PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 124 : PERTARUNGAN LOPEN


__ADS_3

Ketika sedang bingung tentang cara agar bisa melepaskan Kavaleri Serigala miliknya dari pengepungan, mata Golder jatuh ke arah Lopen.


Saat ini Lopen berada di antara Pasukan Penjaga Praetorian, ia terus mengingatkan Penjaga Praetorian di sekitarnya. Terutama waktu ada Penjaga Praetorian yang terbunuh, ia akan memberitahu prajuritnya yang lain untuk segera menggantikan posisi prajurit yang terbunuh tersebut agar Formasi Phalanx tidak hancur.


Melihat Lopen selama beberapa saat, mata Golder bersinar sebab ia sudah memikirkan sebuah ide.


Formasi Phalanx ini dapat terus dipertahankan akibat arahan dari Lopen yang mengingatkan prajurit di sekitarnya, bagaimanapun Penjaga Praetorian adalah kelompok pengawal, mereka sama sekali tidak terlalu mengerti tentang menjadi pasukan Phalanx sebab Penjaga Praetorian adalah sekelompok pengawal yang lebih cocok untuk menjaga ketertiban kota daripada ikut berperang.


Oleh karena itu, jika Lopen terbunuh maka Formasi Phalanx ini pasti akan hancur.


Tanpa ragu sedikitpun, Golder menggerakkan serigalanya menuju ke arah Lopen.


Sekarang Lopen sedang berada di antara Penjaga Praetorian, jadi apabila Golder bergerak menuju Lopen, ia harus siap menghadapi pengepungan musuh.


Walaupun begitu, Golder tidak keberatan mengambil resiko ini. Selama Kavaleri Serigalanya bisa lepas dari pengepungan musuh, ia tidak keberatan untuk mati. Lagipula jika keadaan terus seperti ini, baik itu dirinya ataupun Kavaleri Serigala pasti mati.


Tentunya Penjaga Praetorian yang ada di sekitar Lopen menemukan Golder yang sedang mendekat ke arah sini, mereka mengangkat tombak mereka dan menusuk ke arah Golder.


Melihat serangan musuh yang mencoba menghentikannya, Golder berdiri di atas serigalanya lalu melompat.


Ia melewati tombak Penjaga Praetorian yang berusaha menusuknya dan menebas ke arah Lopen yang sudah ada di depan mata.


Penjaga Praetorian terkejut terhadap tindakan Golder tersebut, mereka mencoba berbalik untuk menghentikannya lagi dari menyerang Lopen.


Tetapi serigala yang ditinggalkan Golder berlari ke arah para Penjaga Praetorian yang mengawal Lopen untuk menghentikan mereka dari mengepung Golder.


Golder yang siap mendarat di atas Lopen tersenyum, semua berjalan sesuai rencananya. Sejak dirinya sudah menyiapkan rencana membunuh Lopen, ia sudah memikirkan strategi ini. Serigala itu pasti tidak bisa membunuh para Penjaga Praetorian yang melindungi Lopen, tapi tujuan serigala itu hanya untuk memberikan Golder waktu agar bisa membunuh Lopen, oleh karena itu ia pasti bisa mengalihkan perhatian para Penjaga Praetorian ini tanpa masalah.

__ADS_1


Golder menarik pedangnya dan api berkumpul pada pedang tersebut, ia menebas pedang api ke arah Lopen sambil berteriak "Jangan salahkan aku karena membunuhmu, aku harus melakukan ini supaya pasukan ku bisa bertahan hidup dari pengepungan ini".


"Jangan khawatir", kata Lopen yang menatap serangan pedang api Golder tanpa rasa takut "Ini adalah perang, apabila aku terbunuh, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri sebab lebih lemah darimu!".


Setelah itu, Lopen juga mengangkat perisainya yang menghentikan pedang api Golder.


"Tang!".


Pedang dan perisai bertabrakan, sebuah senyuman muncul di wajah Golder.


Ia bisa menjadi pemimpin 1000 Kavaleri Serigala bukan tanpa alasan, kekuatan apinya memiliki kemampuan yang unik.


Ketika pedang dan perisai bertabrakan, api pada pedang Golder menyebar dengan cepat di sekitar perisai Lopen dan mencoba membakar tangan Lopen yang memegang perisai.


"Semua pertahanan baik itu zirah besi ataupun perisai sama sekali tidak berguna dihadapan kekuatan apiku yang bisa menyebar, kau bisa mati sekarang!", teriak Golder penuh rasa percaya diri seakan-akan kemenangan sudah ada di depan mata.


Meskipun terkejut, Lopen membiarkan api itu membakar tangannya, ia mengangkat pedangnya di tangan yang lain untuk menusuk Golder.


Tentunya Golder menghindari serangan tersebut, namun ia sedikit terlambat yang membuat sebuah luka goresan muncul di wajahnya.


