Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kebahagiaan.


__ADS_3

Hana tidur dengan tidak tenang, membolak-balikan tubuhnya lalu duduk di sofa, berbaring kembali lagi ke sofa.


"Kenapa lagi, Sayang, apa yang kau rasakan?" tanya Roy duduk walau matanya nampak berat.


"Hmm aku tidak bisa tidur," kata Hana dengan wajah tidak enak.


"Kemarilah," Roy memanggil Hana. Hana mendekat lalu kembali berbaring di sisi Roy. Roy memeluknya. Belum juga satu menit Hana menyingkirkan tangan Roy.


"Gerah, panas," Hana kembali duduk, mengusap wajahnya yang penuh keringat.


"Aku turunkan suhunya, ya!" Roy hendak mengambil remot AC tapi Hana mencegah.


"Nanti tubuhku kedinginan," ujarnya.


"Kau ingin apa?" tanya Roy.


Hana menggerakkan dua ibu jarinya secara bersamaan. Matanya nampak berpikir.


"Katakan saja kau ingin apa?" tanya Roy.


Hana mengintip wajah Roy dengan satu matanya sambil meringis. "Jangan nanti kau marah," ucap Hana.


"Mau apa bilang saja, aku tidak akan marah."


"Tidak jadi, kita tidur saja lagi, kau tidak akan memenuhi permintaanku."


"Hana, kau sebenarnya ingin apa sih? Aku akan melakukan apapun untuk calon anakku ini."


"Yakin?" Roy menatap Deya dengan serius.

__ADS_1


"Katakan kau minta apa?"


"Hmm," Hana nampak ragu, mengusap tempat tidur disampingnya.


"Hana...!!!"


***


Akhirnya Roy mengajak Hana ke rumah Jonathan. Mereka pergi bersama dengan Ayu dan Bagus. Anak-anak itu berlarian di taman belakang rumah bersama dengan Melati. Terdengar teriakan dan candaan mereka.


"Katamu kau ingin bicara penting dengan kami?" tanya Jonathan ketika mereka beraama di sebuah sofa berbentuk lingkaran yang ada di halaman belakang rumah.


Wajah Roy nampak menegang, dia terdengar menarik nafas berat. Sambil menatap tajam pada istrinya.


"Jika tidak boleh ya kita pulang saja," ucap Hana takut-takut. Memegang tangan Roy.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu," kata Jonathan.


"Berat bagiku tapi ini keinginan anakku." Pasangan suami istri di depannya menaikkan kedua alis.


"Oh, ngidam? Memang ngidam apa? Dan apa hubungannya dengan kami?" tanya Jonathan.


Roy menarik dua sudut bibirnya ke samping dengan wajah merenggut. Jonathan dan Lily melihat ke arah Hana yang nampak ketakutan.


"Istriku ingin kau mengelus perutnya dan menyuapinya." Roy mengatakan itu sambil membuang muka ke samping menahan kesal.


Jonathan dan Lily lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka sampai sakit perut melihat wajah masam Roy.


"Okey, aku tahu suamimu memang tampan tapi hal itu menjadi pengakuan tidak langsung jika aku lebih tampan sampai anakmu yang belum lahir pun terpikat padaku. Kau harus mengakuinya, Bro!"

__ADS_1


"Makanya murah senyum dan buang wajah kakumu itu agar anak dan istrimu tidak takut menatapmu."


"Sialan!"


"Kita pulang saja yuk! Lagian kau ngidam kok yang aneh2 kalau minta berlian saja akan kubelikan lah ini meminta hal yang membuat otakku mendidih. Aku tidak rela jika istriku di sentuh orang lain. Anakku dalam kandungan juga. Apakah aku kurang tampan hingga kau sampai mau melihat pria lain," sungut Roy membuat Hana menangis.


"Roy, kau itu malah memarahi ibu yang sedang hamil!" seru Jonathan.


"Cup... cup... jangan menangis lagi. Ly ambilkan nasi dan lauknya, biar aku suapi ibu ini." Lily lalu berlari masuk ke rumah mengambilkan makanan untuk Hana. Roy menyingkirkan Jonathan yang hendak duduk di dekat Hana.


"Sayang, sudah dong jangan menangis nanti bayimu ikut menangis juga," ucap Roy lembut karena merasa bersalah telah membentak Hana. Roy mencium wajah Hana berkali-kali.


"Aku kan sudah bilang jika nanti kau marah."


"Aku marahnya karena kau ingin bersama lelaki lain bukan aku," ucap posesif Roy membuat Hana makin keras menangis.


"Baiklah, kau boleh menyentuh perut istriku tapi tunggu dulu."


"Sayang kau di dalam sana jangan mirip Om ini ya, mirip ayah saja yang tampan dan baik hati. Dia mah playboy cap kangkung."


"Kok kangkung?"


"Makanan pasaran."


"Tapi enak."


Akhirnya Roy mengalah demi calon anaknya yang belum lahir. Mata Hana berseri-seri ketika Jonathan menyuapinya.


"Aku hanya suka melihat wajah ramahmu saja," puji Hana pada Jonathan membuat Roy makin menekuk wajahnya. Namun, dia rela melakukan apapun asal Hana senang dan bahagia.

__ADS_1


Roy melihat ke arah istri dan dua anaknya yang sedang bercanda. Ada seulas senyum yang merekah di bibirnya. Rasa bangga karena bisa mempunyai keluarga seperti yang lain. Rasa bahagia karena ada istri yang akan menemani hidupnya dan rasa tenang karena ada dua anaknya akan menjadi masa depannya. Ada lagi satu baby yang masih dalam kandungan. Anak ini sedikit manja karena tidak membiarkan ibunya melakukan segala sesuatu. Apapun itu, dia merasa telah menemukan kehidupannya dan merasa menjadi pria yang berarti bagi orang disekitarnya. Terutama istri dan anaknya.


__ADS_2