PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 39 : PENGHIANAT?


__ADS_3

Walaupun Raja Kavaleri II sudah sangat lemah dan tubuhnya semakin menjadi tua, tapi hal itu tidak membuat Raja Kavaleri II menjadi pemimpin yang buruk.


Tanpa ragu sedikitpun, Raja Kavaleri II memakai zirah besi dan pedangnya sebelum berjalan pergi dari tenda.


Bagaimanapun musuh sedang menyerang markasnya, oleh karena itu Raja Kavaleri II memakai zirah dan senjatanya agar siap melawan musuh kapanpun.


Setelah berjalan pergi dari tendanya, Raja Kavaleri II berteriak keras "Apa yang terjadi disini? Berapa banyak pasukan musuh? Lalu berapa jumlah kerugian di pasukan kita?".


Prajurit yang sudah menunggu di depan tenda Raha Kavaleri II segera berteriak "Yang mulia, saat ini hanya pasukan di bagian paling depan yang mengalami korban, jumlahnya tidak terlalu banyak yaitu sekitar puluhan hingga ratusan korban. Sedangkan untuk jumlah musuh yang menyerang, kami masih tidak terlalu yakin sebab keadaan sekitar yang gelap akibat malam. Namun menurut jumlah serangan panah musuh, maka pasukan musuh yang menyerang hanya terdiri dari ratusan orang".


"Ratusan orang? Dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit seperti itu, kenapa kalian sangat panik? Meskipun musuh melakukan serangan ketika kita sedang tidur, tapi bagaimana mungkin 9.000 pasukan kita tidak bisa melawan ratusan pasukan musuh? Apakah pasukan Kerajaan Kavaleri sudah sangat melemah hingga tidak bisa menang melawan musuh dengan jumlah yang puluhan kali lebih banyak?", teriak Raja Kavaleri II dengan marah, menurutnya ratusan pasukan musuh seharusnya tidak bisa membuat mereka panik sedikitpun.


"Yang mulia, bukan itu masalahnya! Tetapi semua musuh adalah pasukan kavaleri, mereka bergerak dengan cepat menyerang perkemahan kita dari semua sisi. Dengan bantuan gelapnya malam, sangat sulit untuk mencari tahu lokasi pasti musuh".


"Dasar bodoh! Hanya karena kegelapan maka kalian tidak bisa menemukan musuh! Dimana mereka sekarang?", teriak Raja Kavaleri II "Apakah mereka masih menyerang kita?".


"Nampaknya pasukan musuh sudah mulai melarikan diri, mereka tidak lagi menembakkan panah apapun", kata prajurit itu.


"Kalau begitu kejar, beritahu pasukan kavaleri elit untuk mengejar pasukan musuh, 3000 pasukan bisa bergerak secara langsung! Jangan biarkan mereka kembali ke Benteng Trock", teriak Raja Kavaleri II.


"Baik, yang mulia!", teriak pasukan itu yang pergi dengan cepat untuk memberitahu pasukan kavaleri agar segera bersiap.

__ADS_1


Setelah 3000 pasukan kavaleri elit miliknya mulai mengejar musuh dengan kuda mereka, Raja Kavaleri II yang tetap di perkemahan bersama 6000 pasukan lain berpikir "Musuh mencoba memanfaatkan serangan malam yaitu saat kita tertidur, mereka memakai kavaleri agar bisa melakukan serangan cepat lalu melarikan diri kembali ke Benteng Trock. Oleh karena itu, mereka hanya bisa mengirim ratusan orang untuk melakukan serangan ini akibat jumlah kuda mereka yang terbatas".


"Mereka mungkin berpikir bahwa kita tidak bisa mengejar pasukan mereka yang melarikan diri dengan kavaleri, tapi biarkan aku memberitahu mereka hari ini bahwa kavaleri sekalipun tidak bisa melarikan diri dengan mudah setelah menyerang perkemahan kami. Dihadapan 3000 kavaleri elit kami, maka musuh pasti tidak bisa lepas".


"Pada akhirnya pangeran ke 4 hanya anak muda yang masih kurang pengalaman, strateginya kali ini gagal! Aku tidak tahu bagiamana cara ia bisa menang dari Ritke, namun semua itu kemungkinan besar hanya keberuntungan. Dengan kemampuan strategi seperti ini, Ritke tidak mungkin kalah!".


