
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Terus terang kami, keluarga ini, terutama Ibu sangat berharap kau mau menikah dengan Roy. Dia sudah terlalu tua untuk hidup sendiri," ungkap Raina. Hana tersenyum geli mendengar istilah tua keluar dari bibir Raina.
"Sudah kukatakan ini terlalu cepat untuk kami. Jadi aku belum bisa memutuskannya. Biarkan semua mengalir dulu apa adanya."
"Huh..." Raina menghembuskan nafas kecewa.
"Kau bersaing dengan yang sudah meninggal sedangkan aku berjuang dengan masih ada."
"Maksud Kakak?"
"Ya, aku dulu langsung menikah dengan suamiku setelah dia tahu ada anak kami. Aku jadi yang kedua. Sakit memang, tapi semua perjuangkan tidak akan pernah sia-sia dan cinta yang tulus pasti memenangkan semuanya."
"Jadi Kakak dijadikan istri kedua?" tanya Hana heran tidak menyangka dibalik kehidupan menyenangkan Raina ada cerita duka di baliknya.
"Kehidupanmu lebih baik dari pada aku Hana. Yang utama Roy sendiri, duda, bukan milik orang lain. Kau hanya harus membuat dia mencintaimu."
"Aku... belum pernah melakukan itu dan tidak tahu apa itu cinta sesungguhnya. Lagipula bagaimana aku harus membuat orang jatuh cinta sedangkan aku saja tidak mencintainya."
Raina geram dengan sikap Hana yang sukar menangkap apa yang dia katakan.
"Okey, begini. Cinta itu bisa datang karena terbiasa," terang Raina. Hana mengangguk.
"Sekarang kau coba lihat apa kurangnya Roy sebagai seorang lelaki yang membuat kau tidak suka padanya?"
"Apa Roy jelek?" tanya Raina. Hana menggeleng.
"Apa fisiknya tidak kau sukai?" Hana nampak berpikir untuk menjawabnya.
"Aku tidak suka dengan rambut dan brewoknya itu menyeramkan, aku juga tidak suka dengan pria bertatto tapi aku tahu itu tidak bisa dihapus."
"Hanya itu?" Hana mengangguk ragu. "Tidak ada yang lain. Roy itu atletis dan seksi. Dulu suamiku seperti itu hanya saja sekarang dia banyak makan jadi sedikit berisi."
__ADS_1
"Ya, tubuhnya seperti model." Hana membayangkan tadi ketika dia mengusap tubuh Roy, merasakan otot keras pria itu dibawah kulitnya, lekuk-lekuknya bentuknya seperti pria macho dalam film Hollywood.
Raina menahan tawa menatap ekspresi Hana yang apa adanya.
"Usap air liur mu itu," perintah Raina dan Hana melakukannya. Raina tertawa geli sedangkan Hana menekuk wajah tahu dikerjai oleh Raina.
"Bagaimana dengan sikap Roy?"
"Baik dan perhatian, juga mesum." Kata terakhir diucapkan Hana dengan lirih hampir tidak terdengar. Raina benar-benar geli dengan sikap Hana ini. Perutnya sakit menahan tawa.
"Semua pria memang seperti itu jika tertarik pada wanita. Kau jangan terkejut."
Sejenak Hana membuka mulutnya membentuk huruf O namun dia menutupnya lagi.
"Tertarik belum tentu suka?"
"Itu awal yang bagus bukan? Jika kalian saling berbagi perasaan maka semuanya akan mengalir dengan mudah. Intinya kau harus membuka hati mu untuknya selebar mungkin."
"Hmm jika begitu tinggalkan saja dia?" cetus Raina.
"Lalu anak-anak?"
"Kalian bisa merawat mereka berdua. Walau di tempat berbeda."
Hana mengerutkan dahi.
"Jangan mau dibandingkan dengan siapapun. Kau adalah kau, Hana. Bukan wanita lain. Walau itu mendiang isterinya. Jika Roy belum move on dengan kematian istrinya, maka biarkan dia bersama kenangannya dan kau hidup dengan hidupmu yang bebas. Jangan mau terikat hanya karena anak. Kau benar dengan menunda pernikahan itu. Aku setuju denganmu."
Hana tidak menyangka jika Raina malah mendukungnya dia kira wanita itu akan mendorongnya untuk menerima Roy apa adanya. Nyatanya, malah terbalik. Roy benar jika menyuruhnya berbicara dengan Raina. Wanita itu tahu apa yang ada dalam hatinya.
"Sudah jangan berpikir macam-macam. Jalani saja dulu kehidupan kalian. Jika kau tidak tahan, maka kau bisa memilih untuk pergi. Katakan jujur saja pada Roy. Dia akan mengerti."
__ADS_1
"Tapi jika kau mencintainya, kau harus memperjuangkannya," imbuh Raina.
Hana tersenyum dia lalu memeluk Raina. "Terima kasih hatiku menjadi lega setelah mengatakan semuanya padamu."
"Jangan sungkan padaku. Jika kau butuh apapun kau bisa menghubungiku. Anggap aku adalah kakakmu."
Hana tersenyum senang dan mengangguk. Dia senang dengan sikap ramah dan bijaksana Raina dia bisa menyingkapi suatu masalah dari semua sisi. Padahal Roy adalah keluarganya tetapi dia tidak membela Roy.
Hana juga penasaran dengan masalalu Raina tetapi dia tidak ingin bertanya lebih jauh. Itu tidak etis dan sopan kecuali Raina sendiri yang menceritakan semuanya.
"Bagaimana dengan trauma yang kau alami?"
"Sudah lebih baik setelah aku menjalani terapi."
"Itu bagus. Kau memang harus sering berinteraksi dengannya agar perlahan-lahan trauma itu hilang."
"Iya Kak, aku sedang berusaha untuk mengatasinya."
Setelah puas berbicara dengan Raina, Hana kembali ke kamar Roy. Dia melihat pria itu sedang berdiri di balkon kamar.
"Kau tidak tidur?" tanya Hana mendekat. Roy membalikkan tubuh dan menatap ke arah Hana. Di tangannya ada segelas anggur dalam cawan yang terbuat dari
"Aku tidak biasa tidur ketika matahari masih bersinar."
"Kau minum?" tanya Hana.
"Apakah kau keberatan?"
"Itu hak mu," jawab Hana membalikkan tubuhnya. Berjalan pergi.
"Jika kau tidak suka aku tidak akan meminumnya," ucap Roy membuat Hana menghentikan langkah nya. Roy lalu meletakkan gelas itu di pinggir tembok pembatas balkon.
__ADS_1