PERJUANGAN MENJADI RAJA

PERJUANGAN MENJADI RAJA
BAB 148 : KEKUATAN YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

Kapten Kavaleri Serigala terkejut dengan mata merah Retya, lalu ia tertawa keras seakan-akan mendengar sesuatu yang paling lucu di dunia "Wanita kecil, apakah aku tidak salah dengar? Kau berencana membunuhku? Jika kau bisa kembali dari sini hidup-hidup, itu sudah sangat hebat. Tapi kau masih berpikir bisa membunuhku? Wanita kecil, nampaknya kau sudah menjadi gila akibat mengalami kematian di depan mata!".


Ketika Kapten Kavaleri Serigala berencana menyerang Retya untuk menunjukkan perbedaaan kekuatan Orc dan manusia, dimana Orc memiliki kekuatan yang jauh lebih menakutkan, Retya melangkah maju.


Meskipun tanah di sekitarnya ditutupi salju yang bisa memperlambat gerakan berlari siapapun, tapi gerakan Retya masih sangat cepat dan sudah muncul di depan Kapten Kavaleri Serigala yang memiliki tinggi hampir 4 meter.


Retya melompat dan menunjukkan mata ganasnya, kali ini seluruh tubuh Retya ditutupi oleh warna hitam kecuali pada bagian mata yang berwarna merah.


Kapten Kavaleri Serigala berkeringat dingin, sosok Retya di depannya sangat menakutkan.


Ia sudah berperang selama hampir setengah abad, namun ia mengakui bahwa ia belum pernah menemui orang yang terlihat menakutkan seperti Retya. Sekarang di matanya, Retya bukan lagi wanita manusia kecil yang sedikit lebih kuat melainkan seekor monster dengan mata merah yang menakutkan.


Sebelum Kapten Kavaleri Serigala mencoba menjadi Retya yang tiba-tiba muncul di depannya, Retya menebas tubuhnya d lalu mendarat pada salju di belakang Kapten Kavaleri Serigala.


"Slash".


Luka berdarah yang sangat besar muncul di perut Kapten Kavaleri Serigala, ia berteriak kesakitan dan darahnya terus mewarnai salju yang ada di bawah kakinya menjadi merah.


Kapten Kavaleri Serigala segera menahan luka yang ada di perutnya supaya tidak ada lebih banyak lagi darah yang jauh sambil menunjuk kepada Retya dengan tangan lainnya yang gemetar "Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau bisa memiliki kekuatan sekuat ini? Tidak, seharusnya seorang Baron kecil sama sekali tidak memiliki kekuatan seperti ini, apakah kau adalah kaki tangan Jendral Herfu?".


Retya berdiri dari salju dan membuang darah di pedangnya, ia menatap Kapten Kavaleri Serigala dengan aneh "Kenapa kau masih hidup? Tidak, lebih tepatnya tebasan tadi seharusnya membagi tubuhmu menjadi 2 bagian".


Retya mengamati tubuh Kapten Kavaleri Serigala yang sedang sibuk menahan luka besar di perutnya, selama luka itu tidak ditahan maka ia bisa mati akibat kehabisan darah.

__ADS_1


Setelah mengamati sebentar, Retya tiba-tiba menyadari sesuatu "Aku mengerti, kau pasti memiliki kemampuan khusus seperti kulit besi atau kekuatan pertahanan lainnya, jadi kau bisa menahan pedang milikku, tidak aneh! Kalau begitu, aku hanya perlu menebas mu lagi sampai kemampuan khusus pertahanan mu sekalipun tidak bisa menahannya lagi".


Melihat senyum kejam di wajah Retya, Kapten Kavaleri Serigala gemetar ketakutan dan merasa seluruh tubuhnya kedinginan. ia tahu selama tidak ada masalah, Retya pasti membunuhnya.


"Tunggu dulu, nona! Kita bisa membahasnya, aku akan membayar apapun selama kau bisa membiarkanku hidup, aku juga bisa menjadi prajurit yang setia kepadamu", kata Kapten Kavaleri Serigala mencoba melangkah mundur menuju pasukannya yang lain agar bisa membantu menahan Retya.


Tapi sosok Retya sudah berlari ke depannya lagi sambil berkata "Sejak kau mengejek tuanku, kau sudah dijatuhi hukuman mati!".


"Slash!".


Retya menebas kembali tubuh Kapten Kavaleri Serigala, kali ini musuh tidak bisa bertahan lagi dari 2 luka tebasan besar Retya.


Perlahan-lahan tubuh Kapten Kavaleri Serigala jatuh dengan berat ke tanah, ia sudah mati.