Ketika Raja Kavaleri II sedang sibuk berpikir, seorang prajurit berjalan mendekatinya "Yang mulia, ada seekor burung yang tiba-tiba datang kesini dengan surat. Berdasarkan lambang burung ini maka surat ini berasal dari Kerajaan Azeroth, apakah kita harus membuangnya?".


"Kerajaan Azeroth?", tanya Raja Kavaleri II dengan bingung, tapi ia tiba-tiba memikirkan sesuatu "Tunggu dulu, mungkin itu rekan kita di pihak musuh, berikan suratnya kepadaku".


Prajurit itu mengangguk dan memberikan sebuah kertas kepada Raja Kavaleri II.


Raja Kavaleri II membuka surat itu untuk membaca tulisan yang ada disana, tidak lama kemudian wajah Raja Kavaleri II berubah.


"Laporan kepada yang mulia, pasukan kavaleri kita sudah berangkat 10 menit yang lalu sesuai arahan yang diberikan yang mulia", jawab prajurit itu hormat.


"Beritahu seluruh pasukan untuk langsung bergerak, tidak perlu merawat perkemahan ini, kita harus bergerak secepat mungkin untuk membantu pasukan kavaleri!", teriak Raja Kavaleri II penuh kepanikan.


Prajurit itu berdiri diam membeku, ia tidak mengerti kenapa Raja Kavaleri II segera mengubah rencananya hanya dengan membaca surat tersebut.


"Kenapa kau masih berdiri diam disini? Cepat beritahu seluruh pasukan yang ada untuk bersiap, kita akan bergerak sekarang!", teriak Raja Kavaleri II marah.

__ADS_1


Prajurit itu kembali sadar, ia berbalik tanpa ragu untuk memberitahu para pasukan yang lain agar bersiap untuk kembali bergerak.


Raja Kavaleri II memegang surat di tangannya dengan kuat, ia sekarang memiliki wajah yang suram "Siapa yang berpikir bahwa semua serangan barusan adalah jebakan, tujuan musuh bukan melakukan serangan malam saat kita tertidur untuk mengejutkan kita, melainkan tujuan musuh yaitu untuk menarik kita agar melompat menuju jebakan yang sudah mereka siapkan. Selain itu, ada seorang ahli strategi cerdas bernama Ren yang menyiapkan semua rencana ini, bisa mengalahkan Ritke dan menjebak ku, wanita ini sangat menakutkan*.


"Sekarang aku harus menggerakkan pasukan secepat mungkin untuk membantu 3000 kavaleri yang sudah berangkat lebih dulu, selama aku terlambat maka seluruh pasukan kavaleri milikku pasti mati. Untungnya aku mendapatkan laporan dari rekan kami di antara para petinggi musuh, jika tidak maka aku pasti sudah kalah!".


Raja Kavaleri II melangkah maju dengan wajah tegas, kali ini ia tahu bahwa pangeran ke 4 menang dari Ritke bukan karena keberuntungan melainkan ia mendapat bantuan dari seorang ahli strategi cerdas.


Oleh karena itu, Raja Kavaleri II tidak berani meremehkan pangeran ke 4 lagi, kali ini ia sendiri yang akan memimpin perang ini secara langsung.


...----------------...


Falka terus memimpin pasukan Kavaleri Mongol miliknya kembali ke Benteng Trock, mereka baru sudah menyerang perkemahan Kerajaan Kavaleri sehingga ini waktunya untuk kembali sesuai rencana Ren.


Ketika mereka terus berjalan memakai kuda mereka, seorang prajurit di belakang Falka berteriak "Kapten, di belakang kita terdapat ribuan pasukan kavaleri bersenjata lengkap yang mengejar, berdasarkan lambang pada zirah mereka maka pasukan ini berasal dari Kerajaan Kavaleri, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menambah kecepatan kuda kita agar musuh tidak mengejar?".


Falka tidak langsung menjawab, melainkan ia terus menatap ke depan untuk menemukan bahwa hutan yang direncakan Ren sudah sangat dekat.


"Pertahankan kecepatan dan terus maju! Jangan pedulikan musuh yang ada di belakang!", teriak Falka.


Walaupun para Kavaleri Mongol tidak mengerti kenapa Falka tidak memberitahu mereka untuk mempercepat kuda mereka, bagaimanapun musuh sudah hampir mengejar mereka.

__ADS_1


Tapi Kavaleri Mongol ini merupakan pasukan yang terlatih sehingga mereka tidak meragukan perkataan Falka, mereka tetap membiarkan kuda mereka terus melangkah maju tanpa mempercepat sedikitpun.


__ADS_2