
Pagi hari sekali seperti biasa Raina bangun dan membersihkan diri serta mengganti bajunya. Semalam Roy membawakannya baju yang ada di rumah. Bukannya senang, Adry malah memarahinya. Kenapa tidak membelikan yang baru saja. Raina hanya bisa diam. Bajunya saja baru satu atau dua kali pakai dan ini mau dibelikan lagi, apakah cari uang untuk hanya dihamburkan saja.
Raina mengoles tipis wajahnya dengan make-up agar terlihat lebih segar dan mengikat rambutnya ke belakang dengan asal. Setelahnya, dia turun ke bawah dan melihat para pelayan sudah sibuk membersihkan rumah. Bau harum dari dapur pun sudah tercium di semua sudut rumah.
Para pelayan itu menyapa dan membungkukkan tubuhnya ketika berpapasan dengan Raina, wanita itu tersenyum manis pada semua orang, awalnya para mereka terkejut karena bukan watak orang sini untuk beramah tamah apalagi majikan. Namun, mereka langsung membalas senyuman Raina.
Raina lalu masuk ke dalam dapur dan membuat terkejut seluruh pelayan yang ada, bahkan kepala pelayan langsung meletakkan kopi yang sedang dia minum.
"Apakah ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya kepala pelayan itu hormat. Pelayan itu memang sengaja dipekerjakan oleh Adry karena bisa berbahasa Indonesia jadi tidak menyusahkan Nita jika sedang berada di sini. Walau Nita sudah terbiasa berbicara dengan bahasa Inggris atau Jerman.
"Saya mau membuat sarapan dan kopi," kata Raina.
"Biar saya menyuruh pelayan saja yang membuatnya Nona tinggal pesan melalui intercome."
"Suamiku suka dengan kopi buatanku, jika boleh saya ingin membuatkannya secangkir kopi dan segelas susu untuk putraku."
"Namun, Nyonya," pelayan itu terlihat keberatan.
"Aku mau membuat kopi jika kau menghalangiku aku akan minta pada suamiku untuk memperbolehkannya," ujar Raina keras kepala. Menurutnya, membuat makanan dan kopi di pagi hari adalah kewajiban seorang wanita karena anggota keluarga akan mendapatkan tenaga dari makanan yang dibuat tangan kita bukan orang lain.
"Baiklah Nyonya," kata pelayan itu mundur memberikan Raina waktu dan ruang.
"Tuan Adry suka kopi tanpa gula," ucap pelayan itu. Raina lalu membalikkan tubuhnya.
"Kini tidak lagi dia suka kopi dengan gula, karena manisnya gula juga akan membuat manis hidupnya selama seharian." Dia lalu kembali fokus menuangkan air yang baru saja matang.
"Kopi jika harus dituang dengan air yang baru matang agar terasa lebih harum dan nikmat," ucap Raina menuangkan air panas itu separuh mengudek
__ADS_1
Kepala pelayan itu mengangkat alisnya terkejut dengan perubahan sikap Adry,majikannya. Raina lalu meletakkan susu dan baki di atas baki dan mengangkatnya keluar dari ruang dapur.
Baru kali ini ada majikan yang masuk ke dalam dapur kotor. Batin Kepala pelayan dan pelayan lainnya. Raina juga orangnya sopan dan ramah batin mereka.
Raina terkejut ketika melihat ibu mertuanya ada di depan pintu. Wanita itu terlihat menarik dengan hanya memakai dress selutut tanpa lengan berwarna merah dan menyisir rambutnya ke belakang wanita itu sudah cantik dan menawan di pagi hari seperti mau bepergian keluar.
"Tidak pernah ada wanita dari keluarga ini masuk ke dalam dapur pelayan. Kau mempunyai dapur tersendiri di ujung sana! Itu pun tidak pernah terpakai kecuali untuk saat-saat spesial seperti mengundang seorang chef untuk memaksakan makanan ketika pesta atau hari spesial."
"Maaf Bu, saya tidak tahu."
