
Kabar ditemukannya Hana membuat semua orang senang tidak terkecuali Adry dan keluarganya. Mereka langsung berangkat ke klinik yang dituju membawa serta Ayu dan Bagus yang sudah tidak sabar membawa mereka.
Roy masih menunggu Hana terbangun di kamar. Dia memegang tangan Hana dengan satu tangannya serta tangan lain mengusap pipi yang membiru dan sudut bibir wanita itu yang pecah.
"Apa yang terjadi hingga kau sampai menjadi seperti ini." Membayangkan bagaimana Hana berjuang untuk bisa hidup.
Roy sudah memerintahkan Hyun untuk menjaga kedua anaknya dengan baik. Dia juga mengetatkan pengamanan di rumah sakit ini tidak mau kecolongan lagi.
Dia kedua tangannya menggenggam tangan Hana lalu menciumnya dalam.
"Ibu... Ibu selamat," teriak Bagus dan Ayu ketika melihat Hana. Mereka memeluk ibunya dari kedua sisi.
"Aku takut sekali Ibu meninggalkan kami," tangis Bagus memeluk ibunya.
"Ibu baik-baik saja kalian jangan khawatir," ucap Raina mengusap kepala Bagus menenangkan anak itu.
"Ibu tidak membuka matanya? Ini pasti sakit sekali. Hu...hu... Ayah... beri obat biar ibu cepat sembuh dan bangun lagi."
"Ayah akan melakukan yang terbaik untuk ibu kalian. Keselamatan Ibu, berkat doa kalian juga. Sekarang doakan agar Ibu cepat sembuh."
Ayu dan Bagus mengangguk.
Adry dan Raina yang melihat saling bersandar dan tersenyum bahagia.
"Bagaimana ceritanya Hana ditemukan?" tanya Adry.
"Ada orang datang membawa Hana kemari. Dia bilang jika dia menemukan Hana dua hari lalu di pinggir sungai, di rawat namun wanita ini tidak kunjung siuman jadi dia membawa kemari. Setelah itu, dia pergi diam-diam tanpa mengatakan siapa apapun. Dokter lalu menghubungi Tim SAR dan akhirnya kami tahu berita itu langsung kemari."
"Syukurlah, aku senang melihat kalian bisa bersama lagi. Kau jaga dia baik-baik jangan melakukan hal aneh yang bisa membuat keluarga kalian dalam bahaya lagi. Cukup Karina jangan kau bawa Hana juga ke dalamnya."
"Iya, Kakak. Aku sangat takut kemarin dan hampir frustasi dan putus asa ketika Hana tidak ditemukan."
"Aku tahu bagaimana rasanya itu."
"Jika keadaannya stabil kita bawa saja dia ke Jerman. Dia butuh perawatan ekstra."
"Iya Kakak." Adry menepuk bahu adiknya.
Raina sendiri hanya diam, tidak mampu untk mengatakan apapun hanya mengusap kepala Bagus yang ada di depannya. Anak itu memeluk Hana terus menerus. Bagus memang lebih dekat dengan Hana jadi dia lebih merasa kehilangan. Dia selalu menangis setiap saat setelah mendengar kabar Hana masuk ke sungai. Jika Ayu malah lebih tegar. Dia terlihat sedih namun beraktifitas seperti biasanya.
Jari tangan Hana mulai bergerak, kelopak matanya pun mulai terbuka pelan-pelan. Mengerjap, lalu menatap semua orang yang ada di tempat itu.
"Ayu, Bagus." panggil Hana. "Kenapa aku ada di sini?" tanyanya dengan suara lirih.
__ADS_1
"Kau mengalami kecelakaan hebat lalu mobil yang kau tumpangi masuk ke sungai, kami bersyukur kau masih selamat." Roy bernafas lega.
"Kau siapa kau...?" tanya Hana.
"Tunggu... kau... kau pria yang telah menodaiku... pergi kau... aku membencimu..." seru Hana histeris.
"Jauhkan dia dariku!"
Tubuh Roy ke belakang ketika Hana berteriak padanya. Dia menatap Roy dengan penuh kebencian. Seorang dokter masuk dan mulai memeriksa keadaan Hana.
"Sebaiknya kalian keluar sekarang! Biarkan pasien istirahat terlebih dahulu."
