
"Roy," panggil Karina ketika memasuki kamar. Dia sehabis dari dapur untuk mengambil botol air minum.
Roy sendiri baru kekuar dari kamar mandi dengan handuk krem melingkar di pinggangnya. Pria itu melihatnya, dari balik pintu. Rambutnya basah, tidak di sisir dan bagian depannya tergerai di dahi.
Melihat cinta bersinar dalam matanya, Roy maju ke depan Karina dan mengulurkan tangan. Tanpa kata, Roy menarik tubuh kecil itu lembut ke dalam pelukannya. Meletakkan kepala di rambutnya yang berbau harum bunga-bungaan. Merasakan lengan wanita itu berada di pinggangnya.
"Ini yang kubutuhkan," bisik lembut Karina, menengadah untuk melihat tatap manik mata cokelat milik Roy yang menyipit.
"Aku sudah sangat membutuhkanmu Roy, bahkan sudah lama sekali."
Karina menggerakkan jemarinya menyusuri punggung Roy yang kokoh. Merasakan otot-otot pria itu tersentak, menegang dan bereaksi terhadap belaiannya.
"Kau itu kecil-kecil cabe rawit," cetus Roy mengangkat tangan dan membingkai wajah Karina untuk mendongak.
Karina tersenyum nakal. Tangan Roy besar, sedikit kasar dan terasa hangat. Aroma sabun khas pria menguar ke dalam indera penciumannya.
"Aku mempelajari sesuatu dalam hidup ini. Dia yang tidak bereaksi terlebih dahulu maka tidak akan mendapatkan apapun."
Karina mengangkat tangan dan membelai wajah Roy yang belum dicukur. Ujung-ujung jarinya bergelenyar saat menyapu kulit.
"Roy, aku mencintaimu, aku tidak tahu kapan persis rasa itu ada tetapi aku yakin aku mencintaimu."
Kata-kata itu membuat aliran di darah Roy bagai mata air sungai yang menyejukkan. Hatinya berbunga.
"Sudah berapa lama kau menyembunyikan rahasia kecil ini." Tubuh Roy maju dan melesak ke dalam tubuh Karina serta menyatukan bibir mereka.
"Hmmm...." Suara itu terdengar di bibir Roy. "Mungkin semenjak aku melihatmu di pulau. Melihatmu dan selalu ingin berada di dekatmu. Kau itu terasa berbahaya tetapi selalu menantang diriku untuk selalu berada di sisimu. Puncak semuanya ketika kau meninggalkan aku sewaktu ayahku meninggal dunia. Rasa takut kehilanganmu mulai terasa dan aku tidak rela kau pergi saat itu."
Wanita itu merenggangkan jarak dan menangkup wajah Roy seraya menatapnya serius.
__ADS_1
"Apa kau juga mempunyai rasa yang sama denganku? Atau aku hanya terlalu berharap padamu?" tanya Karina.
Dengan lembut Roy menyentuh helai rambut Karina. Hati Karina bergetar ketika mendapat sentuhan penuh kasih seperti ini.
Tenggelam dalam tatapan mata Karina yang gelap dan mendengar semua ucapan itu, membuat hati Roy tersentuh. Dia lalu mendaratkan sebuah ciuman di dahi hingga pelipis wanita itu. Serta berbisik, "Aku juga punya rasa yang sama, aku menginginkanmu Karina. Aku coba meyakinkan diriku jika ini hanya sebuah ketertarikan semata tetapi semakin ke sini aku sadar jika aku telah jatuh cinta padamu. Bukankah aku sudah mengatakannya?" ucap Roy.
"Kau tidak pernah mengatakan mencintaiku."
"Mungkin karena aku takut terluka lagi. Namun, setelah perbincangan kita semalam dan pagi tadi itu meyakinkan aku jika aku memang mencintaimu," ucap Roy. "Apalagi ketika melihat kau menjadi pengantinku. Aku kau adalah bagian dari diriku dan hidupku."
Roy memajukan bibirnya ke bibir Karina rasa mint terasa di bibir mereka berdua, berbaur dengan kemanisan wanita itu.
Karina membenamkan tubuhnya ke dalam. tubuh Roy, bibirnya terbuka, membiarkan Roy memasukinya lebih dalam.
