
"Yah, kita mampir beli ayam tepung ya?" pinta Leon ketika mereka sedang berada di dalam mobil.
"Ayo!" Mobil lalu mulai memutar untuk sampai di sebuah kedai makanan yang sudah mendunia.
"Tunggu jangan keluar dulu," kata Adry. Dia lalu bergegas membuka pintu belakang dan berjongkok.
"Ayo, kau naik ke punggung, biar Ayah gendong," ajak Adry. Leon membuka mulutnya lebar. Raina mengembangkan senyumnya.
"Ayo," kata Raina. Dengan mata berbinar Leon naik ke atas punggung Adry.
"Yeay!" teriak Leon senang. Mereka lalu memasuki rumah makan.
Leon memilih duduk sendiri agar bisa melihat kebersamaan orangtuanya, sedangkan Adry dan Raina duduk di depannya.
"Kau mau pesan apa?" tanya Adry.
"Ayam, kentang dan cola," kata Leon.
"Tidak boleh, minuman bersoda di larang oleh Dokter," larang Raina.
"Float mango, boleh?" tanya Leon.
"Baiklah," jawab Raina.
"Biar aku yang pesankan," kata Adry bangkit ke tempat pemesanan.
"Bu, Ayah sangat baik," ungkap Leon tiba-tiba. Sejenak Raina terkejut dengan kata-kata Leon tetapi dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Apakah kita akan di sini terus seperti ini Bu?" tanya Leon.
"Memang Leon ingin kita kembali atau tinggal disini?"
"Dimana saja asal ada Ayah, aku senang punya seorang Ayah, sudah lama aku menginginkannya."
"Kalau begitu, Ibu akan berusaha agar kau selalu bisa hidup bersama Ayah. Ibu akan melakukan semuanya agar keinginanmu bisa terwujud."
"Bukankah sudah terwujud," ujar Leon.
"Apanya yang terwujud?" tanya Adry membawa satu baki penuh makanan. Dia meletakkannya di meja.
"Wah, kita pesta besar," seru Leon.
"Kita pesta untuk merayakan keberhasilan dari operasimu," kata Adry mencium dahi Leon. "Selamat, Ayah sangat bahagia."
"Aku juga bahagia punya Ayah seperti mu," balas Leon memandangi Adry dengan berkaca-kaca. Sifat Leon memang selalu sensitif pada kebaikan-kebaikan kecil. Mungkin karena hidup dilingkungan yang jarang orang respek padanya sehingga dia menghargai siapapun yang menawarkan perhatian.
__ADS_1
"Ayah juga bangga punya anak hebat dan kuat sepertimu." Adry mengacak lembut rambut Leon.
"Kalau dengan Ibu?" ucap Leon memandang ke arah Raina yang sedang menyeruput minuman.
"Ayah senang karena dapat istri sebaik dan secantik dirimu, Sayang," kata Adry pertama kali mengucapkan Sayang. Hal itu, membuat Raina tersedak. Dia lalu menatap Adry.
"Sayang?" tanya Raina memandang Adry.
"Kenapa, apakah tidak boleh?" tanya Adry.
"Aku hanya terkejut tetapi itu tidak buruk!"
"Tanggapanmu hanya tidak buruk?" ujar Adry.
"Kau maunya apa?"
"Kau balik memanggilku, Sayang," ucap Adry.
"Itu membuat perutku geli, aku tidak pernah melakukannya pada siapapun, kecuali Leon tentunya." Raina hendak memakan ayamnya tetapi Adry malah menarik tangan Raina dan mengambil suapan itu.
"Ish, kau ini," ujar Raina. Adry tertawa geli. Raina terpukau menatap Adry tertawa. Baru kali ini dia melihatnya. Biasanya, wajah pria itu selalu kaku.
Satu kecupan mendarat di kepala Raina. "Maaf, kau bisa mengambil ayamku nanti."
"Tidak perlu," ucap Raina mengambil potongan ayam lalu menyuapi ke mulut Adry. Adry mulai mengunyahnya.
"Dia lebih manja darimu," ujar Raina. Satu tangan Adry lalu memeluk pinggang Raina dari belakang.
"Ayah hanya menikmati karena Ibumu ingin memanjakan Ayah terus."
