PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 33 : KEKUATAN FALKA


__ADS_3

"Tang!".


Suara tabrakan yang keras, Falka sudah mengambil pedangnya dan menebas ke arah Ritke yang mendekati dirinya.


Pada awalnya kekuatan mereka seimbang, tetapi Ritke menemukan bahwa kekuatan Falka terus bertambah kuat hingga harus membuatnya mundur sebanyak 5 langkah.


Setelah bergerak mundu, Ritke menatap tangannya yang bergetar sambil berkata "Sangat kuat! Nampaknya kau sudah melatih tubuhmu dengan sangat baik!".


Falka sedikit tersenyum, ia berkata dengan penuh percaya diri sambil mengangkat pedangnya "Aku mungkin tidak cerdas, namun setidaknya aku sangat percaya diri dari segi kekuatan milikku. Walaupun ada banyak orang yang memiliki teknik bertarung lebih baik dariku, tapi jika itu hanya kekuatan murni maka aku sangat percaya diri!".


Ketika Ritke dan Falka saling menatap, para prajurit Benteng Trock di sekitar mencoba membantuk Ritke "Jendral!".


"Berhenti!", teriak Ritke yang menghentikan seluruh pasukan di sekitarnya untuk membantu "Jika kalian membantuku maka itu hanya memalukan Kerajaan Kavaleri! Ini adalah pertarungan antara prajurit, tidak ada yang boleh mengangguk!".


Mendengar peringatan jendral mereka, para prajurit itu hanya bisa berdiri di samping dan melindungi apabila ada orang yang mencoba menyerang jendral mereka secara diam-diam.


"Kau sangat berbakat, meskipun kekuatanmu tidak sekuat diriku, tapi tidak ada masalah untuk melawan prajurit bernama Jerat itu sekalipun", kata Falka menghargai Ritke "Bagaimana jika kau menyerah? Selama kau mengikuti tuanku maka aku tidak perlu membunuhmu disini, selain itu tuanku ditakdirkan menjadi seorang raja atau bahkan kaisar di masa depan, mengikutinya pasti tidak akan merugikan mu".


Ritke menutup matanya dan sedikit tersenyum terhadap tawaran Falka "Apabila aku mendapatkan tawaran ini 10 tahun yang lalu maka aku mungkin menerimanya, bagaimanapun orang sekuat dirimu pasti mengikuti tuan yang hebat juga, tapi sekarang itu sudah tidak mungkin lagi! Sejak aku menjadi jendral besar yang menjaga Benteng Trock, aku sudah setia kepada Kerajaan Kavaleri dan tidak akan mengkhianatinya!".


"Ternyata begitu, kau memutuskan untuk setia!", kata Falka sedikit mengangguk "Kalau begitu aku akan membunuhmu sebagai bentuk rasa hormatku terhadap kesetiaan dan kekuatanmu, maju! Prajurit Ritke!".


Tanpa ragu sedikitpun, Ritke berlari ke arah Falka.


Melihat Ritke yang mendekat, Falka mengangkat pedangnya dan menebas ke arah Ritke.


"Slash!".


Ritke menundukkan tubuhnya ke belakang agar bisa menghindari tebasan itu, lalu ia kembali berdiri tegak lagi dan menebas Falka dari samping.

__ADS_1


"Brak!".


Sebelum pedang Ritke bisa mengenai Falka, ia merasakan rasa sakit dari perutnya yaitu Falka menendang dirinya.


"Kau tidak bisa memakai tangan kananmu, bukan kaki milikmu! Oleh karena itu, aku masih tetap bertarung dengan adil walaupun memakai tendangan", kata Falka dengan tegas.


Tubuh Ritke terlempar sejauh puluhan meter akibat tendangan itu, ia merasa ada banyak sekali tulang pada tubuhnya patah akibat tendangan Falka ini.


Tanpa menunggu Ritke untuk berdiri, Falka melangkah maju serta melompat untuk menusukkan pedangnya ke arah Ritke yang berbaring di tanah.


"Tang!".


Ritke masih berusaha menahan pedang Falka dengan keras kepala, tapi ada perbedaan kekuatan di antara mereka yang membuat pedang Ritke terlempar dari tangannya. Tebasan pedang Falka terlalu kuat hingga menyebabkan Ritke tidak bisa memegang pedangnya kembali.


"Sudah berakhir!", dengan terlemparnya pedang Ritke, Falka menebas leher Ritke tanpa ragu.


"Slash!".


Kepala Ritke terlempar sejauh beberapa meter ke udara, ada banyak sekali darah yang berterbangan bersama kepalanya.


