Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Penolakan


__ADS_3

"Biarkan saja. Biar ini jadi pembelajaran untuknya, Raina," seru Carl.


"Ayah tidak pernah mengajarimu melakukan tindak kekerasan. Terhadap ibumu saja, ayah tidak pernah berbuat hal ini. Itu tindakan seorang pengecut yang melukai fisik dan perasaan wanita. Kau tahu kenapa, kau merasa gagal untuk membuatnya mengerti apa yang kau inginkan sehingga memaksakan keinginanmu padanya. Gunakan hati dan bicarakan dengan baik, bukannya main fisik!" bentak Carl dengan wajah memerah.


Dia tidak suka jika Leon membenci keluarga ini hanya karena tingkah istri dan anaknya. Anak itu adalah masa depan keluarga ini, tidak bisa disepelekan. Hal ini akan menjadi trauma yang mendalam baginya.


"Sekarang antar mereka kembali ke apartemen lamanya. Biarkan mereka hidup tenang untuk sementara waktu. Jangan ada yang membuat masalah lagi. Siapapun orangnya, jika aku tahu, aku akan mengusir kalian dari sini."


Raina bisa tersenyum tenang sedangkan Janeta menahan kemarahannya, dia menundukkan wajah agar tidak terlihat oleh Carl. Nita sendiri menggerutu, dia kira semua akan terjadi seperti yang dia pikirkan. Nyatanya, ayah mertua malah membela Raina.


Adry akhirnya mengantar Raina dan Leon kembali ke apartemen mereka. Tidak ada yang berbicara dalam mobil itu. Leon dan Raina duduk di belakang saling berpelukan. Sesekali Adry melirik melalui kaca spion tetapi Raina segera memalingkan wajah.


Mereka sampai ke depan unit apartemen. Raina dan Leon langsung masuk saja ke dalam. Mereka mengabaikan Adry yang telah mengantarkan mereka.


"Aku minta Pasporku dan Leon," ucap Raina tiba-tiba.


"Kalian?"


"Aku ingin mengakhiri ini semua dan kembali ke kehidupan kami yang lama." Adry hendak mengatakan sesuatu tetapi Leon langsung berdiri di depan ibunya untuk menjadi perisai.


"Aku...," Adry tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menghela nafas panjang.


"Aku akan pulang dengan atau tanpa persetujuanmu!" ungkap Raina.


"Aku akan mengantarkan kalian. Namun, aku punya syarat, kalian harus tinggal di rumah yang kusiapkan!" ungkap Adry. Leon dan Raina saling memandang.


"Baiklah! Hanya saja secepatnya kami ingin kembali ke sana," ucap Raina lalu mengajak Leon meninggalkan tempat itu.


Adry hanya berdiri mematung melihat kepergian mereka berdua. Setelah tidak nampak lagi, Adry membalikkan tubuhnya dan keluar dari rumah itu. Dia pergi menuju ke kantornya dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu.


Berat rasanya kehilangan orang yang kita cintai tetapi dia tidak bisa membuat mereka berdua mengerti jika dia sangat membutuhkan mereka. Dia yang salah di sini tetapi dia melakukannya karena Raina memancing emosinya. Semua sudah terjadi dan rasa menyesal itu tetap bersarang di dada.


***

__ADS_1


Setiap hari Adry datang untuk menengok Raina dan Leon. Membawakan mereka makan atau apapun. Berusaha untuk mendekatkan diri lagi pada mereka. Namun, semua terasa sia-sia. Leon tetap acuh padanya bahkan tidak mau melihat wajahnya.


Sedangkan Raina tetap bersikap baik hanya saja dia menjadi dingin dan tidak banyak kata yang terlontar dari bibirnya.


"Raina kumohon berilah kesempatan padaku lagi untuk memulainya dari awal."


"Maaf, aku tidak bisa, kau tahu sendiri jika sebelumnya aku pernah mengatakan akan pergi andai kau sampai menyakitiku."


"Raina, aku tahu aku salah hanya saja aku tidak bisa tanpa kalian?"


"Tanpa ku atau tanpa Leon?" tanya Raina tidak percaya. Dia tahunya Adry hanya membutuhkan Leon bukan dirinya.


"Kalian berdua. Kau hidupku dan Leon masa depanku," ujar Adry.


"Lalu, siapa aku di mata orang tuamu? Andai kau harus memilih aku atau Leon siapa yang akan kau pilih?" tanya Raina.