Luka goresan kecil itu sama sekali tidak fatal, jadi Golder hanya menghapus darah di wajahnya dengan tidak peduli "Bagaimana? Apakah tanganmu tidak apa-apa? Aku rasa tanganmu yang memegang perisai sudah terbakar tanpa bisa digunakan lagi sekarang!".


Wajah Lopen masih terlihat tidak peduli, ia melangkah maju menuju Golder memakai kecepatan tercepatnya tanpa menjelaskan apapun.


Golder terkejut terhadap gerakan Lopen yang tiba-tiba, ia bingung apakah Lopen sama sekali tidak peduli terhadap tangannya yang terbakar.


"Brak!".

__ADS_1


Perisai dan pedang kembali bertabrakan, kali ini Golder harus melangkah mundur sejauh 5 langkah penuh rasa terkejut. Kekuatan dorongan perisai Lopen barusan benar-benar memukul mundur dirinya, hal ini membuktikan bahwa kekuatan Lopen jauh lebih kuat dari dirinya padahal tangan Lopen yang memegang perisai seharusnya sudah melemah akibat terbakar.


Sebelum Golder bisa kembali sadar, sosok Lopen sudah melompat di depannya.


Lopen menatap Golder penuh rasa dingin dan menusuk jantungnya "Kau masih terlalu lemah untuk menjadi lawan ku, paling tidak biarkan jendral terbaik kalian datang untuk menemui ku!".


"Stab!".


Golder terkejut menemukan bahwa pedang Lopen menusuk jantungnya, ia menatap Lopen sambil memuntahkan seteguk darah "Bagaimana mungkin? Apiku seharusnya sudah membakar tanganmu, baik kecepatan atau kekuatanmu pasti berkurang akibat luka tersebut. Kenapa kau bisa menahan rasa sakit tersebut tanpa menurunkan kekuatan atau kecepatan mu?".


Lopen menarik pedangnya dari tubuh Golder dan menunjukkan tangannya yang memegang perisai.


Mata Golder terbuka lebar penuh rasa tidak percaya sebab tangan Lopen yang tadi terbakar tidak menunjukkan luka apapun.


"Kenapa? Aku yakin tadi apiku sudah membakar tanganmu!", teriak Golder yang sudah jatuh duduk di tanah, dirinya sudah mendekati kematian tapi ia berusaha mencari alasan kekalahannya sebelum ia mati.


Lopen melihat dirinya penuh rasa dingin "Kau pikir api kecil seperti itu bisa melukaiku? Jika api kecil seperti itu bisa melukai diriku, maka aku tidak cocok untuk menjadi pengawal di samping tuanku!".


Tubuh Golder jatuh ke tanah dan menghela nafas terakhirnya, ia sudah mati meskipun dirinya masih penuh kebingungan mengenai alasan kenapa apinya tidak bisa melukai Lopen. Golder bisa naik ke posisinya sekarang memakai bantuan kekuatan api miliknya, tidak diketahui seberapa banyak musuh yang sudah mati akibat kemampuan api uniknya ini yang bisa menyebar di senjata musuh, tapi kali ini apinya gagal serta ia harus membayar kegagalan tersebut memakai hidupnya.


Lopen tidak peduli lagi terhadap Golder yang jatuh ke tanah, ia kembali memberikan arahan kepada Penjaga Praetorian untuk membersihkan Kavaleri Serigala yang masih hidup dan mencoba melarikan diri.


Kavaleri Serigala tentunya menemukan pemimpin mereka yang mati di bawah pedang Lopen, walaupun mereka sedikit tidak percaya terhadap hal tersebut karena bagi mereka, Golder tidak terkalahkan. Tapi mayat Golder ada di depan mata mereka, hal ini menyebabkan Kavaleri Serigala yang masih hidup tidak memiliki semangat bertarung lagi, mereka hanya memiliki pikiran untuk melarikan diri dari sini.


Tapi bagaimana mungkin Myro membiarkan Kavaleri Serigala yang sudah datang kesini melarikan diri, di bawah pengepungan Kavaleri Mongol dan Penjaga Praetorian maka semua Kavaleri Serigala ini dibersihkan.


Semua prajurit Orc musuh dibunuh sedangkan serigala yang masih hidup disimpan lebih dulu, Myro mungkin bisa mencoba para penjinak hewan dari markas untuk mencoba menjinakkan serigala ini. Selama serigala bisa dijinakkan, Myro bisa membuat Kavaleri Serigala miliknya sendiri di masa depan.

__ADS_1


Dengan ini, kemenangan awal Myro terhadap Kerajaan Orc-Goblin sudah ditentukan, 1000 Kavaleri Serigala yang terkenal sebagai pasukan elit, semuanya mati di bawah pengepungan dan rencana yang dibentuk oleh Myro, Ren, Falka dan Lopen.


__ADS_2