
Melihat kepala kapten mereka, pasukan kavaleri elit itu mulai menjadi panik. Bagaimanapun musuh tiba-tiba menyerang mereka di tengah kegelapan ini yang membuat mereka tidak mengetahui jumlah musuh, dengan menghilangnya sang kapten maka semua kavaleri elit ini juga kehilangan orang yang bisa memberi mereka arahan.
Di tengah kepanikan tersebut, sebagian besar pasukan kavaleri elit memutuskan untuk mundur, mereka harus melarikan diri dari jalan kecil di hutan ini dulu sebelum memutuskan serangan balik.
Sedangkan sebagian kecil pasukan memutuskan untuk maju dan melawan, lagipula mereka tahu bahwa sangat sulit untuk melarikan diri di tengah keadaan seperti ini. Oleh karena itu, mereka merasa lebih baik untuk menahan pasukan Jerat dan Falka agar teman mereka yang lain bisa melarikan diri.
Melihat bahwa pasukan kavaleri elit sudah hancur dan mulai melarikan diri, Falka mengangkat pedangnya tinggi-tinggi sebelum berteriak "Seluruh pasukan, turunkan busur kalian serta segera ganti menjadi pedang, saat ini pasukan musuh sudah hancur! Ini waktunya serangan balik! Seluruh pasukan, ikuti aku!".
Setelah berteriak keras, Falka membawa kudanya untuk langsung bergegas menuju formasi musuh.
4 orang prajurit berusaha menghentikan Falka dengan pedang di tangan mereka, tapi Falka mengangkat pedangnya untuk menebas 2 orang.
"Slash!".
Di bawah tebasan Falka, 2 orang itu langsung mati.
2 orang yang lain berusaha menusuk Falka, mereka berpikir bahwa Falka baru menebas sehingga ini merupakan kesempatan terbaik untuk menyerangnya.
Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, gerakan Falka sangat cepat, setidaknya jauh lebih cepat dari 2 orang yang masih hidup itu.
Setelah ia menebas 2 pasukan di awal, ia mengangkat pedangnya dan menebas 2 pasukan lagi.
4 orang terbunuh dengan mudah di bawah pedang Falka, ia terus maju bersama kudanya mencari musuh yang lain.
__ADS_1
Kavaleri Mongol mulai menurunkan busur mereka seperti yang Falka katakan, mereka mengganti senjata mereka menjadi pedang dan mengikuti Falka.
Jerat yang ada di sisi lain tentunya melihat semua tindakan Falka tersebut, tidak ada rasa iri pada mata Jerat terhadap Falka melainkan ia penuh rasa kagum.
Bagaimanapun Jerat bisa naik ke posisinya sebagai kapten sekarang ini bukan karena ia berasal dari akademi ataupun keluarga bangsawan, melainkan karena kemampuannya bertarung di medan perang. Oleh karena itu, melihat Falka yang jauh lebih kuat darinya saat bertarung membuat Jerat tidak bisa untuk tidak merasa kagum.
Jerat kembali sadar, ia ikut mengangkat pedangnya sambil berteriak "Seluruh pasukan, ikuti Falka dan serang seluruh kavaleri musuh! Hari ini, nama kita akan tertulis di sejarah sebagai orang yang menghancurkan kavaleri paling elit dari Kerajaan Kavaleri!".
"Serang!", teriak pasukan dari Kerajaan Azeroth penuh semangat, mereka sudah pernah mendengar kemampuan pasukan kavaleri elit ini, jadi mereka sangat bersemangat bahwa mereka akan mengalahkan pasukan kavaleri elit yang terkenal ini. Meskipun nama mereka tidak tercatat di sejarah sekalipun, peperangan ini pasti tercatat di sejahat.
400 Kavaleri Mongol dan 1000 infantri elit Kerajaan Azeroth mulai mengikuti Falka, mereka melangkah maju untuk menyerang semua pasukan musuh yang mencoba melarikan diri.
Tidak jauh dari hutan tersebut, lebih tepatnya di antara hutan dan Benteng Trock, terdapat kurang lebih 5000 pasukan Kerajaan Azeroth disana, pasukan ini tidak lain merupakan pasukan pangeran ke 4.
Pada awalnya mereka dikirim kesini untuk membantu Falka dan Jerat jika mereka kalah, bagaimanapun sebagai ahli strategi maka Ren berpendapat dirinya harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Di depan para pasukan ini, pangeran ke 4 bersama Limo, Myro dan Ren berdiri disana sambil mengamati jalannya peperangan di hutan tersebut.
