
Ariana tersenyum tenang. "Semoga saja semua terjadi sesuai dengan keinginan kita. Kita hanya berusaha dan berikhtiar soal yang lain biar Tuhan yang menentukan."
"Kau benar." Nita lalu melihat ke sekitar.
"Leon dimana?" tanyanya.
"Dia diatas, sedang mandi."
"Aku ingin membawanya berjalan-jalan sebagai ucapan tanda selamat karena dia telah melewati semuanya dengan baik. Selain itu," Nita terdiam sejenak memikirkan kata yang tepat untuk dia ucapkan.
"Kau tahu kata orang tua, agar kita punya anak, kita harus menumbuhkan rasa kasih sayang dalam jiwa kita terhadap seorang anak. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan anak manapun. Kali ini ada Leon, aku ingin belajar mencintai anak darinya jika kau mengijinkan. Untuk itu aku ingin membawanya jalan-jalan hari ini."
Raina terlihat terkejut dengan permintaan Nita. Dia memikirkannya lagi. Tidak terbesit rasa curiga atau pikiran buruk pada wanita itu.
"Kau benar, kau harus belajar untuk mencintai seorang anak. Jika ikatan yang terjadi dengan mereka bisa kau lakukan biasanya kau akan segera punya momongan."
"Ya, sebelum aku benar-benar menggendong anakku sendiri. Aku ingin belajar menjadi ibu yang baik."
"Aku mendukungmu," kata Raina.
"Berarti kau memperbolehkan aku untuk bertemu dengan Leon setiap hari?"
"Tentu saja," ucap Raina. Pikirnya dengan Leon dekat Nita dia akan bisa bersama Ayahnya. Mungkin ini jawaban Tuhan, jika mereka harus saling rukun.
"Leon," panggil Raina. Leon lalu terlihat menuruni tangga.
"Lho kok masih baju santai," ujar Nita bangkit dan mendekat ke arah Leon.
"Aku terbiasa dipilihkan oleh ibu baju yang akan kupakai," ungkap Leon.
"Biar Ibu ambilkan," kata Raina berdiri.
"Hmm tidak usah biar aku saja. Kau jangan banyak bergerak sekalian aku belajar mulai dari sekarang." Nita lalu mengajak Leon ke kamar.
"Wah, ini baju yang ibumu belikan Leon?"
"Bukan, Ayah yang sudah menyiapkan semuanya untukku," ucap Leon. Nita sedikit terkejut namun dia lalu bersikap wajah.
"Sepertinya ini akan bagus, Levis dengan sweater berwarna abu-abu."
"Jangan pakai Jeans Tante, lukaku belum terlalu kering. Akan terasa sakit jika tertekan."
"Oh, maaf."
__ADS_1
Nita mengganti dengan yang lain, tetapi Leon menolaknya dengan berbagai alasan. Hingga dia merasa diujung pada batas kesabaran.
"Pakai stelan celana longgar itu saja, Kak," tunjuk Raina pada sepasang baju dan celana berwarna kuning cerah.
"Leon suka warna kuning dan biru laut," ucap Raina.
"Sama seperti Adry," celetuk Nita tersenyum sembari menyeka keringat yang keluar.
"Ini sepatumu Nak," kata Nita.
"Yang itu terlalu kecil Tante, yang itu saja lebih muat."
"Sayang warnanya tidak mathcing," kata Nita yang memang ahlinya dalam berfashion.
"Yang penting nyaman Tante untuk apa kelihatan bagus jika tidak terasa nyaman ketika digunakan."
Nita menghembuskan nafas panjang. Baru satu jam mereka sudah bersama Nita sudah sedikit kewalahan untuk mengurus Leon.
"C'mon Nita demi kebahagiaanmu," batin Nita.
Akhirnya mereka keluar dari apartemen itu. Mereka naik sebuah mobil mewah milik Nita. Di dalam mobil itu ada seorang sopir yang berpakaian seragam. Leon terlihat wow dengan apa yang dilihatnya.
"Kita mau kemana Tante?" tanya Leon.
"Wow, aku belum pernah melakukan itu sebelumnya."
"Kali ini jika kau ikut bersamaku kau boleh meminta apapun yang kau inginkan."