"Usir dia, Dokter, jangan biarkan dia ada di sini. Dia orang yang jahat."
"Ibu, Ayah adalah orang baik."
"Dia jahat kalian jangan dekat-dekat dengannya."
Roy dan semua orang yang ada di ruangan itu lalu keluar dari ruangan. Dia bingung dengan semua yang terjadi. Apakah Hana melupakan kebersamaan mereka selama ini?
Berbagai tanda tanya melayang dalam pikiran Roy namun dia menenangkan diri yang penting sekarang Hana selamat.
Tidak lama kemudian dokter dan perawat yang tadi memeriksa kembali keluar ruang perawatan.
"Bagaimana keadaan Ibu anak saya, Dokter? Kenapa dia lupa pada saya?"
Roy menarik nafas dalam. Terdiam namun netranya nampak berpikir keras. Dia menatap kakaknya. Adry memejamkan mata sejenak yang memberi isyarat Roy bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kapan hilang ingatan Hana akan pulih. Dia hanya ingat jika dia pernah membenciku karena suatu salah faham."
"Anda harus sabar Tuan, Roy, yakinlah semua akan baik-baik saja," ujar Dokter itu. Roy hanya bisa mengangguk pasrah.
Ayu dan Bagus memeluk Roy.
"Kami akan menerangkan pada Ibu jika Ayah mencintainya." Ayu mengangguk menanggapi omongan kakaknya.
"Ayah adalah Ayah terbaik dan lelaki terbaik. Ibu pasti akan jatuh cinta lagi pada Ayah seperti kemarin," ujar Ayu.
"Tahu apa kamu tentang jatuh cinta."
"Kan kayak yang di vidio itu," ujar Ayu.
Roy lalu membalas memeluk erat keduanya. "Ayah akan mendapatkan cinta Ibu lagi, percayalah. Tapi kalian harus bantu Ayah, Okey? "
__ADS_1
"Semua akan kulakukan untuk Ayah," ujar Ayu dan Bagus bersamaan.
"Kau lihat kedua anakmu akan membantumu menemukan cinta Hana lagi. Kau jangan khawatir."
Wajah Roy tersenyum namun netranya masih terlihat cemas dan sedih.
"Pak Roy, percayalah ini hanya untuk sementara saja kau hanya perlu bersabar."
"Baik, Pak Dokter!" ucap Roy.
"Oh, ya pasien jangan diganggu dulu, biarkan dia beristirahat di dalam. Kalian bisa kembali besok kami akan menunggunya di sini."
"Tidak perlu Dokter, saya akan menunggu Hana sendiri. Biar anak-anak pulang bersama kakakku."
"Terserah, hanya saja Anda harus sabar dan juga perhatian pada Nona Hana."
"Baik Dok."
"Kalau begitu saya pergi dulu, melihat pasien lainnya," pamit sangat Dokter.
"Terimakasih banyak, Dokter."
Dokter itu lalu pergi meninggalkan lorong itu.
"Apa kau tidak apa-apa ku tinggal sendiri?"
"Tidak masalah, ada Hyun yang menemaniku," ujar Roy.
"Ya, sudah." Adry memeluk tubuh Roy bergantian dengan Raina.
"Akan ada pelangi sesudah gelap. Kau jangan khawatir, semua akan berakhir bahagia nanti," ujar Raina.
"Iya, kakak!" ucap Roy.
"Ayah kami pulang dulu." Roy menunduk dan mencium dua anaknya. Mereka berempat lalu pergi dari rumah sakit meninggalkan Roy sendiri. Hyun sendiri asik melihat laptopnya di ujung lorong. Tidak melihat Adry yang melewatinya.
"Ck... kau itu... masih saja menganggap laptop adalah istrimu."
Hyun mengangkat kepala dan tersenyum.
"Jaga bosmu dengan baik."
"Siap, Tuan!"
__ADS_1
Adry meninggalkan Hyun yang masih menatap lekat laptopnya.
"Aneh... sesuatu jelas terjadi di sini tapi apa? Ada banyak yang janggal. Ini konspirasi besar, aku harus menyelidiki semuanya," gumam Hyun menatap rangkaian kejadian yang terjadi di mobil Hana dan sekitarnya yang ada dilayar laptop.