Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Biang Masalah


__ADS_3

"Kau lihatkan, jika mereka baik padamu hanya karena butuh aku. Jika kau menikah dengan orang yang miskin bisa dipastikan kau tidak akan diterima baik oleh mereka," ucap Roy ketika mereka dalam perjalanan menuju ke perusahaan pria itu.


"Apapun itu, bagaimanapun mereka, dia tetap ibuku dan adikku."


Roy menghela nafas. Sulit menerangkan pada Hana jika sangat berbahaya berhubungan dengan keluarga macam itu.


"Terserah kau saja!" Mereka lalu terdiam.


"Ini bukan jalan kembali ke rumah."


"Memang bukan. Aku akan mengajakmu ke kantor."


"Ya, Tuhan. Aku sangat mengantuk dan lelah."


"Di sana ada kamar kau bisa langsung tidur."


"Lebih nyaman di kamar sendiri."


"Itu juga kamarmu karena apa yang kumiliki itu milikmu." Roy lalu menarik tubuh Hana agar berbaring di kursi mobil dan menjadikan kakinya sebagai bantal. Hana menurut, toh dia sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya dan Roy yang membuat dia seperti ini.


Mereka sampai di kantor Roy. Pria itu langsung menggendong Hana keluar dari mobil tanpa membangunkannya.


Sepanjang jalan para pegawai Roy melihatnya tetapi dia tidak peduli dengan pandangan mereka semua.


"Tuan Anda terlambat Tuan Nakamoto sudah menunggu kedatangan Anda sedari tadi." Hyun mendekati Roy yang baru keluar dari pintu lift.


"Perjanjian itu tidak jauh lebih penting dari istriku. Di mana dia sekarang?" tanya Roy.


"Di ruang tunggu." Mereka melihat ke arah ruang tunggu yang tersekat oleh kaca. Beberapa orang pria dan wanita melihat ke arahnya.


"Kalau begitu bawa dia ke ruanganku saja," ujar Roy.


Dia lalu membawa Hana ke ruangannya dan masuk ke ruang rahasia tempat istirahatnya jika menginap di sana.


Dia lalu menatap Hana setelah meletakkannya di atas ranjang empuk dan halus. Dia lalu keluar dari ruangannya dan mendapati Hyun serta beberapa orang di dalam sana.


"Selamat datang, Sobat!" ucap Roy memeluk sahabatnya.


"Siapa tadi yang kau bawa? Apakah dia adik ipar?"

__ADS_1


"Ya, kami akan menikah satu bulan lagi."


"Kalau begitu selamat akhirnya, pria dingin sepertimu, tertarik dan hendak menikah dengan seorang wanita. Padahal, aku tidak pernah melihat kau dekat dengan wanita manapun walau katanya kau pernah menikah. Dia pasti wanita yang istimewa. Aku ingin sekali berkenalan dengannya."


"Kapan-kapan. Jika nanti aku menikah kau akan aku undang."


"Harus, jika tidak aku akan kesal."


"Ada apa kau datang kemari, pasti bukan hanya urusan bisnis semata kan?" tanya Roy.


"Aku butuh bantuanmu, seseorang mencuri batu berlian milikku. Dia pergi ke negeri ini dan aku tidak bisa menjangkaunya karena dia adalah petinggi di negeri ini."


"Ck, sudah lama aku tidak berurusan dengan masalah ini."


"Kau tolonglah aku demi persahabatan kita."


"Memang berlian apa yang dia curi hingga kau datang kemari sendiri bukan menyuruh anak buahmu!"


Nakamoto lalu menceritakan tentang masalahnya dan Roy berjanji akan membantu sahabat di dunia gelapnya dulu.


"Anda akan menikah Pak, tidakkah berbahaya terlibat dengan masalah ini. Lawan kita adalah seorang mentri yang berkuasa."


"Lupakan masalalu Pak, ada Nona Hana yang sudah menggantikan tempatnya. Pikirkan juga keselamatan keluarga Anda nantinya. Kini Anda tidak hidup sendiri ada tiga orang yang berkaitan dengan Anda. Jika Anda mengambil masalah ini mereka juga akan terlibat di dalamnya."