Ren membuka kipas lipatnya sebelum berkata "Peperangan sudah berakhir, ini kemenangan pasukan kita".
"Nona Ren benar-benar hebat, tanpa kecerdasan strategi Nona Ren maka kita tidak mungkin menang semudah ini, aku harus sangat berterima kasih", kata pangeran ke 4 tersenyum sangat senang, lagipula apabila peperangan terus seperti ini maka kemungkinannya merebut Kerajaan Kavaleri menjadi semakin besar, pangeran ke 4 saat ini merasa sangat percaya diri bahwa ia bisa menang.
Limo di belakang pangeran ke 4 juga kagum, jika Limo memimpin pasukan ini maka ia pasti bisa mengalahkan Kerajaan Kavaleri juga. Namun lihat umur Limo, ia sudah sangat tua dan memiliki banyak pengalaman di medan mereka, sedangkan Ren masih muda sehingga pengalamannya lebih sedikit dari Limo. Tapi Limo harus mengakui bahwa kecerdasan Ren tidak kalah darinya, bahkan jika itu hanya perbandingan membuat strategi maka Limo mungkin masih di bawah Ren.
__ADS_1
Ren tidak sombong terhadap penghargaan pangeran ke 4 kepadanya, ia menggelengkan kepalanya "Pangeran, ini hanya keberuntungan! Tidak ada seorangpun ahli strategi yang sangat berhati-hati di pihak musuh, jika tidak maka kita pasti tidak menang semudah ini".
Pangeran ke 4 masih menggelengkan kepalanya "Walaupun kemenangan kita memang karena tidak ada ahli strategi di pihak musuh, tapi di sisi lain semua ini juga merupakan bantuan dari Nona Ren sehingga kita bisa menang. Aku pasti membalas semua kebaikan ini ketika perang sudah berakhir".
Ren mengangguk sedikit dan tidak berbicara lagi.
Saat mereka semua kembali mengamati jalannya peperangan di hutan, seorang prajurit berlari mendekati mereka sebelum berlutut "Pangeran, ada masalah!".
"Ada apa?", kata pangeran ke 4 dengan wajah suram.
"Menurut mata-mata yang ada di barisan depan, 6000 pasukan musuh mulai mendekat ke arah sini! Berdasarkan bendera milik mereka yang sedikit terlihat di kegelapan malam, pasukan ini adalah pasukan Raja Kavaleri II", teriak prajurit tersebut.
Wajah pangeran ke 4 berubah, ia tidak berpikir bahwa Raja Kavaleri II bisa bergerak secepat ini.
"Nona Ren, apa yang harus kita lakukan berikutnya?", kata pangeran ke 4 menatap Ren, ia sudah menganggap Ren sebagai penentuan pergerakan mereka.
Myro juga melihat ke arah Ren, lagipula Myro merasakan ada sesuatu yang aneh disini yaitu Raja Kavaleri II bergerak terlalu cepat, seakan-akan ia sudah tahu jebakan yang dibuat Ren.
"Nampaknya ada pengkhianat di antara para petinggi", kata Ren sedikit tersenyum, tidak ada kepanikan di wajahnya.
"Nona Ren, apa maksud anda?", tanya pangeran ke 4 bingung.
"Apakah kau belum mengerti? Raja Kavaleri II datang kesini untuk membantu kavaleri miliknya seakan-akan tahu dengan jebakan yang aku siapkan, masalahnya selain para petinggi maka tidak ada lagi seorangpun yang tahu masalah rencana ini. Bahkan pasukan kita sendiri sekalipun tidak tahu, lalu menurutmu bagaimana Raja Kavaleri II bisa tahu?", tanya Ren.
__ADS_1
Pangeran ke 4 bukan orang bodoh, ia segera mengerti maksud perkataan Ren "Apakah ada pengkhianat di antara para petinggi? Kita harus mencari pengkhianat ini secepat--".
"Tidak, jangan cari pengkhianatnya sebab ini baru hanya kemungkinan, ada kemungkinan lain yaitu Raja Kavaleri II memiliki kecerdasan yang cukup hebat juga untuk menyadari jebakan yang aku siapkan. Tapi masalah ini tidak penting untuk sekarang, apa yang paling penting yaitu membiarkan pasukan kita yang ada di hutan kembali! Peperangan hari ini sudah selesai!", kata Ren dengan tegas.