Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kabar Bahagia


__ADS_3

'Bukankah sudah kukatakan jangan sentuh masalahku tapi kau malah membuatku meradang. Kau mencuri berlian itu bersama dengan Nakamoto. Jika kau sampai keluarkan bukti itu ke masyarakat maka, dua anakmu yang akan jadi korban ku selanjutnya. Namaku Maruli, tidak peduli pada apapun yang penting aku menang dan bahagia. Kau bagiku seperti semut kecil yang mudah aku musnahkan! '


Pesan itu datang sehari setelah kejadian buruk yang menimpa Hana. Dua pengawal dan satu sopir di temukan sudah tidak bernyawa sedangkan Hana belum diketahui keberadaan. Roy masih bersikukuh bahwa Hana masih hidup. Dia melanjutkan pencariannya sepanjang sungai Ciliwung yang dalam dan besar.


Tiga hari ini, beberapa orang menyelam untuk mencari keberadaan Hana, baik itu dari tim SAR maupun dari orang suruhan Roy. Dia sendiri ikut menyelam jika tidak berada di atas perahu memeriksa setiap sisi sungai berharap Hana ditemukan.


"Roy, kau harus makan," ujar Adry menyerahkan sekotak nasi.


"Bagaimana aku akan makan jika di sana mungkin Hana kelaparan dan kedinginan," balas Roy.


Hati Adry perih mendengarnya dia duduk di sebelah Roy dan memeluk bahunya. "Kau harus kuat demi Hana, entah di mana itu. Jika kau sakit kau tidak bisa mencarinya malah berakhir di rumah sakit."


Roy menunduk menghela nafas dan menyeka matanya. "Jika aku tahu aku punya kutukan, maka aku tidak akan memaksa Hana untuk hidup denganku."


Tubuh besar pria itu bergetar. Adry terdiam. Meletakkan dagunya di pundak Roy yang terbuka. Roy baru keluar dari air setelah menyelam lama.


"Kau tidak punya kutukan, Hana pasti akan ditemukan. Kau harus percaya Hana masih hidup sebelum tubuhnya ditemukan."


"Harapanku tinggal sedikit ketika melihat betapa ganas dan derasnya arus bawah air ini. Mereka yang bersama dengan Hana pun sudah tidak selamat."


"Kau harus yakin, percaya padaku."


Roy tidak mengatakan apapun hanya raungan kerasnya yang menjelaskan sakitnya hati pria itu.


***


"Bagaimana... apakah tubuh Hana sudah ditemukan?" tanya Raina dengan suara rendah pada Adry ketika pria itu kembali ke rumah mereka.


Adry menggeleng lesu. Dia duduk di sofa sambil memijat kepalanya. Tidak ada yang mengabari berita ini pada Janeta karena kesehatan Janeta sedang memburuk mereka takut akan memperparah penyakit wanita paruh baya itu. Aaric dan Rere ikut orang tuanya ke Indonesia agar bisa menemani Ayu dan Bagus melewati kejadian buruk ini.


"Kasihan Roy mengapa nasibnya selalu buruk seperti ini," ucap Raina menangis. Dia sudah menganggap Roy seperti saudara kandungnya sendiri sehingga bisa merasakan hati Roy.

__ADS_1


"Bukan selalu buruk hanya saja kebahagiaan itu belum sepenuhnya datang padanya. Dia masih punya Ayu dan Bagus yang akan menemani hidupnya."


"Kau benar tetapi hidup tidak akan sempurna tanpa pasangan di samping kita."


"Aku percaya Hana masih hidup. Kata ibunya, Hana adalah perenang handal pernah ikut kejuaraan renang. Jadi dia bisa saja berenang ke tepian."


"Semoga saja, itu harapan kita." Raina menghela nafasnya dalam.


"Tolong ambilkan aku segelas air putih saja, kopi membuat pikiranku semakin keruh."


Raina lalu bangkit dan mengambil segelas air untuk suaminya dia duduk di sebelah suaminya yang langsung meneguk air itu dengan sekali teguk hingga tandas. Dia mengambil tisu dan menyeka mulut pria itu dan basah terkena air minum.


"Bagaimana anak-anak Roy?"


