Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Siapa Ayahnya?


__ADS_3

"Hana, aku ingin memberikan ini," kata Roy mengeluarkan buket bunga besar dari belakang tubuhnya. Dia sudah siap dengan caci maki yang akan Hana ucapkan nantinya.


Hana menaikkan satu alisnya ke atas. Dia lalu tertawa sambil menggelengkan kepalanya, meneruskan pekerjaannya, tanpa memperdulikan bunga yang Roy bawa.


Roy menggaruk tengkuknya. Tidak tahu harus berbuat apa. Baru kali ini dia rasanya, dipermainkan oleh wanita. Nita memang menyakitinya tetapi dia selalu menghargai semua yang dia lakukan. Karina, dia wanita yang manis.


Roy yang tidak tahu harus berbuat apa lalu ikut duduk di tikar. Hana tetap asik melakukan kegiatannya dan Roy hanya bisa salah tingkah.


Roy ingin mengatakan sesuatu namun tertahan ketika melihat dua anaknya datang dengan menjinjing tas berisi mainan.


"Wah, banyak sekali Om," ucap Bagus meletakkan mainan itu di depan Roy. Sedangkan Ayu yang masuk belakangan datang memeluk Roy sambil menggenggam tas belanjaan itu. Membuat Roy terkejut dan terharu. Dia terpaku, tidak bisa mengatakan apapun.


"Aku sayang Om," kata Ayu mencium pipi kanan Roy. Roy menoleh dan menatap Hana yang suka sedang melihat ke arahnya. Dia lalu memeluk Ayu erat dan mencium rambut anak itu.


Begini kah rasanya punya anak dan memeluknya? Semuanya seakan tidak berarti. Duniaku seperti ada dalam diri mereka. Entah kebaikan apa yang aku lakukan hingga tiba-tiba aku memperoleh semua yang pria impikan. Sebuah keluarga utuh. Terima kasih Tuhan karena telah memberikan kebahagiaan di umurku yang tidak muda lagi. Batin Roy.


Sekilas Roy seperti melihat mata Hana yang memerah dan merebak. Wanita itu lantas masuk ke dalam kamar dengan membawa sebagian pakaian yang telah dia lipat.


Setelah Ayu melepaskan pelukan nya giliran Bagus yang menahan tangisnya. Dia lalu memeluk Roy dengan tubuh terguncang. Tidak mengatakan apapun namun itu penuh makna.


Roy memeluk lembut kepala Bagus.


"Ini bunga untuk siapa, Om?"


"Untuk ibu kalian."


Bagus dan Ayu saling berpandangan dan tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.


"Ibu tidak suka bunga. Dia sukanya uang. Ada yang pernah memberi bunga tapi ibu kembalikan lagi. Lebih tepatnya dilemparkan ke wajahnya."


"Hush, Ibu tidak pernah menerima uang pemberian orang."


"Tapi kan memang sukanya uang," ujar Ayu lirih tanpa dosa.


Bagus memutar bola matanya malas menanggapi pikiran polos adiknya itu yang suka keluar tanpa rem. Bagus memang lebih dewasa pemikirannya karena tuntutan sebagai kakak yang berbeda sepuluh menit.


Roy menahan tawa. Dia mengusap lembut kedua anaknya. Entah kapan dia akan mendengar keduanya memanggilnya Ayah.


"Ayo buka mainannya. Apa kalian suka?" ajak Roy. Dengan antusias keduanya membuka semua mainan. Mereka lalu memainkannya.


"Wah... ini keren," ujar Bagus membuka pesawat remot. "Bukankah ini Gundam, Om? Ini sangat mahal."

__ADS_1


"Ya. Kau suka?"


"Suka tetapi aku tidak bisa merangkainya."


"Kapan-kapan kita akan rangkai bersama."


Sedangkan Ayu asik dengan mainannya sendiri sebuah set boneka Barbie dan segala perlengkapannya. Dia sedang merangkai rumah bonekanya.


"Aku mau coba pesawat ini," ujar Bagus. "Aku ajari Om memainkannya."


"Ayuk." Roy langsung berdiri.


"Aku ikut mau lihat," Ayu langsung bangkit.


Mereka lalu mencoba pesawat itu di depan Musholla yang tanahnya lebih lapang. Kedua anak itu tertawa dan berteriak kegirangan.