"Memang pelayan tidak memberitahu mu?" seru Janeta tidak senang namun dengan suara yang rendah.
Para pelayan yang melihat lalu menundukkan pandangannya ke bawah merasa bersalah.
"Mereka tidak bersalah aku yang memaksa, setiap pagi aku memang selalu membuatkan kopi untuk suamiku, maaf jika itu adalah sebuah dosa dan kesalahan di keluarga ini," ucap Raina menunduk sembari memejamkan matanya.
"Ada apa ini?" tanya seseorang dibelakang Janeta.
"Raina membuat kopi untuk Adry, aku sedang menerangkan jika itu tidak perlu dilakukan oleh keluarga kita. Banyak pelayan yang bisa melakukannya jadi untuk apa kita membayar mereka jika pekerjaan kotor saja kita yang melakukan," ucap Janeta.
"Adry menyukai kopi buatanku lagi pula pekerjaan ini tidak sulit, bukankah membuat suami senang adalah kewajiban dari seorang istri?" kata Raina dengan suara gemetar melihat ke arah ayah mertuanya.
Tuan Carl menganggukkan kepalanya. Dia lalu mendekati Raina dan menepuk bahunya. Membuat Raina terkejut dan mengangkat kepalanya.
"Kau benar, lakukan apa yang menurutmu bagus. Membuat kenyamanan untuk suami juga sebuah hal yang wajib dilakukan oleh seorang istri. Beberapa hari ini Adry terlihat uring-uringan dan merasa kopi buatan para pelayan tidak ada yang pas ternyata kau penyebabnya. Sana berikan pada suamimu," kata Carl.
Raina menghela nafas lega dan tersenyum lalu pergi kembali ke kamarnya dengan membawa kopi dan susu hangat untuk Adry dan Leon.
__ADS_1
"Kau terlihat lebih memilih wanita kelas rendah itu daripada Nita. Walau Nita bukan wanita sempurna tetapi dia tahu tentang kebiasaan serta tidak memalukan jika diperkenalkan dengan orang lain, dia punya style dan gaya serta kemampuan untuk bersosialisasi dengan para kolega kita," sungut Janeta.
"Nita sudah bersama kita selama sepuluh tahun dan mengikuti semua kebiasaan kita. Sedangkan Raina masih baru satu hari, kita tidak bisa langsung menghujatnya jika dia tidak layak bersanding dengan Adry."
"Apapun itu, aku tidak ingin dia jadi menantuku," kata Janeta.
"Lalu jika kau tidak ingin apakah kau akan memisahkannya dengan Adry?"
"Adry sendiri yang akan mengatakan jika Raina tidak layak jadi istrinya!" ungkap Janeta.
"Kau terlalu ambisius, hati tidak bisa ditebak. Bagaimana jika Adry malah mencintainya?"
"Adry mencintai Nita bukan wanita itu. Jika dia mencintainya dari dulu dia memilihnya tetapi dia malah kembali bersama Nita. Dia hanya sedang menikmati kesenangannya dengan wanita lain," kata Janeta. "Aku ibunya tahu tentang hati putraku."
"Ya, sudah hanya jangan sampai tindakanmu, kau malah melukai Adry dan Leon nantinya."
"Aku tidak akan melakukan apa-apa, Adry sendiri yang akan yakin jika... ."
"Itu keyakinanmu bukan Adry. Sudahlah, aku mau kopi ku dan membaca berita di koran pagi ini."
"Crish buatkan kopi untuk Tuanmu ini dan bawa korannya ke teras samping," perintah Janeta. Carl lalu menatap ke arah istrinya.
"Ada apa?" Janeta melihat ke arah bajunya.
"Tidak apa-apa hanya merasa kau bertambah cantik hari ini," kata Carl padahal dalam hatinya ingin dibuatkan segelas kopi oleh istrinya.
"Kau selalu pandai merayu," ucap Janeta.
__ADS_1
"Merayu istri sendiri tidak salah kan?"