
"Kau tidur saja. Aku mau lihat anak dahulu."
"Jangan lama," goda Roy, dengan kilat mata nakalnya
"Ck! Dari kemarin aku terus bersamamu. Kau malah mendominasi waktuku sekarang."
"Hana, kita nikah yuk."
"Tidak!" tolak Hana keluar dari kamar Roy tanpa menoleh.
Roy menghela nafas sambil tersenyum. Hana saat ini menolaknya karena dia belum yakin padanya. Butuh waktu untuk meyakinkannya dan itu tidak akan lama.
"Ayu," panggil Hana ketika masuk ke dalam kamar baru anaknya.
"Ibu lihatlah, semuanya berwarna pink. Ibu lihat kasur ini, sangat empuk. Lalu rak ini berisi mainan dan coba ibu tengok." Ayu berlari ke arah lemari dan membukanya.
"Ada banyak baju di dalamnya dan semua ini sangat indah. Ayah yang memberikan semua ini.... Tunggu satu lagi kamar mandinya seperti dalam film barbie, semua yang ada di sini seperti mimpi," seru Ayu senang. Hana duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap punggung Ayu yang ada di sebelahnya.
"Kau senang tinggal di sini?"
"Ya, aku senang. Apalagi ada Kak Rere dan Aaric yang perhatian. Sayang mereka akan pulang besok."
"Besok?!"
"Ya, kata Kak Rere demikian. Dia bilang jika aku libur sekolah bisa main ke rumah mereka yang ada di sana."
"Aku sedih Kak Rere akan pergi."
Hana hanya mengusap kepala Ayu saja. Begitu mudah kedua anaknya bergaul bersama dengan keluarga Kakak Roy. Hubungan yang terjalin pun nampak dekat tidak seperti hubungan yang baru saja terjalin. Mereka saling menyayangi satu sama lain dan saling menjaga.
"Ibu, dimana Ayah?"
"Dia di kamarnya sedang sakit."
"Ayah sakit?" Ayu nampak terkejut. "Sakit apa?"
"Sakit perut karena salah makan."
__ADS_1
"Aku akan menengok nya. Ayu bangkit handak berjalan namun dicegah oleh Hana.
"Ayahmu sedang istirahat. Jangan diganggu dulu."
"Yah, Ibu."
"Nanti jika Ayah sudah bangun kau bisa menemuinya."
Ayu menekuk wajahnya. "Anak Ibu sudah mandi atau belum?"
"Sudah dong, sekalian coba kamar mandi baru bareng Kak Rere tadi. Ish, aku lupa. " Ayu menepuk dahinya. "Ini sudah jam berapa? Jarum panjang di angka 4 dan pendek di angka 4 geser sedikit. Jam setengah lima kurang. Wah Nenek sudah menungguku, dia mengajakku jalan-jalan keliling komplek."
"Ayu, ayo... ," ajak Rere yang baru masuk ke kamar. "Eh Bibi ternyata ada di sini."
Hana tersenyum. "Kalian mau kemana?"
"Keluar Bi, Nenek dan Kakek mengajak keliling sekitar sini sebelum pulang ke Jakarta besok atau lusa. Aku inginnya lusa tetapi ayah mau pulang besok saja. Banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal lama katanya." Rere nampak terlihat bersedih.
"Kalau Kakak pulang ya tidak asik lagi. Aku tidak punya teman." Ayu langsung memeluk Rere.
"Kalian bisa saling menelfon dan bertukar cerita nanti," ucap Hana.
Ayu mengangguk. "Aku ingin naik pesawat terbang."
"Ayu, Kak Rere, dicari nenek ayo cepat," panggil Bagus dan Aaric yang ada di depan pintu. Bagus yang melihat ibunya duduk di sana langsung datang dan memeluk.
"Aku rindu Ibu. Ibu belum kelihatan dari kemarin kata Ayah Ibu sedang sakit. Ketika aku buka kamar kalian tadi pagi. Ayah dan Ibu masih tidur jadi aku tidak pamit pergi ke sekolah."
"Ibu sudah sehat, sekarang malah gantian ayahmu yang terkena diare."
"Kenapa, Bu?"
"Makan pedas." Kedua anaknya menganggukkan kepala.
"Ayo cepat, nanti Nenek ngomel karena lama," ujar Aaric dengan suara di rendahkan.
"Ibu kami pergi dulu ya?" pamit dua anak itu.
__ADS_1
"Rere jaga adik-adikmu," pinta Hana.
"Pasti Bibi. Lagian Kaka Leon ikut juga kok."
"Kalau begitu Bibi akan lebih tenang jika kakakmu ikut."
Setelah melihat kepergian anak-anaknya Hana berjalan kembali ke kamarnya. Dia berpapasan dengan Raina di ruang tengah.
"Bagaimana keadaan Roy?" tanya Raina.
"Sudah lebih baik, Kak."
Raina lalu mengajak Hana untuk duduk di kursi panjang. Mereka duduk saling berhadapan. Raina lalu mengatakan soal rencananya untuk kembali ke Jerman besok.
"Padahal aku senang kalian semua ada di sini."
"Aku juga, seperti tidak hidup sendiri. Aku juga jadi punya teman berbicara."
"Bagaimana hubunganmu dengan Roy? Kenapa kalian tidak menikah saja? Bukankah kalian juga sudah tinggal satu kamar."
"Kak, semua tidak semudah itu. Aku juga ingin tinggal di kamar berbeda tetapi Pak Roy dengan berbagai alasan menolaknya."
"Dia itu memang pandai jika dalam membuat alasan," celetuk Raina.
"Apa, Kak?"
"Tidak apa-apa. Itu untuk kebaikanmu sendiri kan Hana. Roy melakukannya karena dia perhatian padamu."
"Ya, aku tahu."
"Jika kau tahu seharusnya kau mulai membuka hati untuknya."
"Dia sendiri tidak membuka hati untukku lalu untuk apa aku membuka hati untuknya?"
"Apa maksudmu?"
"Kemarin foto almarhumah istrinya masih dipajang di kamar. Barang-barangnya juga masih memenuhi ruang pakaian. Itu menjadi tanda jika dia hanya melihatku sebagai ibu dari anaknya tidak ingin terlibat perasaan yang jauh denganku."
__ADS_1
"Roy!" Raina memukul telapak tangannya satu dengan kepalan tangan yang lain. Wajahnya nampak kesal.