
Raina duduk di pinggir kolam renang sembari memainkan kakinya di atas air. Pandangannya kosong. Dia merasa bodoh karena ikut Adry untuk tinggal bersamanya. Hal ini malah akan menambah masalah baru. Ibunya pasti akan datang dan membuat masalah baru, Nita akh entah apa yang akan dia rencanakan lagi untuk memfitnahnya dan Leon. Dia tidak tahan melihat tatapan anak itu ketika melihat ibunya menggenggam sebilah pisau berlumuran darah neneknya. Dia takut melihat Leon jijik dan benci ketika memandangnya.
Dia akan melawan semua dunia tetapi dia tidak bisa menghadapi anaknya. Pikiran apa ini. Raina sudah lelah untuk menangis karena tangisnya tidak berarti apa-apa. Air matanya sudah kering karena kebodohan Adry. Pria itu begitu mencintai keluarganya sehingga tidak bisa melihat kebenaran. Raina lelah dengan semua ini dan sudah menyerah tetapi Tuhan malah mengembalikannya kepada Adry. Kenapa Tuhan?
Dia akhirnya memilih untuk pergi lagi. Raina menghela nafas. Di saat itu dia melihat Adry masuk ke dalam kamar.
"Berpikir ingin pergi lagi?" tanyanya.
"Tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal."
Adry lalu duduk di samping sembari menyugar rambutnya dengan gelisah.
"Aku bersikap seperti pecundang dan aku minta maaf. Kau tidak seharusnya mengalami dan ketegangan ini hanya karena aku yang membawamu kembali ke masalah ini.
Raina membuka mulut untuk berbicara namun telunjuk Adry sudah berada di bibirnya. "Biar aku menyelesaikan kata-kataku."
__ADS_1
"Aku tadi sempat ke kantor hingga sampai sore. Ada masalah penting yang butuh penanganan dan kehadiranku. Tidak, jangan pikir aku akan mengabaikanmu dan lebih mementingkan pekerjaanku. Aku hanya berpikir jika kita tinggal di pusat kota maka bisa memangkas waktu. Kau tahu maksudku kan?" tanya Adry.
Raina ingin menyela tetapi sekali lagi Adry menahannya.
"Biarkan aku menjagamu Raina, selamanya. Kita lupakan masa lalu dan melihat ke masa kini."
"Tidak bisa selama ada Nita. Kita tidak akan pernah bersama."
" Dengarkan aku. Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku. Ada beberapa hal yang harus kita selesaikan dan kita tidak bisa mengatasi semuanya jika tidak menghabiskan waktu bersama dan berbicara."
Raina tidak pernah merasa sebegini hancur dan ingin menangis seperti sekarang. Seandainya dulu Adry mau mendengarkannya. Seandainya dulu dia mau berbicara dan mau mengerti. Seandainya dia mempercayainya. Satu-satunya yang dia andalkan dan dia percaya malah menatapnya penuh kecewa seolah semua itu terjadi karena kesalahannya dan kini pria itu ingin berbaikan dan kembali padanya? Apa dia tidak salah? Apakah dia mau kehilangan keluarganya demi seorang wanita dari kalangan bawah?
Ya Tuhan mengapa kau beri semua lelucon ini. Pria ini ingin dia kembali padanya merangkai masa depan yang sudah di hancurkannya dulu. Ingin rasanya dia menggeleng dan menolaknya mentah-mentah.
"Tidak ada Nita, tidak ada keluargaku atau tekanan dariku. Tidak ada kewajiban dan ini hanya tentang kita berdua. Beri aku waktu seminggu sebagai permulaan hubungan kita. Hanya itu yang ku minta dan kau yang mengatur semuanya. Aku hanya akan menerima apa yang kau berikan."
__ADS_1
"Lalu bayi ini?" tanya Raina ragu. Apakah pria itu masih meragukan anaknya?
"Aku tidak akan menanyakan lagi itu anak siapa karena aku yakin dia adalah anakku. Belum ada bukti dan aku tidak butuh dengan tes DNA itu. Kembalilah bersamaku lagi. Aku memberikan garansi jika kau kecewa kau boleh membuang diriku," Adry terkekeh sembari menyeka titik air mata yang merangsek hampir keluar.
Kepala Raina tertunduk melihat ke arah tangan yang dia tangkupkan di atas pangkuan. Tawaran Adry sangat menggiurkan dan menggodanya untuk menerima.
Dia meminta, bukan menuntut atau memaksa seperti biasa. Sejenak ingatan Raina kembali lagi pada saat kebersamaan mereka dulu.
Bisakah dia bersama dengan Adry setelah melewati kebersamaan selama seminggu penuh? Isi hatinya yang lain mulai ragu. Bagaimana dia akan ikut pria yang lebih memilih percaya perkataan orang lain daripadanya.
Akhirnya Raina menganggukkan kepalanya setelah berpikir cukup lama. Terpancar kelegaan dari tatapan Adry. Raina tidak tahu apakah Adry sedang melakukan tipu daya lagi bersama dengan keluarganya atau dia memang benar-benar perduli padanya.
"Besok kita akan berangkat ke kota. Aku memilih sebuah tempat dekat waduk sehingga kau bisa berjalan-jalan di sekitar sana setiap pagi. Apartemen itu juga dekat dengan rumah sakit untuk berjaga-jaga bila kau merasa tidak enak kita bisa langsung ke sana."
"Kau tidak akan menyesalinya, Sayang," ucap Adry membuat mata Raina berkaca-kaca. Sesuatu yang lama tidak pernah dia dengar dan dia merindukannya. Dia seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Kita akan menyelesaikannya bersama-sama. Kau hanya cukup memberikan kepercayaan padaku untuk kali ini saja."
Raina memejamkan matanya. Rasanya begitu menggoda mendengar perkataan Adry. Namun, mustahil melangkah ke depan jika mereka belum menyelesaikan masalalu. Buruknya Raina tidak akan pernah kembali ke masalalu yang mengerikan itu. Masa yang membuat dunianya terjungkal dan jatuh dengan begitu sakit hingga sulit baginya untuk hidup dan bangkit.