
"Kau benar. Ibu sudah ada di negara ini dan dia mengatakan jika kau sedang memesan tempat di sini. Dia mengirimku kemari untuk memberitahumu bahwa dia ingin mengajak kita semua makan malam bersama."
Nita melirik penuh kemenangan pada Raina dan dengan tatapan yang seakan menghinanya. Raina terlihat begitu santai menanggapinya dengan berpura-pura menguap, seakan bosan dengan basa basi dari Nita.
Nita mengernyit dan menoleh kearah Adry ketika tidak mendapat tanggapan. "Bagaimana jika akhir Minggu ini. Aku rasa Raina tidak keberatan."
"Aku yang keberatan," tukas Adry tajam, mengatakannya dengan penuh keyakinan pada Nita.
"Jika sudah selesai sebaiknya kau pergi, kami ingin makan malam dengan tenang."
Wajah Nita memucat mendengar nada pengusiran dari Adry. Dia tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya oleh siapapun apalagi suaminya. Adry selama ini bersikap lemah lembut padanya. Hati Nita merasakan perih dan sakit yang sangat. Namun dia tetap bersikap elegan. Jika dia marah-marah itu hanya akan mempermalukannya di depan semua orang.
Dua sudut bibir Nita berkedut ketika mencoba untuk tersenyum. "Aku akan menelfonmu. Kita bicara lagi nanti."
Rasanya dia tergoda untuk menyatakan diri dimana posisinya kini. Namun, Raina cukup puas dengan duduk diam, melihat Nita merasa terpukul setelah apa yang Adry lakukan dan katakan. Raina melihat bagaimana istri tua Adry itu berjalan menunduk sembari menyeka sudut matanya. Itu belum seberapa dengan tangis yang dia keluarkan selama ini. Batin Raina.
"Raina, aku harap kau dan anak kita baik-baik saja," kata Adry memegang perut wanita itu dengan wajah cemas sepeninggal Nita.
Raina menarik secarik serbet dan menyeka bekas lipstik di bibir Adry. "Aku kira semua tidak akan berjalan seperti apa yang kita pikirkan. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh Nita dan Ibumu nantinya. Maaf kurasa aku ingin menegaskan ini padamu, entah kau akan mempercayai pada apa yang kukatakan atau tidak."
Adry melihat serbet di tangan Raina. Ada noda lipstik disana. "Aku tentu saja percaya dengan apa yang kau katakan. Hanya saja saat ini aku lebih peduli dengan makan malam kita. Aku tidak ingin merusaknya hanya karena kehadiran Nita tadi. Padahal kita telah melalui dua hari yang hebat," Adry tersenyum sembari menggenggam tangan Raina erat.
"Kau mengatakan itu karena merasa hasratmu telah terpuaskan. Berilah SE eks pada pasanganmu maka harinya akan menjadi luar biasa."
"Ini bukan hanya soal itu, walau aku akui itu mempengaruhi perasaanku saat ini. Ini soal hati kita."
__ADS_1
Wajah Raina terlihat berseri. Kehadiran Nita ternyata tidak membuat Adry berubah. Dia merasa puas kali ini.
"Kalau begitu apa yang akan kita lakukan lagi setelah ini. Aku bosan kau kurung terus."
Adry terkekeh. Dia mengambil minumnya dan menyesapnya. Di saat itu pelayan datang membawa pesanan makanan mereka.
"Bagaimana kalau kita menghabiskan malam kita di pinggir pantai."
"Berjalan-jalan dibawah sinar bulan bersamamu. Sepertinya itu ide bagus."
"Kita berdansa lagi seperti tempo hari," ajak Adry.
"Aku suka saat itu, terasa indah dan romantis. Hanya saja kau tidak membawakanku seikat karangan bunga yang dulu biasa kau berikan."
"Aku senang melihat senyummu. Aku akan melakukan apapun agar bisa membuatmu bahagia."