"Awas hati-hati, nanti menabrak genteng tetangga," ujar Roy.


Bagus mengangguk.


"Om, haus mau ke rumah dulu."


"Ibu belum buatkan minuman ya Om. Aku akan bilang pada Ibu."


Setelah mengatakan itu Roy lalu pergi ke rumah. Membuka pintu dan mendapati Hana sudah selesai melipat pakaian.


"Hana, kau tidak suka dengan bunganya?" tanya Roy.


"Bunga bank itu lebih bagus," ucapnya asal.


"Kalau begitu aku akan memberikannya," ujar Roy serius mengikuti langkah kaki wanita itu yang masuk ke dalam kamar.


Hana menghentikan langkahnya menghela nafas lalu meletakkan baju ke dalam lemari plastik. "Aku hanya bercanda."


"Betulan juga tidak apa-apa. Aku tidak keberatan."


Hana lalu membalikkan tubuhnya. Dia terkejut karena Roy sudah berdiri menjulang tinggi di depannya.


"Aku tidak ingin apa-apa darimu aku hanya ingin kau segera pergi dari sini dan jangan kembali. Jangan membuat mimpi baru untuk anakku!"


"Kenapa tidak boleh, kenapa kau takut aku dekat dengan mereka?"

__ADS_1


"Karena kau hanya orang luar yang sedang mampir kemari."


"Aku orang luar?" ulang Roy kecewa.


"Ya, pulanglah ke keluargamu. Jangan kembali lagi!" tegas Hana menatap Roy dengan sayu.


"Aku memang punya keluarga. Mereka ada di Jerman saat ini. Mereka akan kemari satu bulan sekali atau aku akan mengunjungi mereka jika ada waktu."


"Jadi aku butuh seorang teman untuk menemaniku di sini."


"Teman," ucap lemah Hana.


"Ya, teman untuk berbagi tawa karena aku sudah lama lupa untuk tertawa keras. Berbagi kesenangan dan kegembiraan." Roy berusaha untuk mengerti apa mau Hana sebenarnya. Apakah wanita itu mengira dirinya sudah punya keluarga kecil sehingga selalu melarangnya bertemu dengan si kembar? Alasan itu jugakah yang membuat dia enggan untuk mengatakan jika si kembar itu anaknya? Dia tidak mau merusak kehidupan Roy.


"Aku butuh teman untuk berbagi semuanya. Hartaku semakin banyak dan akun tidak tahu harus digunakan untuk apa nantinya."


"Ish, kau itu sangat sombong sekali."


Hana lalu duduk di pinggir tempat tidur. Roy ikut duduk di sampingnya.


"Jika kau mengijinkan aku ingin dekat dengan mereka," pinta Roy.


Hana menoleh menatap ke dalam mata Roy yang tajam mencari sesuatu di baliknya. Sebuah kebenaran dari kata-katanya. Dia menemukan ketulusan dan kejujuran serta pengharapan.


"Hidup kami baik-baik saja sebelum kau ada. Akan tidak baik jika kau datang lalu pergi."


Roy gemas dengan sikap angkuh Hana. Wanita seolah mengatakan jika dia bisa hidup tanpa Roy padahal dia hidup dalam kesulitan seperti ini. Kamar kecil yang hanya muat tempat tidur ukuran sedang dengan lemari plastik saja.


"Kalau begitu kalian pergi saja bersamaku."


Detak jantung Hana berhenti untuk sejenak. Dia menatap Roy lekat.


"Apa maksudmu?"


"Kau ikut bersamaku. Nanti akan ku kenalkan kau pada keluargaku," ujar Roy semakin senang mempermainkan Hana melihat wajah polosnya.


"Kau gila apa yang akan mereka katakan tentangku dan anak-anakku?"


"Mereka tidak akan melakukan apapun. Aku kira mereka akan senang jika aku mengenalkan si kembar, mereka anak cerdas yang tampan dan cantik."


"Kau akan mengenalkan mereka sebagai apa? Mereka bukan anakmu!"

__ADS_1


Roy menatap Hana tajam membuat wanita itu merinding seketika. Dia menelan salivanya yang tercekat di tenggorokan setelah mengatakannya.


"Kalau mereka bukan anakku katakan siapa ayahnya?"


__ADS_2