
"Kau belum tidur Hana?" tanya Roy mendekat dan menatap Hana yang memejamkan matanya.
Hana lantas membuka matanya dan menatap ke arah Roy, lalu tersenyum. "Aku ingin tidur lagi karena tubuhku sakit semua tetapi aku tidak bisa memejamkan mata. Mungkin karena perutku lapar," ungkap jujur Hana.
Roy mengangkat alisnya ke atas lalu tertawa kecil.
"Aku sampai lupa. Kakak ipar sepertinya membawa makanan kemari."
Roy mengambil bekal makanan yang dibawa oleh Raina di atas meja mulai membuka dan membawanya ke depan Hana.
Dia membantu Hana untuk bersandar di sandaran tempat tidur sebelum mulai menyuapi nya.
Roy menyuapi Hana dengan sabar. Hana menatapnya dengan seksama tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Bukankah kau takut padaku tadi, kenapa sekarang kau menatapku terus?"
Hana nampak kebingungan. "A-ku hanya ingin tahu apakah kau pria yang baik atau tidak?" jawabnya ragu dan gugup.
"Aneh, dulu sewaktu kau takut kepadaku kau tidak pernah mau menatap mataku sama sekali. Hingga kemarin pun kau hanya berani menatapku sebentar tidak lama, tidak seperti yang kau lakukan." Roy mengatakannya dengan tenang.
"Oh, iyakah. Aku lupa."
"Tidak apa-apa, kau akan ingat semua dengan pelan-pelan. Jika semuanya sudah membaik kita akan melanjutkan rencana pernikahan kita yang mungkin tertunda."
"Kita akan menikah?" tanya Hana heran.
"Iya, kau lupa? Cincin nikahnya bahkan sudah datang ketika kau mengalami kecelakaan."
Hana menghela nafasnya. Dia terdiam seperti memikirkan sesuatu. Roy sendiri terus menyuapi nya tanpa mengatakan sesuatu. Setelah itu dia menemani Hana yang tidak kunjung tertidur.
Pria itu hendak mengusap lembut bibir Hana yang terluka. Hana terdiam, tidak menolak atau menyambut.
"Ini kenapa? Terbentur apa?" tanya Roy.
"Entahlah aku tidak ingat, aku hanya tahu ketika aku dibawa kemari oleh seorang pria."
"Apakah sebelumnya dia merawatmu di rumahnya?"
"Ya, aku tersadar di rumahnya. Namun, kemudian aku tidak sadarkan diri lagi," terang Hana.
"Oh, jadi kau tersadar di rumahnya?"
__ADS_1
"Ya."
"Kalau begitu kita akan kerumahnya jika kau sudah membaik."
"Aku tidak tahu dimana rumahnya."
"Itu urusanku. Sekarang kau tidurlah. Aku akan keluar merokok dulu."
Roy lalu mencium kening Hana. Dia menghirup dalam baru mengangkat wajahnya.
"Aku mencintaimu."
Hana terdiam. Roy lantas keluar dari kamar memberi tahu Hyun yang duduk di kursi tunggu untuk mengikutinya.
"Kalian jaga baik-baik kamar ini." Roy memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ruangan itu dengan baik.
Roy lantas pergi ke rooftop, melihat ke sekitar dan setelah merasa aman dan tidak ada orang di sekitar itu, dia baru mengatakan sesuatu.
"Dia bukan Hana!" ucap Roy.
"Ternyata kau lebih cepat tahu dari perkiraanku, Pak."
"Kau kira aku pria bodoh. Apakah kau sudah curiga dengan masalah ini?" tanya Roy.
"Kau lihat ada beberapa kapal nelayan di sini satu jam sebelum kejadian. Lalu, ini speedboard, sekitar seratus meter dari lokasi kejadian."
"Untuk apa speedboard itu ada di sana?"
"Itu juga yang sedang kuselidiki.'' Hyun mulai memperbesar gambar itu berkali-kali lipat mengulang satu adegan. Dua orang terlihat turun dari speedboard ini dan tidak terlihat naik lagi. Jika mereka berenang akan terlihat di permukaan."
"Artinya mereka menyelam."
"Ya, ini lihat jamnya dengan waktu mobil Hana tercebur ke sungai. Sama. Seseorang sudah merencanakannya."