"Darah harus dibayar dengan darah Hyun!"


"Bagaimana jika mereka tahu Anda terlibat lalu menjadikan Hana atau anak-anak kalian sebagai senjata untuk menjatuhkanmu. Apakah kau akan mengorbankan mereka juga? Cukup Nona Karina saja yang jadi korbannya. Keputusan Anda sudah benar untuk berhenti dari dunia gelap itu. Jemput kebahagiaan Anda dan jangan turut campur dalam masalah yang ada."


"Hanya sekali ini saja Hyun setelah itu aku akan berhenti total dari dunia itu."


"Aku hanya bisa memberi saran tetapi keputusan kembali ada di tangan Anda."


"Hanya dia yang bisa lolos dari jerat jeruji besi dengan membungkam seluruh aparat yang berwenang dengan kekuasaannya. Aku sendiri ingin membungkam mulutnya dengan tanganku sendiri untuk selamanya."


Hyun hanya bisa menghela nafas panjang. Bertahun-tahun Roy memang hidup dengan rasa trauma karena melihat Karina terbunuh didepannya. Dia pun benci jika melihat dalang pembunuhan itu masih berkeliaran bebas karena kebal dengan hukum. Hanya Hana yang bisa membuat Roy tersenyum dan ceria kembali dan dia sudah senang melihat hal itu.


Dia kira Tuannya akan melupakan kejadian yang telah lalu tetapi kehadiran Tuan Nakamoto membuat luka itu kembali menganga lebar. Pria itu teringat akan dendamnya.


"Hyun aku lihat, Maruli bersama dengan kembaran Hana. Coba kau cari tahu tentang hubungan mereka."

__ADS_1


"Baik, Pak!"


"Satu lagi, kau urus tiket, akomodasi dan semua hal untuk keberangkatan keluarga Hana ke Jerman saat pernikahanku. Tanya berapa yang akan datang ke sana. Kau urus mereka dengan baik."


"Baik, Pak!"


"Hubungi juga pengacara kita untuk mengurus kepemilikan saham Hana di perusahaan Ayahnya. Mereka meminta kita bekerjasama dengan mereka. Kau atur itu tetapi dengan syarat mereka mau memberikan hak Hana secara penuh."


"Baik Pak, ada lagi."


"Jangan lupa kau tambah pengawal untuk mengawasi anak-anakku. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada mereka."


***


Sedangkan di tempat lain. Di pabrik plastik milik Ayah Hana.


"Ibu... bagaimana bisa kau mengiyakan permintaan mereka!" ujar Hani kesal.


"Kita butuh dana besar untuk pengoperasian usaha kita ini."


"Aku juga sedang berusaha untuk mendapatkannya. Aku bahkan dapat klien besar kelas kakap. Kita akan menyuplai plastik yang akan digunakan untuk proyek jalan tol di daerah Jawa."


"Kau dapat tender itu Nak?" tanya Alisa senang dan terkejut.


"Tentu saja, apa yang tidak bisa kulakukan Bu untuk pabrik ini."


"Kau memang anak yang bisa ku andalkan. Kau seperti seorang putra yang bisa dibanggakan."


"Karena itu, untuk apa kita harus menuruti permintaan pria itu."


"Nak, tapi Hana juga berhak atas separuh saham pabrik ini."


"Selama ini aku yang bekerja keras agar perusahaan ini tetap berdiri dan dia datang untuk mengambil haknya? Itu tidak adil."


"Hani, perusahaan ini akan semakin besar jika Tuan Roy juga ikut berinvestasi di dalamnya!"


"Tanpa dia aku bisa membesarkan perusahan ini. Tidak perlu Ibu dan Om David mengemis meminta bantuannya!" Hani menggebrak meja.


"Sayang, Tuan Roy tahu jika Hana mempunyai hak yang sama denganmu, dia ingin mengurus masalah itu dengan pengacaranya."

__ADS_1


Hani menggebrak meja dengan keras. "Aku tidak terima. Perusahaan ini masih ada karena ku. Aku tidak rela menyerahkannya pada Hana satu saham pun. Dia adalah biang masalah. Karena dia Ayah meninggal, apa Ibu lupa itu?"


__ADS_2