Falka mengambil kepala tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi "Aku, Falka sudah membunuh Jendral Ritke dari Kerajaan Kavaleri! Seluruh prajurit Benteng Trock menyerah, siapapun yang menjatuhkan senjata mereka tidak akan di bunuh".


Seluruh orang di medan perang itu terkejut, bahkan Limo yang selalu bersama pangeran ke 4 dan melewati banyak medan perang sangat terkejut terhadap informasi ini.


Meskipun Ritke berasal dari Kerajaan Kavaleri yang memiliki wilayah kecil, namanya masih cukup terkenal sebagai jendral yang hebat. Oleh karena itu, Limo berpikir bahwa Ritke pasti masih bisa melarikan diri dari serangan ini serta kembali ke ibukota Kerajaan Kavaleri untuk bertemu raja dan membalas dendam.


Siapa yang berpikir bahwa jendral terkenal seperti Ritke bisa terbunuh di tangan seorang kapten yang mengikuti anak Baron.


Jerat adalah yang kembali sadar lebih dulu, ia mengangkat pedangnya dan berteriak dengan senang "Jendral musuh sudah terbunuh, kita menang! Siapapun yang masih membawa senjata mereka dan melarikan diri akan dibunuh, tetapi bagi mereka yang membuang senjata mereka serta duduk di tanah sambil mengangkat tangan mereka maka bisa tetap hidup! Menyerah! Peperangan ini sudah berakhir".

__ADS_1


Beberapa prajurit Benteng Trock sangat terkejut terhadap kekalahan jendral mereka "Tidak mungkin! Bagaimana Jendral Ritke bisa terbunuh?".


"Apakah musuh berusaha menipu kita?".


"Apakah kau tidak bisa melihat? Kepala yang ada di tangan Falka itu adalah Jendral Ritke, ia benar-benar sudah kalah!".


Beberapa prajurit memutuskan untuk menyerah, namun tidak sedikit yang memutuskan untuk melarikan diri karena mereka tahu bahwa nasib prajurit kalah yang tertangkap tidak begitu baik. Mereka kemungkinan besar dijadikan budak untuk berperang atau bekerja di tambang sampai mati, oleh karena itu masih ada banyak orang yang keras kepala untuk melarikan diri.


Bukan hanya itu, beberapa orang yang lain masih memutuskan untuk melawan sambil berteriak "Balas dendam untuk Jendral Ritke!".


Meskipun masih ada perlawanan, dengan hilangnya Ritke maka pasukan Benteng Trock ini sudah tidak sekuat sebelumnya.


Jerat memimpin pasukannya dan menekan musuh dengan mudah, akhirnya setelah peperangan selesai maka pagi sudah tiba.


Ketika matahari baru muncul, Falka berjalan ke arah Myro sambil berlutut "Tuan, untungnya Falka tidak mengecewakan tuan!".


Myro menepuk pundak Falka sambil tersenyum "Berdiri, tidak perlu terlalu sopan! Kau adalah bintang utamanya hari ini!".


"Terima kasih, tuan!", kata Falka yang berdiri.


Pangeran ke 4 juga mendekati Myro, ia berkata dengan sangat senang "Myro, ini semua karena mu! Jika kau tidak ada maka aku pasti tidak bisa memenangkan perang ini".


"Pangeran terlalu berlebihan, tanpa dukungan dari Ren dan Falka maka aku tidak mungkin bisa melakukan apapun", kata Myro menggelengkan kepalanya "Pada akhirnya semua ini merupakan kerja keras mereka".


"Apa yang tuan katakan?", kata Ren tidak setuju "Kami bekerja keras untuk tuan, apabila tidak ada tuan disini maka kami mungkin tidak akan datang kesini".


"Itu benar, Falka memburu Ritke sesuai dengan tugas yang tuan berikan", kata Falka.


Saat ini Jerat yang masih ditutupi oleh darah berjalan mendekat, wajahnya tersenyum dengan lebar "Pangeran, kita memenangkan perang ini! Jendral Ritke dan 1000 pasukan Benteng Trock berhasil kita kalahkan, selain itu 500 orang menyerah dan 500 lainnya berhasil melarikan diri. Walaupun begitu, pasukan masih tetap mengejar musuh yang mencoba melarikan diri ini, peperangan kali ini merupakan kemenangan besar untuk kita!".

__ADS_1


Mendengar itu, pangeran ke 4 berteriak dengan senang "Untuk merayakan kemenangan ini, kita akan memulai pesta besar bagi para prajurit yang sudah berjuang keras!".


__ADS_2