Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Siksaan


__ADS_3

Wajah Hana menegang membuat Roy menghentikan gerakannya. Dengan jari yang gemetar Roy menggerakkannya ke bibir Hana. Menelusurinya.


Dada mereka sama-sama berdegub kencang bahkan tidak bernafas sama sekali. Kepala Roy mendekat sehingga nafasnya menerpa wajah Hana. Hana menutup matanya. Rasa takut dan rindu menjadi satu membuatnya tidak tahu apa yang harus dia lakukan


Wajah Roy mendekat, dia tidak mencium Hana tapi bibirnya menyentuh bibir Hana. "Hana, aku merindukanmu."


Nafas mereka memburu, hidung mereka saling bersentuhan. Sama-sama menginginkan tapi menahan perasaannya.


"Jika kau tidak memulainya terlebih dahulu maka kau tidak bisa melewati rasa takutmu."


"Apakah itu tidak memalukan?"


"Kau tidak akan tahu bagaimana perasaanmu jika tidak mencoba. Jika Roy yang memulai terlebih dahulu, mungkin kau tidak siap dan trauma itu akan kembali. Akan tetapi jika kau yang memulainya terlebih dahulu, itu artinya kau telah melawan rasa takutmu. Kita lihat kelanjutannya. Apakah Roy bisa membuatmu nyaman dan menghilangkan trauma itu atau kau masih butuh banyak waktu?"

__ADS_1


Perkataan Rama terngiang dalam diri Hana ketika mereka berbicara dalam sesi pengobatannya.


Hana memberanikan diri mendekatkan bibir mereka mengecup bibir Roy. Dia berhenti tidak tahu apa yang apa yang akan dia lakukan setelahnya dalam keadaan bibir mereka yang menyatu.


Roy terkejut dengan sambutan Hana. Sebuah seringai terbentuk di bibirnya.


"Biar aku mengajarimu bagaimana indahnya sebuah ciuman," ucap Roy lalu membelai lembut bibir Hana dengan lidahnya lalu berlanjut ******* nya. Membiarkan Hana rileks terlebih dahulu. Setelah membuat Hana terlena dan membuka mulutnya lidah Roy mulai bergerak. Dia membuat Hana melupakan ketakutannya dan menikmati apa yang Roy berikan.


Roy melepaskan tautan mereka membiarkan Hana mengambil nafas. Dia menatap manik gelap yang terlihat bergairah dengan kulit wajah yang memerah. Tangannya mengusap bibir Hana yang basah oleh air liur mereka.


Dia senang Hana mulai terbuka menerimanya setelah satu bulan lebih berusaha untuk memahami wanita itu dan mendekatinya.


Roy memiringkan kepalanya dan tersenyum. "Terima kasih." Roy lalu menarik tubuh kecil Hana dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Kita tidur. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur karena tidak memelukmu." Roy mencium pucuk kepala Hana.


Hana bingung, dia kira mereka akan melalui malam panas tetapi Roy hanya menciumnya sekali dan mengajaknya tidur. Sejenak dia tersenyum geli sendiri. Mengapa dia yang berharap bukan pria itu?


Mereka lalu berbaring. Roy memeluk pinggangnya dari belakang. Sesuatu yang keras terasa mengganjal di bagian belakang tubuh Hana. Hana menyatukan kedua alisnya, merasa tegang dan tidak nyaman dengan hal ini.


Kepala Roy berada di atas kepala Hana, menghirup dalam aroma yang dia rindukan selama beberapa hari ini. Ternyata, beberapa hari tanpa Hana membuat pikirannya kacau. Dia bahkan tidak bisa berpikir. Sosok Hana selalu membayangi dan berputar dalam otaknya. Rencana kunjungan yang seharusnya selama seminggu dia pangkas menjadi tiga hari.


"Kau bisa merasakannya? Aku menginginkanmu tetapi aku tidak ingin menghancurkan malam indah ini dengan sesuatu yang tidak terduga. Biarkan semuanya mengalir apa adanya. Aku akan menunggu hingga kau siap dan nyaman bersamaku."


Hana membalikan tubuhnya. Tangannya menyentuh dada Roy. Mengusap lembut dada pria itu.


"Jangan menyiksaku Hana. Aku tidak ingin lepas kendali."

__ADS_1


__ADS_2