Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Gangguan


__ADS_3

Dua harian ini Adry mengurung Raina di kamarnya mereka hanya makan minum dan bercinta saja. Tidak ada hal lain yang dilakukan. Seperti melakukan honeymoon yang tidak pernah mereka lalui bersama.


Adry mencium kening Raina setelah melakukan penyatuan itu lalu turun dari sana dan duduk dengan tegak. Menyelimuti wanita itu lalu mengambil tissue untuk menyeka kening Raina yang basah oleh keringat.


Dia lalu meletakkan bantal untuknya bersandar tetapi Raina menariknya sembari tersenyum. Senyum ceria yang lama tidak pernah dilihat oleh Adry akhirnya kembali lagi.


"Akan kulakukan apapun asalkan istriku bahagia," kata Adry. Kata istri membuat hati Raina geli.


"Istri? Sampai kapan Adry?" tanya Raina. "Bagaimana jika ibumu datang atau Nita apakah pikiran itu masih tetap ada dalam benakmu?"


Adry menarik nafas dalam. Dia harus memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Cepat atau lambat semua akan terjadi. Dia tidak ingin membuat satu kesalahan lagi di saat hubungan mereka baru saja dimulai.


"Kukira semua tergantung padamu," jawab Adry membuat Raina tertegun untuk sesaat.


"Aku?"


"Kurasa aku sudah mengatakan apa yang kuinginkan tentang hubungan kita secara jelas. Kini semua terserah padamu, apakah kau mau menerimaku kembali masuk ke dalam hidupmu sepenuh hati. Melewati semua permasalahan ini bersama, membuat loncatan besar dalam hidupmu. Sehingga kita bisa mengatasi dan menyelesaikan masalah ini bersama."


Raina menelan ludah dan dia bisa melihat ketakutan di mata Raina. Perutnya terasa mulas memikirkan apa yang akan menjadi jawaban Raina.


"Aku pikir aku bodoh jika mempertimbangkannya." Akhirnya, kalimat itu bisa keluar juga dari bibir wanita itu.


"Turuti kata hatimu saja, Raina. Aku tidak akan memaksa," ujar Adry pelan tetapi perutnya semakin terasa melilit membayangkan Raina mengatakan tidak.

__ADS_1


"Hatiku sangat menginginkan ini tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya setelah kita bercinta. Pikiran kita berdua sedang kacau dan aku takut keinginan ku hanya nafsu sesaat yang menyesatkan."


"Justru ini waktu yang tepat. Tidak ada penghalang, hanya kau dan aku saja, Raina."


"Hubungan kita butuh sebuah kepercayaan dan kepercayaan ku untukmu sudah runtuh. Namun, aku ingin mencoba lagi untuk tetap bersamamu," ujar Raina.


Senyum Adry mengembang lebar, kebahagiaan dan kepuasan serasa menerjang dalam diri Adry. Dia menahan perasaannya yang meluap-luap dan membuat nafasnya terhenti. Yang ingin dia lakukan adalah memeluk Raina dalam dirinya.


"Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Akan kugunakan kesempatan ini untuk membuatmu kembali percaya padaku."


***


Malam harinya Adry mengajak Raina ke sebuah restoran hotel bintang lima. Dia memesan kursi khusus untuk mereka. Ini seperti perdananya mengenalkan pada khalayak umum jika Raina adalah istrinya. Dia belum pernah melakukan ini. Membawa Raina dalam lingkungannya. Yang pertama adalah membuat wanita itu terbiasa dahulu dengan apa yang dia lakukan dalam keseharian dan pekerjaannya.


Raina tampil cantik dengan balutan dress satin hitam polos. Bulatan penuh perut wanita tercetak jelas di tubuhnya. Hal itu, membuat bangga Adry ketika berjalan bersama. Seperti membuktikan bahwa dia pria sejati yang bisa membuat hamil istrinya. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan dulunya.


