Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Jebakan Membahayakan


__ADS_3

"Oh, ya, kau salah! Adry tidak ingin tinggal di sini, dia hanya ingin mengambil Leon darimu dan membawanya pergi dari sini. Tempat Leon itu di istana kami bukan di kandang reyot ini. Dia adalah seorang Quandt bukan orang biasa."


"Apa maksud Ibu?" tanya Raina. Janeta lalu menepuk kursi dan duduk seperti seorang penguasa.


"Kau jangan bodoh Raina. Mana mau Adry memilihmu. Kau lihat sendiri bagaimana dia memukulmu karena aku kan? Dia lebih membela kami keluarganya daripada kau orang yang baru ditemuinya."


Wajah Raina berubah menjadi pias. Dadanya terasa sesak dan panas. Nafasnya mulai tidak beraturan.


"Ibu jangan berbohong? Kau hanya ingin memanipulasi keadaan saja kan?"


"Untuk apa aku berbohong." Janeta menepuk tangannya seketika Roy masuk ke dalam rumah membawa sebuah berkas di tangan. Raina menatap lekat ke arah Roy.


"Ini adalah pengajuan surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Adry." Raina menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin, kalian pasti berbohong padaku," ucap Raina mundur ke belakang. "Roy kau... ."


"Maaf, bukankah dari awal sudah kusarankan kau untuk meninggalkannya secepat mungkin? Kau tidak percaya padaku."


"Apakah kalian semua sedang mempeainkan aku?" tanya Raina.


"Untuk apa kami mempermainkanmu. Ini ada cek kau bisa menuliskan berapa pun yang kau inginkan untuk bisa melepaskan Leon. Kau tahu tanpa atau dengan persetujuanmu kami tetap akan membawa Leon pergi," ujar Janeta.


Buliran bening itu mengalir deras tanpa bisa dia tahan lagi. "Aku masih tidak percaya Adry meninggalkan aku," ucap Raina dengan suara gemetar.


"Adry dan Leon sedang bersama dengan Nita mereka akan pergi ke bandara sekarang, untuk kembali ke Jerman."


"Kalian berbohong!" seru Raina sekuat tenaga.


"Kau pergilah Roy, biar aku mengatasi masalah ini. Tunggu aku di mobil." Roy melihat ke arah Raina. Dia terlihat berat meninggalkan wanita lemah itu sendiri namun dia hanya bawahan saja yang akan melakukan tugasnya sebagi anak buah keluarga Quandt.


"Maaf Raina, kali ini aku tidak bisa membantumu," batinnya. Dia lalu keluar dari rumah itu diiringi tatapan tajam Raina.


"Tanda tangani surat itu jika kau tidak ingin masalah bertambah rumit."

__ADS_1


"Tidak akan sebelum aku tahu sendiri jika Adry yang menginginkannya." Raina memegang sandaran kursi untuk menopang tubuhnya yang mulai merasa lemas. Dia masih mencoba untuk bertahan walau sakit menikam ulu hatinya. Hanya Adry harapan terakhirnya kali ini.


Janeta tersenyum sinis pada Raina.


"Jadi kau tidak percaya jika Nita sudah membawa Adry dan Leon, baiklah jika kau mau melihat kenyataan yang mengerikan itu. Melihat kepergian anakmu dan suami tercintamu," ujar Janeta tertawa licik.


Wanita paruh baya itu lalu mengambil handphone dari dalam tas berwarna putih keemasan dengan tulisan huruf C kembar. Dia tersenyum sembari mendendangkan lagu. Mengaktifkan handphonenya.


I just can't live a lie anymore


Aku tak bisa lagi berbohong


I would rather hurt myself


Lebih baik kulukai diriku sendiri


Than to ever make you cry


Daripada harus membuatmu menangis


Tak ada lagi yang perlu dikatakan selain selamat tinggal.


Dia memencet sebuah nama Nita menantu kesayangannya. Panggilan lalu tersambung.


"Hallo, Nita apakah kau sudah bersama Adry dan Leon?" tanya Janeta.


"Hallo, ya, aku sedang dalam perjalanan." jawab Nita dari seberang sana.