Kata-kata Adry begitu tulus terdengar. Seharusnya dia mempercayainya tetapi jika dia belum melihat sendiri bagaimana Adry membelanya di depan ibu mertua dia tidak bisa mempercayai pria itu seratus persen. Namun, apa yang Adry lakukan tadi pada Nita membuktikan bahwa pria itu memang ingin memulai hubungan baru dengannya. Hubungan tanpa adanya toxic yang mengganggu.
"Bagaimana dengan Leon?" tanya Raina tiba-tiba.
"Kita akan mengambilnya setelah kau melahirkan nanti Raina. Tinggal satu bulan lagi."
Mereka lalu mulai makan. Di tengah makan Raina tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Aku ingin hubungan ini berhasil," ucapnya menoleh menatap ke arah Adry.
__ADS_1
Dia kini yakin dengan perasaannya sendiri. Walau hal itu butuh permohonan maaf yang dalam dan pengorbanan tetapi dia ingin melalui itu bersama Adry lagi. Jalan untuk mereka bersama tidak mustahil untuk dilakukan jika mereka berdua punya tekad besar untuk mewujudkannya.
"Adry, apakah Leon tidak membenciku setelah apa yang dia lihat saat itu?" tanya Raina dengan nada cemas dan khawatir.
"Dia itu anakmu tentu tahu bagaimana sifat ibunya." Raina menatap ke dalam mata Adry sewaktu pria itu berbicara.
"Apa pikiranmu tentang kejadian itu. Apakah aku wanita yang kejam atau berdarah dingin atau juga ambisius sehingga ingin menghabisi ibumu sendiri? Kenapa kau tidak menanyakan hal ini padaku Adry?" cecar Raina ingin mendengar jawaban pria itu.
"Aku tidak ingin merusak malam kita hanya karena kita membahas masalah ini." Adry menangkup satu tangan Raina dan membawa ke dalam dadanya.
"Dengarkan aku. Tutup saja masalah ini rapat-rapat untuk kebaikan hubungan kita. Bagiku yang penting kau dan anak-anak kita dalam keadaan selamat. Besok kita pikirkan besok, jangan membuat segala sesuatunya sulit untuk kita."
Raina tidak puas dengan jawaban Adry. Dia ingin mendengar Adry berkata bahwa dia mempercayai Raina tidak akan mungkin melakukannya.
"Bagaimana jika Ibu memaksa kita untuk tetap bertemu," kata Raina enggan dan takut.
"Jika kau belum siap maka jangan lakukan yang penting sekarang adalah keselamatanmu dan calon anak kita ke depannya." Adry menangkup pipi Raina agar melihat ke netra hijaunya.
"Aku tidak akan pernah memaksakan sesuatu yang tidak kau sukai. Bagiku kau adalah segalanya, bukan aku tidak menyayangi Leon tetapi bagiku kau itu seperti nafas yang tidak bisa lepas dari diriku. Kali ini percayalah bahwa aku akan selalu berada di sisimu dan mendukungmu dengan sepenuh hati."
"Apakah kau akan mengatakan hal yang sama jika ibumu ada di hadapanmu?" cecar Raina.
Adry mengedipkan matanya tanda dia akan melakukan hal itu pada Raina. Berkali-kali Raina menanyakan hal yang sama dan berkali-kali pula dia tidak bosan untuk menjawabnya bahwa dia tidak peduli dengan masalalunya. Dia hanya ingin Raina ada di sisi walau dia harus membayar dengan mahal nanti.
Terakhir ayahnya sangat marah ketika Adry malah membela Raina. Carl bahkan mengancam akan mengeluarkannya dari keluarga jika sampai dia kembali pada Raina. Entah apa yang ibu katakan hingga Ayahnya membenci Raina. Bagi Carl Raina hanya sumber masalah bagi keluarga. Sebelum Raina datang, keluarga mereka terasa tenang. Namun, ketika Raina datang pertikaian sering terjadi dan Adry telah berkali-kali membangkang pada perintah ibunya
__ADS_1