Sambil mengerang Roy mencondongkan tubuhnya, mengangkat Karina seakan-akan dia adalah sehelai bulu.
Roy membaringkannya di tempat tidur. Karina tersenyum ketika Roy membuka handuknya menjatuhkan ke lantai. Sungguh Roy mengingatkannya pada dewa Yunani, tubuhnya kekar berotot dan besar serta atletis sekali.
Roy bergerak lambat. Bobot tubuhnya cukup berat yaitu sekitar sembilan puluhan sedangkan wanita itu dia berkisar lima puluhan. Dia tidak ingin meremukkan Karina.
Setiap keping tentang hubungannya dengan Nita menjadi larut dalam panasnya kegiatan mereka. Pertanyaan apapun yang Roy katakan untuk membandingkan keduanya lenyap untuk selamanya. Mulutnya liar menjelajah dengan berani. Roy menyukai ketegangan Karina saat wanita itu mendambakan dirinya. Karina membuat dia menjadi raja dunia saat wanita itu bergerak lentur dalam dirinya.
Bukit cinta pria itu menekan perutnya dan menimbulkan ledakan hebat di antara kedua paha.
Roy menggumamkan sesuatu dalam bahasa Jerman sesuatu yang sering dia lakukan. Sayangnya, Karina tidak tahu apa artinya itu. Dulu Karina akan mundur jika para teman kencannya sudah akan memulai aksi panas membuat mereka mengeluarkan caci maki dan sumpah serapah.
Dia sadar jika dia tidak bisa melalui hal ini di tengah ancaman serangan asma yang menghadang ketika dia merasa sangat senang akan sesuatu yang mengejutkannya.Kali ini dia sudah menyiapkan inhaler di atas nakas takut jika sewaktu dia membutuhkannya.
Karina merasakan saat Roy kehilangan pengendalian dirinya yang dia jaga rapat-rapat. Dia menuntut lebih dari diri Karina dan menginginkan reaksi lebih dan itu berhasil.
__ADS_1
Nafas Karina sesak dan kepalanya mulai terasa pusing saat terhanyut pada puncaknya. Roy memburu dengan cepat untuk menyusul Karina dan mereka berakhir dengan tersengal-sengal.
Pria itu terkulai diatas tubuh Karina dengan lemas. Saat itu, Karina menggerakkan tangannya untuk meraih inhaler di atas nakas. Dia meraba-raba.
Kepala Roy tersentak ke belakang. Dia nampak sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa," tegasnya. Hanya serangan kecil.
Roy segera bangkit dan Karina seolah kehilangan tetapi dia menyadari jika dia bisa bernafas lebih mudah tanpa tekanan dari tubuh Roy. Obat itu membuka paru-parunya.
"Aku menyesal." Pria malang itu mengira akan membuat Karina terbunuh.
Karina meletakkan inhalernya lalu menatap mata Roy dalam. "Aku tidak menyesal."
"Tapi paru-parumu...?" Wajah Roy nampak pucat.
"Aku baik-baik saja."
Roy berbaring lemas di ranjang. Dia mengusap keningnya yang basah oleh ketegangan setelah bercinta dan ketegangan setelah melihat istrinya sesak nafas.
"Ada obat pencegah kehamilan di nakas. Jika kau sudah tenang, kau bisa meminumnya."
Karina sangat tidak setuju dengan keinginan Roy yang ingin bebas anak dalam pernikahan mereka. Bagaimana pun seseorang menikah itu untuk membentuk sebuah keluarga dan keluarga tidak akan lengkap tanpa hadir seorang anak.
"Nanti aku akan meminumnya," ucap Karina.
"Jangan sampai lupa. Jika tidak aku yang akan memaksamu."
Karina tersenyum lembut. Roy lalu menarik selimut ke atas dan membuat Karina berbaring di atas tubuhnya. Jam di dinding berdentang menunjukkan jika hari mulai berganti. Hari baru dalam diri Roy, yang akan membuka lembaran baru bersama dengan seseorang yang bersedia menemani hidupnya hingga akhir hayat.
__ADS_1
"Kau hanya milikku Karina, hanya milikku," ucap Roy mengusap lembut rambut Karina.