Hal itu, membuat hati Raina lega karena merasa diakui sebagai istri yang sah oleh Adry. Apalagi ketika Adry mengatakan Leon adalah anak mereka, walau mereka nampak terkejut tetapi mereka terdiam karena segan dengan suaminya. Apalagi mengingat umur Leon yang sudah besar mereka akan mengira jika dia lebih dahulu menikah dengan Adry. Namun, itu hanya tebakan pikirannya entah pikiran orang-orang diluar.


Raina dan Adry duduk di salah satu meja atas nama mereka berdua. Memesan makanan. Tangan Adry meremas tangan Raina berkali-kali seakan ingin mengatakan jangan panik semua akan baik-baik saja.


Satu sosok terlihat dari jauh mendekat ke arah mereka. Dengan tegang Raina menatap ke sosok itu mengira jika Adry memang mengundang Nita ke tempat ini.


"Aku tidak melakukannya," ujar Adry tahu apa yang Raina pikirkan.

__ADS_1


Dengan langkah cantik dan anggun, Nita mendekati meja Adry. Semua mata di tempat itu tertuju pada mereka bertiga. Mereka mengira akan ada pertengkaran hebat antara istri dan pelakornya.


"Hai, Adry," kata Nita kalem dengan senyuman lebar. " Aku sedang ada pertemuan dengan klienku dan aku tidak tahu kau ada di sini. Kebetulan yang aneh bukan?" ujar Nita meminta tempat duduk tambahan pada pelayan.


Adry mendongak lalu mendesah jengkel karena gangguan yang tidak bisa dia elak tersebut. Setelah, dua hari penuh dia menikmati kebersamaannya dengan Raina, kini ketika mereka memutuskan untuk keluar Nita datang.


Raina sendiri melihat tatapan sinis orang-orang pada dirinya seakan menyalahkannya atas apa yang terjadi dalam rumah tangga Nita. Hal itu sekali lagi membuktikan jika keluarga dan lingkungan Adry tidak menyukai kehadirannya dalam hidup Adry.


Meskipun kata orang cinta adalah segalanya tetapi bagi Raina cinta tidak cukup kuat ketika semua orang tidak mendukung hubungan mereka. Terutama keluarga Adry yang akan melakukan segala cara untuk menyingkirkannya.


Kini sekali lagi dia merasa akan menjadi penghalang bagi kehidupan Adry ke depannya dan penghalang hubungan Adry dengan keluarganya.


Nita mendekati Adry ingin mencium pipi pria itu tetapi Adry berpaling. Nita tidak ambil diam, dia malah mengecup bibir Adry sehingga lipstik merah menyala itu membekas di bibir pria itu.


Raina mendesah duduk lemas di sandaran kursinya. Pasrah menghadapi pemandangan yang tidak menyenangkan. Wajah Adry sendiri terlihat merah padam, tidak senang tetapi pria itu masih menahan dirinya.


"Aku kira kau akan malu bertemu denganku, setelah aku tahu kebohonganmu," ucap pria itu lantang tetapi dengan nada lirih sehingga tidak didengar oleh orang sekitar.


Nita dengan santai duduk di antara mereka, mengabaikan perkataan Adry yang menusuk hatinya. Dia menatap perut Raina dan tersenyum. "Kau hamil besar Raina. Seharusnya aku tidak begitu terkejut melihatnya. Selamat untukmu, Adry. Kau akan menjadi seorang ayah lagi."


"Terima kasih atas ucapan selamatnya. Bukankah ini juga anak yang kau harapkan lahir?" Balik Raina tidak kalah tenang sembari membelai perutnya.


Nita menarik nafas panjang. "Ya, dulu tetapi setelah ada Leon, aku kira itu sebagai tambahan penyempurna hidup Adry."

__ADS_1


Raina menggigit bibirnya kesal.


"Nita aku kira pertemuan ini tidak seperti sebuah kebetulan semata?" Nita terlihat terkejut dengan pertanyaan Adry yang sedang menuduhnya.


__ADS_2