"Mereka masih terpukul tetapi Aaric dan Rere berusaha menghibur keduanya dan mengajak mereka berbicara."


"Apakah mereka sudah makan?"


"Sudah walau sedikit, aku membujuk dan menyuapi keduanya."


"Tentu saja. Anak Roy anak kita juga." Adry memeluk Raina dan mencium kepalanya menghirup aroma wangi wanita itu yang memberinya ketenangan dan kekuatan ketika dirinya diterpa masalah terburuk.


"Kau sudah makan?"


"Bagaimana aku akan bisa makan jika adikku saja belum makan sama sekali."


"Ck... kau bisa mengatakan ini dan itu pada Roy tapi kau sendiri tidak menjaga tubuhmu. Aku akan mengambil makanan karena kau harus makan."


"Aku tidak ingin, Raina," tolak Adry.


"Kau itu tiang keluarga kita jika kau rapuh dan jatuh sakit malah akan jadi beban Roy lagi. Kau harus kuat dan menguatkan Roy untuk itu kau juga harus makan."

__ADS_1


"Raina...," panggil Adry menatap kepergian istrinya ke ruang makan.


"Tunggu sebentar aku ambilkan makanan untukmu."


Adry menyalakan televisi dan menatap berita tentang jatuhnya mobil Hana ke sungai. Seluruh stasiun berita menayangkan berita tentang ini. Beberapa netizen bahkan mengupload foto sebelum dan setelah kejadian itu entah dari kamera handphone maupun kamera CCTV.


Hal samapun dilakukan oleh Hyun dia mencari keberanian Hana lewat semua foto yang ada di lokasi kejadian atau sepanjang sungai Ciliwung. Berusaha mendapatkan titik temu yang akurat.


Dia melihat ada sesuatu yang janggal ketika ada sebuah speedboat berhenti tidak jauh dari lokasi ketika peristiwa itu terjadi.


Dia mengamati dan memperbesar semuanya. Merasa aneh lalu bangkit dan mencari Roy untuk mengatakan hal ini. Namun, Roy tiba-tiba masuk ke dalam kapal.


"Ada seseorang pemancing membawa seorang wanita ke sebuah klinik. Katanya dia menemukan wanita itu tergeletak di pinggir sungai. Dia tidak mengatakan apapun lagi, lalu pergi diam-diam. Dokter yang berjaga mengatakan jika wajah wanita itu sama dengan Hana dan dia masih hidup."


"Nona masih hidup, Pak?" tanya Hyun tidak percaya. Ikut senang dengan berita itu.


"Kalau begitu kita segera ke sana memastikan apakah itu benar Hana atau bukan," ucap Hyun.


"Ayo, cepat."


Hyun mematikan laptop miliknya dan membawanya ke dalam tas sebelum mengikuti pergerakan majikannya.


Dua jam kemudian mereka berada di sebuah klinik yang dimaksud. Dengan dada berdebar Roy berjalan melewati lorong-lorong, ditemani oleh petugas rumah sakit dan beberapa orang dari Tim SAR.


"Kami yakin dia adalah Hana yang sedang kalian cari," ucap kepala klinik.


Roy membuka pintu sebuah ruangan dengan gemetar. Dia menarik nafas dalam takut jika yang dia temukan tidak seperti yang dia harapkan.


Roy mulai melongok ke dalam ruangan itu, menatap tubuh yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Berbagai alat terpasang di tubuh wanita itu.


"Hana," ucap Roy tersenyum mendekat ke arah Hana dan memeriksa keadaan wanita itu. Terdapat lebam dan luka memerah di wajah surya tubuh wanita itu. Mungkin terkena benda ketika kecelakaan terjadi atau mungkin ketika tubuhnya terbawa arus sungai yang deras.

__ADS_1


"Kondisinya sudah mulai stabil. Nafasnya sudah kembali normal karena kami sudah mengeluarkan sebagian cairan yang masuk ke dalam paru-parunya. Namun kepalanya mengalami retak. Hanya menunggunya sadar."


Roy bernafas lega. Setidaknya calon istrinya selamat jadi dia pernikahan mereka akan tetap terjadi walau harus ditunda terlebih dahulu.


__ADS_2