lebih mudah diketahui Jerat, hanya dengan turun dari kuda serta berjalan kaki maka ia bisa bersembunyi dari pengamatan Jerat.


Sebelum bisa berlari terlalu jauh, sebuah teriakan terdengar dar belakang Ritke yang membuat wajahnya berubah "Ritke, jika kau memiliki keberanian maka jangan melarikan diri! Tunjukkan keberanian mu sebagai Jendral Kerajaan Kavaleri, aku Falka yang akan melawan mu hari ini!".


Ritke berbalik untuk menemukan Falka yang dikawal 10 pasukan Kavaleri Mongol bergegas ke arah dirinya dengan cepat, tidak peduli pasukan Benteng Trock apa yang mencoba menghentikan mereka, dihadapan Kavaleri Mongol maka pasukan Benteng Trock tidak bisa melakukan apapun.


Setelah cukup dekat dari Ritke, Falka melompat dari kudanya dan mendarat tepat di depan Ritke.


Ia menarik pedangnya sambil berkata dengan dingin "Angkat senjata mu! Selama kau bisa mengalahkan ku maka kau baru bisa pergi dari sini!".


Sejak Falka sudah ada di depannya, Ritke tahu bahwa kesempatan melarikan diri sudah hilang.


Ritke mengambil pedangnya juga sambil berkata "Aku Ritke bisa mati, namun tidak semudah itu untuk membunuhku! Aku mengingatmu, kau adalah pasukan yang pernah menembak panah ke tanganku! Sampai hari ini aku masih tidak bisa menggunakan tangan kananku akibat tembakan panah itu, aku akan melawan mu memakai tangan kiri! Namamu Falka bukan? Hari ini aku mungkin mati, namun aku juga akan membawamu bersamaku!".


Melihat Ritke yang hanya bisa memakai tangan kiri, Falka mengganti tangan kanannya menjadi tangan kiri untuk memegang pedang "Aku tidak akan menerima alasan saat kau kalah nanti, kau mengatakan kalah karena tidak bisa memakai tangan kanan. Oleh karena itu, aku juga memakai tangan kiri untuk melawan mu, dengan ini maka kita bisa bertarung dengan adil!".

__ADS_1


"Ternyata kau seorang prajurit pemberani, aku mengakui kau sebagai musuhku!", kata Ritke yang berharga maju menuju Falka, pertarungan seorang Jendral Kerajaan Kavaleri dan kapten pasukan Kavaleri Mongol Myro di mulai.


__ADS_2