Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Dipecat!


__ADS_3

Raina bangun pagi seperti biasanya. Dia lalu melakukan rutinitas pagi. Membersihkan rumah dan membuat makan pagi untuknya. Kali ini hanya nasi putih dan telor goreng kecap. Itu cukup karena dia harus berhemat.


Setelah itu, pergi ke tempat kerja. Dia sana dia bertemu Suri yang telah terlebih dahulu datang. Raina langsung membantunya menyiapkan sayuran yang akan dimasak untuk menu kafe.


Satu jam dia berkutat dengan semuanya, hingga peluh sudah membasahi wajah dan baju. Wanita memproduksi keringat lebih banyak dan itu fakta apalagi ditengah kondisinya yang sedang hamil besar.


Ko Sambo yang baru datang langsung ke dapur untuk melihat pekerjaan karyawan. Dia menatap jengkel pada Raina begitu melihat wanita itu masih bekerja di sana.


"Kau mengapa masih disini, aku sudah memecatmu." Raina terkejut mendengar suara bosnya. Dia langsung membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang sudah pucat bertambah pucat.


"Tetapi kemarin aku pergi karena sakit, Bos." Raina menatap ke arah Suri.


"Pergi tanpa pamit, di saat cafe kita sedang ramai, itu adalah perbuatan tidak bertanggung jawab dan kau juga tidak meminta ijin padaku!" murka sang Boss.


Raina hanya bisa menunduk, diikuti dengan tatapan iba dari pekerja yang lain.


"Jika bukan karena kasihan aku tidak akan pernah menerima wanita hamil sepertimu."


Ko Sambo lalu keluar dari ruangan itu. Beberapa pegawai mengusap bahu Raina dan mengatakan untuk bersabar. Tidak lama kemudian pria itu datang dengan sebuah amplop.


"Ini bayaranmu untuk bulan ini. Di hitung dari beberapa hari kau bekerja. Sekarang lepaskan celemek itu dan pergi dari tempat ini." Usir pria tambun bermata sipit.


Raina melepaskan Appron, dengan langkah gontai pergi dari dapur itu melewati pintu keluar belakang cafe. Sesampainya di luar, dia melihat isi dalam amplop, bernafas lega setidaknya Ko Sambo memberi uang gajinya sesuai masa hari yang di kerjakan.


Raina lalu berjalan kembali ke unit rusunawa sembari memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya. Setalah sampai, dia ke kamar lalu mengaduk isi tasnya untuk melihat berapa uang yang dia miliki untuk saat ini.


Raina telah menabung dalam beberapa bulan ini bahkan dia sangat berhemat untuk mengurangi penggunaan uang yang tidak penting. Dia menabung untuk masa depan bayinya. Namun, jika dia tidak segera mendapatkan pekerjaan, maka uang ini akan habis dengan cepat.


"Tiga juta seratus dua puluh ribu rupiah. Jika ditambah sama gaji dari Ko Sambo maka akan menjadi tiga juta enam ratus lebih." Raina menghela nafas. Ini bahkan kurang dari yang dibutuhkan. Dia lalu menyembunyikan wajahnya di antara dua lutut dan terisak.

__ADS_1


"Jika saja Adry tidak datang, maka masalah keuangan ini tidak menderaku. Pria itu hanya membuat masalah bagi diriku saja." Amarah dalam dirinya meluap.


Adry yang berdiri di depan pintu kamar sedari tadi menatap dengan sedih yang dilakukan oleh Raina. Mengusap titik bening di pelupuk matanya yang hampir keluar. Dia paling tidak bisa jika melihat wanita itu menangis. Pria itu lalu berjalan mendekat dan berjongkok di depannya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Adry memegang bahu Raina dengan lembut. Membuat wanita itu menengadahkan wajahnya. Matanya sembab dan basah. Adry mengambil sapu tangan miliknya dan menyeka pipi Raina.


"Jangan menangis lagi, aku paling tidak bisa melihatmu menangis. Leon tidak suka itu," ucapnya parau dengan mata merebak.


Bukannya berhenti, Raina malah menangis keras. Kenangannya akan Leon membuat dia makin terpuruk. Adry memeluk tubuh lemah itu erat. Sesaat mereka larut dalam kesedihan.


Adry berniat tidak akan membiarkan Raina hidup menderita seperti ini lagi. Apapun kesalahannya, dia akan melupakan hal itu. Untuk sesaat mereka larut dalam kesedihan.