"Mungkin karena Ibu mencintai Ayah?" Adry dan Raina menghentikan kegiatannya dan saling memandang.
"Kau benar, Ibumu sangat mencintai Ayah," ulang Adry menyeka noda saus di bibir Raina. Raina terdiam meneruskan makannya.
"Apa kau sangat menyukai menu ini, Nak, kau selalu memesannya setiap saat," tanya Adry mulai makan kentang goreng.
"Ini menu favoritku," jawab Leon kembali lagi fokus dengan makanannya.
"Tadi kalian bahas apa, soal terwujud mang apa yang belum terwujud?"
Raina menatap Leon.
"Aku ingin kita selalu bersama setiap saat, ada Ibu dan Ayah dalam satu rumah, ya seperti ini," ungkap Leon.
"Fix nanti akan Ayah wujudkan."
__ADS_1
"Kalau begitu kita akan tinggal dimana di negara ini terus atau kembali ke Indonesia?"
"Kau maunya tinggal dimana?"
"Di Indonesia, di sana aku bisa bahasanya. Di sini aku tidak mengerti dengan yang orang-orang katakan. Bahasanya belum aku mengerti dan kuasai."
"Kau harus belajar, Nak, karena Ayah berasal dari negara ini," ujar Adry. Sejenak Leon terdiam terlihat berpikir tetapi dia kembali fokus dengan makanannya.
"Aku ingin mengabadikan kebersamaan kita ini," ungkap Adry mengambil handphone dari kantong bajunya. Leon mendekat ke arah kamera sedangkan Adry memeluk bahu Raina. Di foto kedua terlihat Adry yang sedang mencium pipi Raina keras. Lalu banyak lagi foto kebersamaan mereka yang lain karena setelah itu mereka sempat berhenti di pusat kota. Leon yang memintanya karena ingin membuat kenangan indah di negeri ini.
Setelah itu mereka kembali pulang. Leon terlihat lelah, dia lalu tertidur di mobil.
Raina memegang pipinya Adry dan menatapnya.
"Kau terlihat sangat bahagia. Kau bahkan tidak berhenti tertawa dari tadi," kata Raina. Adry memegang tangan Raina dan meremasnya.
"Aku bahagia bisa bersama kalian." Dia lalu merangkul bahu Raina dan menariknya dalam dekapan.
"Tadi untuk sesaat aku takut semua kebahagiaan ini akan hilang tiba-tiba."
"Tidak, karena kami sangat menyayangimu," kata Raina mengecup pipi Adry.
"Hanya sayang? Itu kejam," kata Adry.
"Lalu kau ingin apa?"
"Aku ingin kau mengatakan cinta padaku," jawab Adry.
"Tidak, cinta itu terlalu berat untuk kita."
"Bagaimana bisa berat."
"Kau masih milik Nita, sepanjang hubunganmu dan dia masih ada, aku akan membentengi diriku agar tidak jatuh cinta padamu," jujur Raina.
"Raina jangan mengatakan tentang hal lain selain kita. Hal itu membuat moodku turun drastis," ucap Adry.
"Hubungan itu didasarkan atas saling kepercayaan dan tanpa kebohongan. Jadi aku akan bohong jika aku mengatakan baik-baik saja melihat kau bersama wanita lain."
"Kau cemburu?" Adry menoleh sebentar menatap Raina. Lalu kembali fokus ke jalan di depannya.
"Aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa membayangkan jika tubuhmu ini disentuh wanita lain. Egois karena aku yang menjadi kedua. Namun, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Aku ingin setiap malam hanya aku yang kau peluk bukan wanita lain. Apakah itu salah?" tanya Raina.
"Tidak, kau benar. Kita akan marah jika orang yang kita cintai bersama dengan orang lain."
"Kau benar," celetuk Raina tanpa sadar.
__ADS_1
"Berarti kau setuju jika kau mencintaiku?" tanya Adry tersenyum licik. Raina menyipitkan matanya menatap Adry tajam lalu dia tertawa dan mengalungkan tangannya ke leher Adry. Mengusap tengkuk dan rambutnya yang dicukur pendek
"Aku tidak tahu perasaan apa itu, tetapi aku takut jika kehilangan dirimu," ungkap Raina membuat hati Adry tenang dan hangat.