
Roy sedang memandangi foto Nita ketika Raina masuk ke dalam ruangan itu. Wanita itu men*esah ketika tahu apa yang sedang dilakukan pria itu.
"15 bulan telah berlalu dan kau masih juga terpuruk dengan keadaanmu. Ayolah, Roy kau bisa bangkit dan melihat bahwa bukan hanya Nita wanita di dunia ini."
Roy lalu melipat dompet yang ada foto Nita di dalamnya memasukkannya dalam saku celana. Tersenyum sedih pada Raina. Wanita itu tahu semua cerita tentangnya dan dia memang sudah menganggapnya sebagai kakak. Walau umurnya jauh lebih muda dari Roy tetapi pemikirannya terhadap hidup jauh lebih luas dan Roy selalu lebih tenang jika telah berbicara dengannya.
"Tidak mudah melupakan seseorang yang dicintai apalagi dia pergi ketika kami sedang benar-benar bersama." Menarik nafas berat. "Tidak ada yang pernah bisa menggantikan tempat Nita dalam hatiku."
"Aku yakin ada wanita yang akan datang dan membuatmu jatuh cinta lagi. Jika itu terjadi maka jangan halangi hatimu untuk menerima cinta yang baru."
Roy mengatup bibirnya dan mengangguk.
"Apakah artis itu akan tiba hari ini?" tanya Raina.
"Ya, dengan tujuh orang rombongannya." Roy mengetuk jarinya di meja dan berpikir.
"Salah satu orang dalam rombongan itu bernama Karina. Well, aku mencurigai sesuatu tentang dirinya."
"Wow, baru pernah aku melihat Roy mencurigai seorang wanita."
"Aku melihat data dirinya dan dia pernah bekerja di Dreamy corp. Sebuah anak perusahaan milik Tuan Carl yang bergerak di dunia hiburan."
"Mencurigakan."
"Ya, karena itu aku sudah mengirim email penolakan tetapi berusaha meyakinkan kita bahwa dia hanya bekerja disana selama beberapa bulan saja dan tidak ada hubungan dengan perusahan itu lagi setelahnya."
"Aku harap demikian. Kalau begitu sebaiknya kau awasi pergerakan mereka terutama di Karina itu. Jangan sampai Heaven of Love yang tenang dan damai tercemar oleh kedatangan mereka."
"Okey, madam," ledek Roy.
"Madam-madam, gundulmu, panggil aku Raina saja. Aku kemari hanya sedang mencari suamiku. Dia belum sarapan dan langsung kemari."
"Adry sedang bersama dengan wanita lain di pantai," kata Roy membuat Raina menatap tajam padanya.
"Kau tidak percaya lihat saja," imbuhnya lagi sambil tertawa keras.
"Apakah kau mau menemaniku menemui para tamu yang akan datang," kata Roy.
__ADS_1
"Aku bahkan belum bersiap sama sekali."
"Kau selalu terlihat menawan itu sebuah pujian bukan rayuan. Aku takut jika Kakak mendengarnya dan aku akan mati ditangannya."
Raina tertawa keras. Suaminya itu memang overprotektif, dia bahkan tidak boleh dekat-dekat dengan pengunjung pria yang ada dalam resort ini.
"Apakah terlalu penting hingga kau harus menyambut mereka seperti ini?" tanya Raina sambil berjalan menuju ke mobil Jeep milik mereka.
"Ya, seperti yang kau katakan jika aku juga mencium ada yang tidak enak di sini." Roy lalu naik ke atas mobil di susul oleh Raina.
"Kita hanya harus lebih berhati-hati." Roy mulai memutar kunci mobil.
"Kau benar, ini bukan tentang tereksposnya Heaven of Love tetapi lebih pada keamanannya."
"Aku setuju, terus terang aku tidak mau kembali ke masa itu. Aku sangat merindukan Leon tetapi setelah Adry menjelaskan semuanya semalam aku berpikir kembali, aku tidak mau mengorbankan Regina lagi dalam masalah ini."
"Kau baru pintar, kali ini tidak larut dalam emosi."
"Kau kira aku sebodoh itu." Raina mengerutkan bibirnya kesal.
"Kemarin ada artis dari Inggris bernama Leo Smith dan rombongannya tetapi kau tidak menyambutnya seperti ini. Padahal paparazi akan melakukan pencarian masal jika mereka ada di sini."
"Artis tidak memberitahu kemana mereka akan berlibur."
"Tetapi media selalu memburu mereka." Terkadang media tahu dimana keberadaan mereka tetapi tidak di Heaven of Love.
