
"Hmmm, untuk apa?" tanya Raina menatap Nita. "Seharusnya aku yang diajak karena aku yang hamil anak Adry? Maksudku anak yang sedang ada dalam kandungku."
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membawanya ke sana saja," ujar Nita menyelipkan rambut ke belakang telinga. "Itu semata-mata kulakukan karena Adry terlihat sangat menyayanginya."
Raina menatap Adry. "Kalian boleh membawa Leon jika aku ikut. Itu karena aku ibunya dan dia anakku, darah dagingku,'' ucap Raina tegas namun tersenyum ramah setelahnya.
Adry dan Nita menatapnya terkejut. "Tentu saja kau ibunya. Kami hanya ingin membawanya bertemu dengan orang tua Adry tidak ada maksud lain."
"Aku juga mempercayai kalian tetapi alangkah eloknya jika aku juga ikut serta aku ingin mengenal orang tua dari malaikat yang telah membantu pengobatan Leon. Ucapan terima kasih saja tidak cukup bukan?" sindir Raina.
"Kalau begitu kita akan membicarakan ini besok-besok saja. Sekarang kami undur diri untuk pulang."
"Ini memang sudah petang kalian harus pulang ke rumah tetapi jika kalian mau kalian bisa menginap di sini karena ini juga rumah Tuan Adry." Lirik Raina pada Adry.
Pria itu mulai merasa gerah bersama dengan dua istrinya walau mereka tidak saling bertengkar terasa benar ketegangannya.
"Maksud saya, saya hanya tinggal disini saja sedangkan pemiliknya adalah dia," lanjut Raina.
Nita tersenyum kecut.
"Tidak terima kasih akan lebih nyaman tinggal di rumah sendiri."
"Kau benar, harus membuat rumah nyaman agar penghuninya betah tinggal dan orang asing pun akan merasakan kenyamanannya."
"Ayo cepat, kita pulang," ajak Adry agar adu mulut manis ini cepat selesai.
"Mari saya antar hingga ke lift," tawar Raina pergi mendahului mereka.
__ADS_1
"Selamat jalan Tuan dan Nyonya Quandt," ucap Raina ketika Adry dan Nita masuk ke dalam lift. Adry terlihat menatap tajam Raina.
Raina hanya menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Sampai jumpa lagi, Raina," kata Nita melambaikan tangan.
Pintu lift mulai tertutup. Raina lalu membalikkan tubuh, berjalan sembari memegang dada. Buliran bening dia seka dengan kasar.
Raina lalu pergi ke kamar Leon dan melihat anak itu sudah tertidur pulas tanpa melepas sepatunya.
"Mungkin dia kecapaian sepanjang hari." Batin Raina melepas sepatu Leon dan jam yang tersemat di tangannya. Jam tangan bermerk yang Raina tahu jika harganya selangit bahkan bisa untuk membeli sebuah rumah sederhana.
Raina lalu berbaring di sisi Leon dan memeluknya. Kini fokusnya bukan pada Adry lagi tetapi pada Leon.
Dia pikir jika Adry memang sedang mempermainkannya. Semua yang dia lakukan untuk mendekati Leon bukan dirinya. Setelah mereka dekat tinggal Nita masuk dan mencuri hati Leon. Setelah itu, Leon akan diambil oleh mereka. Tidak. Pria itu atau istrinya tidak akan bisa melakukannya.
Harus minta tolong pada siapakah dia saat ini?
Raina merasa tertekan dan frustasi. Hanya bisa menangisi takdir yang menimpa. Tadinya dia pikir kebahagian sedang hadir dalam dirinya. Namun, ternyata hanya semu belaka. Adry telah menipunya mengambil kesempatan dalam kesepian yang dia rasakan. Dia lelah menangis dan jatuh tidur begitu saja.
Sedangkan di mansion Quandt, Adry merasa ada yang berbeda dari Raina. Tatapan mata wanita itu penuh dengan kekecewaan dan kebencian padanya.