"Bagaimana kabar Leon?" tanya Raina mengusap air matanya setelah melepaskan diri dari pelukan Adry.


"Dia baik-baik, dia tidak mengatakan apapun, tetapi aku tahu dia sangat merindukanmu."


"Aku pun merindukannya," ungkap Raina. Adry menganggukkan kepalanya.


Raina langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku malah tidak akan bisa berpisah darinya lagi nanti." Tangis Raina kembali pecah.


Hati ibu mana yang rela jika dipisahkan dari anaknya. Dia sangat merindukannya tetapi tidak mampu untuk mengobatinya.


Adry menangkup pipi Raina yang terlihat tirus. Membuat mata mereka bertemu.


"Semua akan baik-baik saja, percaya padaku." Raina menggelengkan kepalanya.


"Semua hancur setelah aku bertemu dengan dirimu, tidak dulu, tidak kemarin dan mungkin besok kau akan tambah menghancurkan hidupku."


"Karena itu .... Ku mohon, pergilah!" pinta Raina dengan suara yang hampir habis.

__ADS_1


Adry menyatukan kening mereka dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Raina, setelah apa yang kulihat kemarin, aku tidak akan membiarkanmu hidup menderita seperti itu."


Adry lalu pergi keluar sembari mengusap pipinya yang basah. Dia mengambil tas belanjaannya mengambil susu kotak dan roti rasa keju kesukaan Raina, berjalan masuk kembali ke dalam kamar.


"Minumlah ini, kau butuh nutrisi yang baik demi janin dalam perutmu." Raina menerimanya dan melihat tulisan yang tertera 'susu ibu hamil'.


Raina mulai meminumnya hingga habis. Dia bahkan sudah sebulan ini tidak meminum susu ibu hamil dan digantikan dengan kental manis.


Adry memunguti uang yang berada di samping Raina, merapikannya dan meletakkan kembali ke dalam tas Raina. Hatinya merasa perih melihat wanita yang dia cintai harus menghitung recehan dan menyimpannya seperti sebatang emas yang berharga. Raina bahkan bisa menggunakan uangnya tetapi dia memilih tidak melakukannya.


"Kita pergi ke Dokter?" ajak Adry lembut seperti dulu. Raina menggelengkan kepalanya.


"Kau ini sangat keras kepala. Kita harus mengecek keadaan janinmu. Apakah dia sehat atau tidak? Aku yakin kau tidak pernah melakukannya."


Raina hanya terdiam dan itu sudah menjawab semuanya.


"Ini bukan untukmu tetapi untuk dia," ujar Adry lagi. Raina menatap Adry. Bukankah dia sudah mengatakan jika ini anak Roy mengapa Adry masih peduli padanya, bukan malah membenci?


"Kau yakinkan jika ini bukan anakmu, jadi mengapa kau harus peduli," ujar Raina.


Adry tidak bisa menjawabnya. Dia peduli karena ini anak Raina. Dia sangat mencintai wanita itu dan selalu memikirkan keadaannya.


"Kau pergi saja dan jangan kembali lagi." Raina meletakkan tasnya di bawah tempat tidur tipis itu dan mencoba berdiri dengan menumpu satu tangan. Adry berdiri dan langsung membantu dengan mengangkat tubuh Raina membuat wanita itu terkejut dan hampir jatuh. Adry lalu memeluknya untuk menyeimbangkan tubuh mereka.


Dada Raina berdegub kencang merasakan kehangatan pelukan pria itu. Dia merindukan rasa damai, aman dan terlindungi ketika berada di dada pria itu. Merindukan bau harum pria itu di dekatnya. Pikiran itu ditepisnya jauh. Raina mendorong tubuh Adry menjauh. Pria itu seperti tidak rela melepaskan Raina namun dia tetap mundur selangkah.


"Aku akan pergi jika kau mau ikut ke dokter. Kita akan memeriksakan keadaanmu dan janin itu, serta memastikannya baik-baik saja," tawar Adry.


"Sungguh?"

__ADS_1


Adry mengangguk. Ini adalah satu-satunya cara agar Raina mau diperiksa. Setelah itu, dia akan memikirkan langkah apa yang bisa menjerat wanita itu untuk tidak pergi dari hadapannya.


__ADS_2