"Kau tidak bisa menjawab kan, pergilah. Aku tidak membutuhkan pria sepertimu," ujar Raina membalikkan tubuhnya hendak pergi. Namun, Adry memeluk tubuh Raina dari belakang.


"Cinta ... aku tidak percaya dengan cinta atau pria lagi," ucap Raina.


Adry mencium aroma rambut Raina yang dia rindukan.


"Lepaskan aku, Adry!" ungkap Raina. Bagaimanapun rasa cinta itu tetap ada di diri Raina tetapi rasa kecewanya menjadi perisai kebersamaan mereka.


"Raina aku tahu kau masih mencintaiku," ujar Adry.


"Tidak semudah itu menyatukan kembali gelas yang sudah pecah. Jangan memaksaku atau kau tidak akan pernah menemukanku lagi," ancam Raina membuat Adry mundur.


"Jangan katakan perpisahan," ungkapnya sakit. "Aku tidak sanggup mendengarnya."


"Jika begitu biarkan kami hidup dengan tenang. Katakan kapan kau akan membawa kami kembali ke Indonesia?" tanya Raina.


"Dua hari lagi," ucap Adry.

__ADS_1


"Baguslah aku akan bersiap kalau begitu." Raina berjalan meninggalkan Adry tetapi tangan pria itu meraih tangannya dan menarik tubuh Raina ke dalam pelukannya.


"Satu ciuman saja sebelum aku pulang," kata Adry. Dia menelan Salivanya menunggu persetujuan Raina. Sudah tiga jam dia menunggu Leon keluar namun anak itu memilih berada di kamarnya. Raina sendiri meninggalkannya di ruang tengah sendiri hingga baru sepuluh menit yang lalu wanita itu datang untuk menawarinya makan malam yang telah dingin.


Adry mengusapkan pipinya ke pipi Raina sehingga bulu-bulu halus di wajah Adry menggesek kulit lembutnya.


Raina juga merindukan pria ini. Andai kata mungkin dia ingin hidup bersama Adry dan Leon. Bersama dan dalam kesederhanaan.


Bibir hangat pria itu mulai menyentuh bibirnya. Tiba-tiba tamparan Adry membuat Raina membuka matanya kembali dan memundurkan wajah.


"Aku tidak bisa, lukaku terlalu dalam untuk melupakan semuanya," ucapnya lalu meninggalkan Adry sendiri di ruangan itu. Pria itu akhirnya menyerah dan kembali lagi ke rumah orang tuanya.


Dengan langkah gontai Adry memasuki rumah dari pintu utama dan berjalan melewati ruang tamu yang luas dan gelap.


Suara tepukan terdengar dan lampu langsung menyala, ayahnya sedang duduk di sebuah kursi besar menatap dirinya tajam.


"Kau belum juga bisa membawa cucu dan menantuku kembali?" tanya Carl tegas dan berwibawa.


Adry menatap ayahnya dan menghela nafas. Dia menggelengkan kepala.


"Apakah selama itu bagi seorang Adry Carl Quandt untuk menaklukkan hati seorang wanita? Kau nampak seperti kalah berperang saja, Nak?" ejek Ayahnya.


Adry tetap terdiam. Dia lalu duduk di salah satu kursi lalu menyatukan kedua tangan dan kedua siku menumpu di pahanya.


"Jika hanya wanita biasa mungkin akan mudah, tinggal kau beri dia uang atau barang mewah mereka pasti akan tersenyum lagi padamu. Namun, Raina berbeda. Dia bukan wanita yang tertarik pada hal itu. Dia wanita bebas yang suka dengan kebebasannya namun tetap berbudaya dan memegang teguh kepercayaannya."


"Jika dia istimewa tentu akan sulit untuk didapatkan dan butuh waktu dan tenaga lebih untuk bisa memiliki hatinya. Namun, sayangnya kau telah membuat cacat berlianmu sehingga tidak berkilau lagi. Kau harus bisa membuat hatinya senang dengan ketulusan dan perhatian bukan dengan ucapan saja apalagi hadiah. Sehingga cahaya bisa masuk kembali ke dalam hatinya yang suram karena kebodohanmu."


"Iya Ayah," jawab Adry.


Sedangkan di atas Janeta menatap suami dengan anaknya dengan perasaan marah. Dia sudah memikirkan rencana untuk menjebak Raina agar berpisah selamanya dari Leon dan Adry.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bertahan di sini?"

__ADS_1


__ADS_2