"Sungguh?"
"Tentu saja," ucap Nita memeluk bahu Leon.
Mereka lalu sampai di sebuah jalan dengan deretan toko bermerk dunia. Hal pertama yang mereka lakukan adalah membeli baju.
"Selamat siang, Nyonya Quandt," sapa salah seorang pegawai. Nita memang beberapa kali ikut peragaan busana merk terkenal itu selain itu dia terkenal sebagai istri dari seorang pengusaha besar di negeri Jerman.
"Leon, kemarilah," kata Nita menarik tangan anak itu mendekat setelah itu Leon di rangkul bahunya dan dibawa ke tempat baju anak.
"Lihat, keren semua kan?" kata Nita. Leon membuka mulutnya lebar. Dia lalu mendekat ke arah pakaian itu dan mulai memilih tetapi baju itu kembali diletakkan di tempatnya lagi.
"Kenapa?"
"Hmmm biar Tante saja yang memilih," kata Leon yang tidak pernah memilih baju sendiri. Bukan karena Raina tidak memperbolehkannya tetapi dia percaya dengan pilihan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa memilih baju yang kau suka," kata Nita.
"Aku tidak bisa memadukannya dengan bagus, biasanya Ibu yang akan memilihkannya." Dia tahu ibunya tidak punya uang lebih untuk memilih barang yang dia sukai.
"Kau harus punya selera dalam berpakaian agar terlihat gagah, elegan dan keren seperti Ayah Adry."
"Aku tidak bisa," Leon mulai mundur.
"Sekarang coba ambil satu atasan yang kau suka dan bawahan yang terlihat cocok. Kita bisa melihat apa selera bagimu bagus?" kata Nita memegang lembut dagu Leon.
Leon terlihat tidak percaya diri. Nita tersenyum.
"Apakah ini?" tanya Nita mengangkat pakaian itu satu persatu hingga Leon mengatakan baju mana yang dia mau.
"Sekarang masuk ke dalam ruang ganti itu dan coba bajunya," perintah Nita. Leon lalu menuruti keinginan istri Adry.
Sebuah panggilan masuk ke handphonenya. Nita langsung mengangkatnya.
"Nita kau masih harus melakukan pemotretan di Jakarta, namun aku mencarimu tidak ada?" tanya Angel kesal.
"Aku di Jerman. Aku melewatkan penerbanganku karena aku ingin bersama dengan Adry. Jika tidak aku bisa kehilangan dia untuk selamanya," ucap Nita berbisik.
"Namun kau sudah menandatangani kontrak kerja sama itu!"
"Bayar pinaltinya, aku tidak peduli, kehidupan rumah tanggaku lebih penting dari hanya sekedar soal uang saja."
"Lalu acara perhelatan Miss Indonesia itu?"
"Aku akan kembali ke Indonesia sebelum acara itu dimulai," ucap Nita lalu mematikan sambungan telepon itu.
Lima menit kemudian Leon keluar. Nita tersenyum lebar.
"Lihat, kau sangat tampan. Kau bisa memadu padankan baju dengan apik. Seleramu sangat tinggi sayang Ibumu tidak melihat hal itu ada padamu," puji Nita ketika mereka sedang menghadap sebuah cermin besar. Leon mematut dirinya di cermin dan tersenyum.
"Sekarang coba kau pilih sepatu mana yang cocok untukmu," ucap Nita. Leon mulai memilihnya dan dia memilih sepatu boots setinggi mata kaki.
"Wow keren sekali apalagi dipadu padankan dengan ikat pinggang ini," ujar seorang designer yang sedang menilik ke rumah mode itu untuk menilik sebentar penjualan baju desainnya.
"Wow, Michael," kata Nita senang melihat pria dengan baju kemeja yang dibuka beberapa kancing depan dan celana kain yang sangat halus binatunya. Nita lalu cipika-cipiki dengan pria setengah gemulai itu.
"Dia anakmu Babe," tunjuk Michael pada Leon.
"Anggap saja seperti itu," jawab Nita.
__ADS_1
"Tidak hanya saja dia sangat mirip dengan Tuan Adry." Mendengar hal itu membuat Nita hanya tersenyum kecut saja.