Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Takut


__ADS_3

Tidak ada yang bisa dikatakan hanya bisa terdiam ketika dua perasaan menjadi satu dalam satu kesatuan irama dan peluh cinta.


De**han, erangan dan leng**an menjadi bukti kebersamaan mereka. Keduanya larut dalam buaian malam yang panas membuat keringat berjatuhan padahal udara di sekitar dingin menusuk kulit.


"Mungkin kita harus memperlambatnya," pinta Hana terengah-engah membenamkan jarinya ke dalam otot keras pundak pria itu untuk menopang lututnya yang gemetar karena Hana masih duduk dipangkuan Roy.


"Aku tidak keberatan berlambat-lambat," kilat nakal Roy menatap wajah kemerahan Hana yang penuh gairah. Tangannya sudah berada di bagian belakang tubuh Hana yang berisi padat.


"Dengan senang hati aku akan menikmati setiap jengkal tubuhmu yang begitu seksi, permainan ini bahkan baru dimulai mengapa harus terburu-buru.


" Aku tidak bermaksud... oh." Kepala Hana tersentak ke belakang ketika Roy menyesap tubuh bagian depan Hana. "Aku tidak bisa memikirkan apa pun itu."


"Konsentrasi padaku saja!" Pria itu mendongak dan menyipit. "Kau gemetar. Takut atau gugup."


Ketakutan. Lemas. Putus asa dan mendamba. "Semuanya." Hana tertawa kecil.


"Lalu sekarang apa? Ya atau tidak?" Roy merapikan sejumput rambut dari pipi Hana dengan gerakan lambat dan sen**al. Sentuhan itu cukup menaikkan suhu tubuh Hana beberapa derajat.

__ADS_1


"Cium aku jika kau menginginkannya?" bisik Roy. Hana terkejut.


"Jika tidak, kita selesai saja sampai disini." gumam Roy di leher Hana. Ada kilat jahil di mata Roy. Sedangkan Hana merintih frustasi pelan.


"Kalau begitu aku berubah pikiran. Aku tidak bisa memulai duluan. Kau tahu...."


"Kalau begitu apa yang ingin kau ingin aku melakukan apa?"


"Cium aku dan buat aku lupa dengan ketakutan ku," pinta Hana.


Sikap kaku Hana terlempar jauh menanggapi sentuhan Roy yang ahli. Terdorong hingga ke titik ledakan dalam diri Hana. Dia di luar kendali dan Hana tidak peduli. Dia bagai pemula yang duduk di atas punggung kuda jantan Arab yang besar dan kuat.


Rasa nyeri membakar dalam proporsi tidak tertahankan. Hana menekan tubuhnya pada tubuh Roy dengan mendamba. Dia berusaha menahan hawa panas yang hampir meledak dalam dirinya. Dia membenamkan kuku dalm pundak Roy.


"Aku mohon... oh... ku mohon."


"Dengan senang hati." Mata Roy berubah menjadi celah api sipit, rahangnya menegang, kilatan warna menyemburat di tulang pipi pria itu ketika menatap pipi dan bibir Hana yang memerah. Otot-otot di pundaknya mengeras sewaktu melindungi Hana dari beban tubuhnya.

__ADS_1


Roy menyatukan tubuh mereka dalam gerakan dan erangan kenikmatan dari pria itu. Ada keraguan dari diri Roy ketika melihat wajah Hana yang memegang, kemudian dia bergerak lagi tapi kali ini lebih lembut.


Mata Roy terus menatap mata Hana ketika memperkenalkan keintiman yang baru. Kenikmatan yang tidak pernah Hana bayangkan. Rasa yang membuyarkan pikirannya akan rasa sakit yang pernah dia rasakan.


Hana tidak bisa mengenal dirinya lagi. Dirinya terbenam kan oleh perasaan yang sukar untuk dijelaskan. Tunduk oleh surga yang diciptakan dan tidak terbantahkan oleh pria berpengalaman. Dia berpacu menuju puncak kemudian dilempar tinggi ke angkasa kemudian terlempar tinggi ke angkasa ketika mereka mencapai puncak kenikmatan bersama. Lenguhan keras terdengar dari mulut Roy ketika sesuatu menyembur di dalam tubuh Hana dengan kerasnya.


'Apakah ini benar-benar terjadi?'


Hana memegang tubuh Roy yang menindih tubuhnya memastikan jika ini bukan sekedar mimpi.


Pria itu menegakkan kepalanya dan tersenyum penuh kemenangan lalu mencium dahi Hana dan turun ke samping tubuhnya. Terlentang melihat ke langit-langit kamar. Dia menoleh menatap Hana.


"Terimakasih...." Roy nampak berpikir. "Cintaku." Dia memeluk Hana erat dan meletakkan kepala wanita itu dalam dadanya.


Rasa haru, bahagia dan puas menyatu dalam dirinya. Kini hidupnya telah lengkap setelah kehadiran wanita ini.


"Aku mencintaimu, Hana." Roy mencium pucuk kepala Hana lama.

__ADS_1


__ADS_2