Beberapa klien akan tiba di resort hari ini, tetapi tidak masuk dalam prioritasnya. Dia penasaran dengan kegigihan Karina ketua rombongan dari artis bernama Clara yang melakukan serangan sedikit terselubung. Roy sudah mengirimkan surat keberatannya lewat email tetapi wanita itu selalu memberikan jawaban dari setiap surat yang dikirimkan.
Dia berharap bisa mengabaikannya tetapi rasa penasarannya membuat dia tidak kuasa dan tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
Dia bertekad akan mengetahui semua hal tentang wanita itu dalam beberapa jam kemudian dan memutuskan apakah Karina adalah sebuah ancaman bagi keamanan Heaven of Love.
Jika itu sampai terjadi dan memang benar dia adalah orang kiriman dari Nyonya Janeta maka dia akan melakukan tindakan ekstrim yang tidak akan pernah terbayang oleh wanita itu.
Deretan pohon kelapa berjejer membuka landasan kecil dimana hanya jet pribadi dan helicopter yang akan mendarat.
Jet pribadi dengan cepat mendarat di sebuah pulau. Landasannya yang pendek membuat pilot tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk menurunkan pesawat.
__ADS_1
Roda pendaratan mengenai aspal berkerikil dan meraung saat pilot mematikan mesin. Roy mengetukkan hari telunjuknya pada paha dan mengangkat dagu. Raina menepuk bahunya.
"Kita memang harus berhati-hati tetapi kau tidak perlu setegang ini."
Tatapan Roy terjatuh pada satu kaki penumpang wanita bertumit tinggi dan perlahan bergerak turun dari pesawat. Roy tahu jika wanita itu lebih dari orang biasa.
Wanita itu memakai gaun berbahan lembut dan tanpa lengan dengan motif garis lembut berwarna putih dan biru muda, nampak indah dikenakannya. Roy menelan salivanya sendiri.
Roy menyukainya, mulai dari lutut yang indah sampai pada ikat pinggang tipis pada wanita itu. Potongan gaunnya mempertegas bentuk buah da** nya yang menyembul sedikit keluar memperlihatkan kulitnya yang indah. Roy tidak pernah tertarik pada wanita seperti ini tetapi dia juga manusia heteroseksual yang masih bisa tertarik pada wanita.
Saat dia memandang wajah wanita itu, terpana melihat kecantikan wanita yang berpotongan pendek dan tertata rapi. Bibir wanita itu berwarna merah terang. Memakai kacamata hitam yang menyembunyikan kedua warna bola matanya.
Roy tertarik dengan penampilan wanita itu. Kenapa dia terlihat begitu seksi saat dia pikiran wanita itu seperti penyihir hitam yang suka berdebat dengannya di email.
Dia melihat ke arah wanita di belakangnya lagi, dia bisa tahu jika itu adalah Clara, artis yang sedang disorot media massa. Yang dibelakangnya lagi adalah asistennya yang berasal dari Tiongkok. Dia lupa namanya. Satu lagi adalah manager Clara, Sandra. Wanita matang yang masih terlihat cantik dan menawan.
Sedangkan si Cantik sendiri bernama Karin, orang yang bekerja di biro agensi yang menaungi beberapa artis besar salah satunya Clara.
Tiga pria lainnya Roy tidak mengenalnya. Dia diantaranya dia tahu jika profesi mereka adalah sebagai model majalah dewasa juga seorang pengusaha bir di Italia.
Satu pria berjalan di samping Karina dan menyematkan tangannya di pinggang wanita mereka mendekat ke arah Roy.
Sang bintang itu mengenakan kaca mata yang tak kalah besar dengan Karina tetapi tidak bisa menyembunyikan identitas jati dirinya.
Tangan Raina menyikut ke pinggang Roy membuat pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Cantik, muda tetapi milik pria lain," gumam Raina menggoda Roy. Roy bersungut. Dia lalu memasang senyum dan berjalan beberapa langkah menyambut tamunya.
"Wellcome, selamat datang di pulau kami," kata Roy mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Karina.
"Mr. Quandt," jawab Karina menyambut uluran tangan wanita itu. Roy tanpa sadar meremas tangan wanita itu dengan lembut ketika mendengar namanya di sebut.
"Aku merasa seolah sudah mengenalmu," Roy pada Karina. Roy sedikit jengkel ketika tidak bisa melihat ekspresi dari bola Karina yang masih tertutup kacamata hitam.
"Ku harap itu sesuatu yang bagus," jawab wanita itu pendek.
Serangan pertama baru mulai dilancarkan.
__ADS_1