"Raina tidak percaya jika kau sudah bersama Adry dan Leon. Ya Tuhan, dia mudah sekali kita bodohi bahkan begitu mudah saja percaya pada Adry. Padahal dia seharusnya tahu jika kau itu adalah cintanya yang tidak mungkin akan dia tinggalkan. Ha... ha... ha...," ujar Nita mengeraskan volume speaker itu.


"Aku bersama dengan anak dan suamiku, kau tidak percaya," kata Nita.


"Dia tidak percaya sebelum melihat sendiri kau dan Leon sedang bersama. Perlihatkan sayang buat dia sadar siapa dirinya."

__ADS_1


"Ya Tuhan, kau masih tidak percaya juga. Biar aku perlihatkan padamu," suara di handphone itu terdengar jelas bagi Raina. Dia menunggu dengan berdebar gambar yang akan dia lihat. Semoga mertuanya itu berbohong padanya.


Tidak mungkin Adry akan tega melakukan ini padanya dan Leon tidak mungkin akan begitu mudah meninggalkannya sendiri. Dia mungkin meragukan Adry tetapi tidak dengan Leon. Atau apakah Leon sedang dipaksa oleh mereka. Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Raina.


Nafasnya terhenti ketika melihat Leon tersenyum ke arah handphone itu walau bukan senyum lebar tetapi Raina tahu jika Leon dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terikat tertekan dan Adry juga duduk santai di dekat Leon tidak melihat ke arah handphone itu. Mereka sedang ada di mobil. Apakah benar jika mereka sedang menuju ke arah bandara? Jika iya dia harus mengejarnya. Sambungan video itu hanya singkat saja, lalu kembali lagi wajah Nita yang terpampang jelas.


"Kami akan pulang ke rumah. Doakan saja semoga semuanya baik-baik saja dan lancar. Bye, selamat tinggal," ujar Nita lalu panggilan mati.


Tubuh Raina membeku seketika. Dia memegang dadanya. Tangisnya pecah keluar. Kakinya terasa lemas tidak bisa menopang lagi berat tubuhnya.


"Kalian mempermainkan aku?" ujar wanita itu.


Janeta tertawa keras. "Kau kira kau sudah menang melawanku dengan membawa Adry pergi? Tidak Raina. Adry adalah anakku dan akan selalu bersamaku. Nita sudah mengerti itu dia tidak pernah berusaha untuk mengendalikan putraku karena dia adalah penerus kerajaan bisnis Quandt sedangkan kau siapa baru datang tetapi mau jadi ratu dan menguasai calon raja kami. Kau terlalu bermimpi Raina. Kau tidak lebih dari debu yang harus segera di singkirkan."


"Aku tidak peduli dengan Adry, yang kupedulikan hanyalah Leon kau tidak bisa mengambilnya dariku!" teriak Raina keras.


Janeta lalu bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Raina. Dia memegang dagu wanita itu dan mengangkatnya. Menatap sinis ke arahnya.


"Kau lupa siapa kami Raina," ucapnya. "Aku bisa saja membunuhmu sekarang. Tetapi tidak sepertinya membawa Leon saja sudah cukup untuk kami. Kau tinggal saja di sini dan nikmati uang kami sebagai kompensasi."


"Kompensasi, tidak akan pernah aku menyerahkan putramu."


"Bukan menyerahkan tetapi dia memilih ikut bersama kami. Kau itu hanya ******, yang tidak pantas hidup bersama kami. Orang tuamu pasti tidak bisa mendidikmu karena membiarkan kau hamil diluar nikah. Aku yakin kau juga telah tidur dengan banyak pria selain Adry."


Plak! Raina memukul keras wajah Janeta.


"Aku rela kau maki tetapi tidak orang tuaku! Kenapa itu kenyataannya. Jangan-jangan orang tuamu mengajarimu untuk menjual diri atau ibumu juga suka menjual diri pada pria-pria diluaran sana untuk...."


"Akh!" Raina memukul mertuanya dengan membabi buta, sudah habis kesabarannya.


"Kau mau mencoba membunuhku, ******?" Janeta lalu mengeluarkan sebuah pisau hendak menikam Raina. Namun, Raina reflek memegang pisau itu dan tiba-tiba.


"Akh!"

__ADS_1


"Raina apa yang kau lakukan!" bentak Adry melihat ibunya bersimbah darah.


__ADS_2