"Kau tahu kan jika anak buah kita adalah perenang handal. Tidak ada tanda mereka terkena luka serius tetapi mereka meninggal karena kehabisan nafas di dalam air. Itu aneh. Ada juga yang terkena tusukan benda tajam walau kata polisi itu kemungkinan besar karena terkena besi dari potongan mobil yang hancur."
"Kau mengira jika mereka dibunuh?"
"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya."
"Lalu dimana Hana? Apakah dia masih hidup? Jika masih hidup, apakah orang-orang itu menyekapnya?" Roy mengepalkan tangan geram dan murka. Wajahnya menegang dan mengeras.
__ADS_1
Hyun hanya mengangkat bahu dan menutup laptopnya.
"Aku memperhatikan luka di wajah wanita itu. Itu adalah luka pukulan buka terantuk sesuatu. Lalu hal yang membuatku ragu itu bukan dia adalah Hana menatapku dengan lama, sesuatu yang Hana tidak pernah lakukan. Trauma nya memang bisa diatasi tetapi dia tidak bisa melupakan kejadian itu. Hal itu, terkadang membuatnya takut tanpa sadar walau hanya untuk sesaat."
"Kau sangat detail sekali," ucap Hyun.
"Setiap malam aku bersamanya, mencium bau keringatnya, menyusuri setiap inci tubuhnya hingga aku hafal dan faham seperti apa tubuh Hana tanpa busana."
"Ish, Pak, kau membuat jiwa jomblo ku meronta."
Roy terkekeh mengeluarkan kotak sigaret, mengambil sebatang, lalu menariknya. Dia menyesap rokoknya.
"Aku ingin sekali mencekik wanita itu tadi dan menyiksanya agar dia mengatakan dimana kekasihku."
"Sabar, Pak, kita hanya perlu mengawasinya dari jauh. Dia yang akan menuntun kita pada Hana dan pelaku utamanya."
"Pelaku utamanya si Maruli tua, kita tahu itu."
"Aku takut jika kau gegabah dalam melakukan sesuatu, yang ada nyawa Nona Hana dalam masalah besar."
"Kau benar!" Roy kembali menyesap rokoknya dalam sehingga asap putih berbentuk 'O' keluar dari mulutnya dan terbang ke langit bersama dengan angin.
"Aku bukan aktor tetapi kali ini harus bersandiwara."
"Demi keselamatan Nona, Pak. Kali ini dengarkan saya! Jangan bermain dengan emosi tetapi permainan dengan cantik. Buat mereka terjebak dengan permainan mereka sendiri."
"Apakah kita harus memberitahu Kakakku?"
"Semakin sedikit orang tahu maka sandiwara kita akan berhasil."
"Kakak pasti akan marah jika tahu aku ikut dalam permainan ini tanpa memberitahunya."
"Jika Bos Adry tahu maka Nyonya Raina akan terlibat. Kau tahu sifat Nyonya Quandt yang suka terbawa emosi. Apakah dia bisa memerankan perannya dengan baik?"
"Sial! Apakah aku harus membawa kembaran Hana itu ke rumah? Jika iya bagaimana dengan anakku nantinya? Apakah mereka akan dalam bahaya jika berdekatan dengan wanita itu?"
"Kita harus mengawasinya setiap saat agar itu tidak terjadi. Biarkan anak-anakmu berinteraksi dengan wanita itu dan membuatnya lelah dan kesal. Jika begitu dia akan mengeluarkan sifat aslinya."
"Ck... aku tidak ingin membahayakan keselamatan mereka!" Roy nampak tidak setuju dengan cara ini.
"Kita harus membuat dia percaya bahwa kalian semua bisa dibodohi dia dengan mudah. Dia akan melakukan rencana dan keinginannya jika seperti ini. Tunggu hingga seminggu, Pak. Aku akan menyelidiki semuanya termasuk dimana kemungkinan Nona Hana berada." ujar Hyun.
__ADS_1
"Satu Minggu, itu akan terasa lama bersama dengan wanita busuk itu. Kita juga harus bisa menyelamatkan Hana secepatnya kalau dia masih hidup.Aku tidak bisa membayangkan seburuk apa nasibnya, kini."
"