Dia lalu duduk bersandar di headboard melihat ke arah Nita yang sudah tertidur pulas. Wanita itu, terlihat sangat bersemangat pergi bersama Leon. Sepanjang yang dia lihat Nita sangat menyayangi putranya. Lalu, itu bukan hal buruk untuk mengenalkan Leon dengan orang tuanya.
Adry yakin jika orang tuanya pasti akan antusias melihatnya dan mereka akan langsung menebak jika Leon adalah buah hatinya. Sama seperti dirinya yang langsung punya ketertarikan dengan Leon. Darah memang lebih kental dari air.
Kembali lagi ke Raina. Mengapa wanita itu terlihat marah. Apakah dia cemburu dengan kebersamaannya dan Nita serta Leon? Itu wajar dia hanya harus memberi sedikit pengertian padanya saja.
__ADS_1
Adry lalu bangkit berjalan keluar kamarnya menuju ke ruang kerja. Roy telah mengambil laptop dari kamar Raina. Laptop yang bersambung langsung dengan semua CCTV yang ada dalam ruangan rumah Raina.
Dia masuk ke dalam ruangan itu hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil sebotol minuman keras dari dalam lemari. Berjalan ke meja kerjanya dan duduk di sana. Membuka bir lalu menuangkannya ke dalam sloki. Dia menenggaknya hingga habis baru membuka laptop.
Adry mulai menyalakan laptop dan mencari keberadaan Raina. Adry melihat wanita itu berada di kamar anaknya dan sedang memeluknya erat. Sesekali Adry melihat Raina mengusap wajahnya.
Apakah wanita itu sedang menangis? Pikirnya. Tiba-tiba dadanya merasa nyeri. Adry lalu berdiri menenggak lagi bir langsung dari botol hingga separuh. Bayangan Raina kembali berkelebat di mata. Rainanya menangis.
"Om, jangan buat Ibu menangis," ujar Leon ketika berada di rumah sakit. Kalimat itu terngiang di telinganya.
"Kau sudah membuatku menangis selama sepuluh tahun ini, jadi aku tidak akan membiarkan kau melakukannya lagi!" ungkap Raina sewaktu mereka berdua.
Adry lalu meletakkan botolnya di atas meja. Menutup laptop. Lalu, berjalan keluar rumah. Dia ingin melihat keadaan wanita itu apakah dia memang sedang menangis. Jika iya Raina harus mengatakan alasannya.
Adry berjalan ke arah bagasi mobil dan memakai satu mobil sederhana yang biasa dia gunakan jika bersama dengan Raina. Dia tidak pernah ingin terlihat wah di depan wanita itu. Ajaibnya Raina terlihat menerima kesederhanaan itu. Adry juga mulai nyaman dengan hidup yang sederhana.
Dia dulu tertawa jika mendengar orang berkata ada kebahagiaan dalam kesederhanaan. Kini dia merasakannya. Tidak perlu banyak makanan tetapi duduk di meja kecil bersama keluarga dan saling berbagi makanan itu membuat rasa bahagia untuknya.
"Buka pintunya," perintah Adry pada penjaga pintu. Penjaga itu lantas memencet tombol remote dan pintu gerbang yang tinggi mulai terbuka. Adry lalu menancap gasnya dengan cepat ketika pintu mulai terbuka lebar.
Setelah sampai di apartemen dia langsung pergi ke kamar Leon. Dia membuka pintu kamar dengan cepat dan menutupnya lagi. Lalu, berjalan dengan pelan ke ranjang berukuran sedang.
Raina sedang memeluk tubuh Leon. Wajahnya masih terlihat basah. Adry melepaskan sandal yang dia gunakan. Lalu, naik ke tempat tidur dan ikut masuk ke dalam selimut bersama dengan Raina dan Leon.
Dia menyangga tubuhnya dengan satu tangan lalu mencium pipi basah Raina membuat wanita itu terkejut.
"Kak Adry?" panggil Raina membuat hati Adry sakit. Mengapa harus ada kata Kak? Apakah Raina menganggapnya orang asing setelah apa yang mereka lalui bersama?
__ADS_1