Semua Kavaleri Serigala melihat ke arah Retya penuh rasa dendam, lagipula kapten sudah memperlakukan mereka dengan baik sehingga mereka marah kepada Retya yang membunuhnya. Namun mereka tidak berani menyerang Retya secara sembarangan, mereka takut nasib mereka akan sama seperti kapten.


Retya sebenarnya sudah merasa sangat lelah di seluruh tubuhnya, meskipun ia menjadi sangat kuat barusan dan mengalahkan Kapten Kavaleri Serigala sangat mudah padahal sudah melawan 100 pasukan lebih sebelumnya, tapi sebagai gantinya Retya harus menghabiskan banyak energi yang membuatnya lelah.


Untungnya tidak ada pasukan musuh yang mencoba menyerangnya lagi, oleh karena itu Retya berdiri diam di tempat sambil berusaha sekuat mungkin supaya tidak jatuh dan menunjukkan kelemahannya kepada musuh. Selama musuh menyadari bahwa ia sudah melemah akibat lelah, mereka pasti mencoba membunuhnya.


Langkah kaki kuda pasukan Myro semakin dekat, jadi penasihat berteriak panik yang menyadarkan semua pasukan Orc lain yang masih terkejut serta ketakutan akibat kekuatan Retya "Kenapa kalian masih berdiri diam? Wanita itu sudah melawan 100 Orc dan membunuhnya, lalu ia berhasil mengalahkan Kapten Kavaleri Serigala yang terkenal, namun pada akhirnya ia masih manusia! Ia pasti kesalahan, jika kalian menyerangnya sekarang maka ia pasti mati".


Mendengar teriakan penasihat, para prajurit Orc masih berdiri diam. Tidak ada siapapun yang bodoh di antara mereka, penasihat mengatakan hal tersebut hanya agar mereka tidak takut. Siapapun yang tetap maju melawan Retya akibat perkataan penasihat barusan, itu hanya orang bodoh yang harus siap mati.

__ADS_1


Mengetahui masih banyak pasukan yang ragu, Penasihat hanya bisa menggertakkan giginya "Siapapun yang mengalahkan wanita ini bisa mendapatkan 1000 koin emas!".


Semua pasukan yang masih ragu tadi bergegas maju menuju Retya tanpa ragu. Sebelumnya apabila mereka berhasil membunuh Retya, mereka tidak akan mendapatkan hadiah apapun dan mati selama mereka gagal. Tapi sekarang ada kemungkinan mendapatkan 1000 koin emas bagi yang berhasil, banyak prajurit yang membuang keraguan mereka untuk kekayaan.


Retya tersenyum pahit, nampaknya ia hanya bisa terbunuh disini.


Saat Falka memutuskan untuk melompat dari tembok benteng dan membantu Retya, Falka tahu Myro menganggap hidup mereka lebih berharga daripada Benteng Rulfes sehingga melindungi hidup Retya lebih penting sekarang.


Namun Falka menghentikan gerakannya di tengah jalan sebab ia tahu tindakan tersebut tidak perlu.


Ratusan panah terbang dari gerbang kota yang lewat dan langsung menusuk para pasukan yang mendekati Retya, hal ini kembali membuat pasukan yang mencoba membunuh Retya menghentikan gerakan mereka akibat takut terhadap serangan yang tiba-tiba.


Tidak lama kemudian, sosok Myro yang memimpin ratusan Kavaleri Mongol bergegas maju.


Myro memimpin pasukan di bagian depan bersama Lopen dan Ren yang menjaganya.


Kuda bergerak dengan cepat dan menyerang pasukan Orc Goblin di sekitar mereka. Di bawah serangan kavaleri, pasukan musuh yang tidak siap terbunuh dengan mudah.


Bagaimanapun ini adalah benteng, bukan kota dimana ada banyak sekali rumah-rumah serta jalan kecil sehingga prajurit kavaleri sulit bergerak.


Jadi kecuali prajurit musuh bersembunyi di benteng secara langsung, kavaleri bisa membunuh mereka dengan mudah di lapangan benteng.


Penasihat yang melihat perubahan keadaan ini hanya bisa berteriak pahit "Seluruh pasukan mundur kembali ke benteng dan persiapkan senjata kalian, sedangkan Kavaleri Serigala yang masih hidup harus mengambil serigala mereka kembali di kandang! Selama kita membuat persiapan yang cukup, kita masih bisa menahan musuh dan melemparkan mereka kembali dari Benteng Rulfes atau bahkan mengalahkan mereka semua!".

__ADS_1


__ADS_2