
Dia berjalan menyusuri jalanan membayangkan Raina berjalan diantara hujan badai ini, sendirian, dalam keadaan marah dan berjalan kaki, seharusnya dia tidak boleh berjalan kaki terlalu lama.
Dia menghalau hujan yang mengganggu penglihatannya dan melihat Raina berada di ujung perempatan menyetop taxi. Adry berteriak memanggilnya tetapi wanita itu tidak mendengar teriakannya. Pintu taxi itu tertutup dan taxi itu mulai berjalan pergi.
Jantung Adry terasa copot. Dia merasa ketakutan yang sangat jika Raina pergi lagi meninggalkannya. Dia terpaku di trotoar melijat taxi itu hingga hilang dari pandangan mata.
Setalah itu, Adry mengambil mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh kembali menuju ke apartemen mereka. Dia berharap Raina pulang kesana walau setengahnya dia tidak yakin.
Sewaktu sudah sampai di depan gedung apartemennya, dia menyerahkan kunci mobilnya pada seorang penjaga untuk diparkirkan. Dia lalu masuk ke dalam gedung apartemen dan bertanya pada petugas di sana.
"Apakah kau melihat Nyonya Quandt datang?"
"Ya, Tuan dia baru saja melewati sini."
Hati Adry menjadi tenang dan lega seketika. Dia lalu bergegas masuk ke dalam lift menuju ke penthouse miliknya.
Dia membuka pintu sesampainya di dalam. Menyalakan lampu dan melihat jejak basah di lantai.
"Raina... Raina ... Sayang, apakah kau ada?" panggil Adry yang langsung pergi ke kamarnya.
Dia membuka pintu kamar dan melihat Raina sedang duduk dengan memeluk kakinya sendiri. Kepalanya mendongak ke arahnya. Matanya sembab dan basah. Raina habis menangis, pikir Adry. Seketika dadanya ikut merasa nyeri.
"Aku sudah mencoba untuk bertahan di sana namun aku tidak bisa maaf... ," ucapnya serak.
Adry lalu mendekat dan memeluk istrinya dengan erat. Meletakkan dagunya diatas pucuk kepala Raina. Raina menangis di pelukan Adry. Hal itu, membuat Adry terdiam. Dia merasa tidak berdaya.
"Aku berusaha untuk menekan perasaanku dan mengatakan jika aku mampu melakukannya. Namun, tatapan jijik dan merendahkan orang tuamu membuat pertahananku runtuh. Mereka mencoba menyakinkan dirimu jika aku adalah wanita yang buruk dengan caranya. Ya, aku memang tidak sebaik Nita dalam segala hal. Lalu aku pikir aku tidak bisa menerimanya, aku tidak harus mendengarkan hinaan mereka. Aku lebih pantas mendapatkan hal yang lebih baik."
__ADS_1
Suara Raina terdengar serak penuh dengan kesedihan. Wanita itu lantas mendongak menatap Adry. Dia tertawa mengejek dengan air mata yang terus mengalir.
"Sebelumnya kau mengatakan jika kau memaafkan aku? Untuk apa? Untuk kesalahan yang tidak kulakukan!"
Raina lalu mendorong tubuh Adry keras. "Kau tahu aku tidak memaafkanmu atas semua ketidak percayaan mu padaku, atas semua tuduhan yang kau layangkan padaku. Atas semua janjimu yang kau ingkari, kau mengatakan jika kau akan mencintaiku dan melindungiku. Nyatanya, kau tidak bisa berbuat apapun ketika aku sangat membutuhkanmu. Di mana kau ketika mereka mengira aku adalah orang yang akan membunuh ibumu. Kau seolah melemparkan semua kesalahan itu padaku."
"Maaf kau memaafkan aku?" Menatap sinis pada Adry.
"Aku beritahu satu hal padamu, entah kau percaya atau tidak. Ibumu yang akan menusuk perutku, reflek aku melindungi anak dalam perutku sendiri dengan memegang ujung pisau itu. Namun, Ibumu malah menusukkan pisau itu ke perutnya sendiri dengan ujung mata pisau yang lain."
Adry mundur memegang kepalanya. Ya, dia merasa ada sesuatu yang salah dan janggal, hal ini yang dia dan sersan cari. Mengapa darah Raina ada di pisau itu? Dia tidak menyangka jika ibunya menggunakan trik kotor itu untuk membuat Raina terlihat bersalah.
"Aku menunggumu untuk datang dan mengatakan semua itu, namun kau tidak kunjung datang juga. Lalu ibumu memaksaku untuk menandatangani surat pernyataan jika aku harus meminta maaf atas semua yang tidak aku lakukan jika ingin bebas."
Raina mengatakannya dengan penuh api kemarahan. Suaranya serak dan hampir habis. Pernyataan wanita itu membuat Adry terpaku. Perutnya semakin melilit dan dadanya sesak.
"Atau seharusnya aku membiarkan ibumu menusuk perutku, mungkin itu lebih baik agar matamu bisa terbuka dan melihat bagaimana sifat aslinya. Kau tahu semua orang yang ada di sekitarmu itu tidak ingin jika kita bersama tetapi kau tetap saja percaya pada mereka daripada diriku. Bagaimanapun aku itu hanya orang asing dan mereka adalah keluargamu."
Kejadian dulu berputar jelas di mata Adry saat ini. Dia bisa melihat semuanya. Dari awal, ban mobilnya yang mengempis hingga kejadian saat ibunya tertusuk.
"Aku di sini mendengarkanmu, Raina. Aku percaya padamu."
"Tidak perduli kau mempercayaiku saat ini atau tidak. Berkali-kali kau tidak mempercayaiku di saat-saat yang penting."
"Raina aku meminta maaf," kata Adry.
"Tidak perlu, aku sudah lelah dengan semua drama ini." Raina mengatakannya dengan tatapan penuh kebencian dan itu adalah hal yang paling ditakutkan oleh Adry.
__ADS_1
Raina memijit kepalanya dan menunduk. Adry mendekat untuk menolongnya.
"Raina," panggil Adry.
Raina mendongak menatapnya tajam. Tangannya seketika di rentangkan. "Jangan mendekat!"
"Raina ku mohon." Dia akan melakukan apapun asal wanita itu tidak pergi meninggalkannya.
"Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
"Cinta?" Raina tertawa miris. "Cinta seharusnya tidak menyakitkan seperti ini. Itu bukan cinta. Cinta adalah sebuah kepercayaan."
Wanita itu lantas bangkit dan berjalan keluar. Adry memegang lengan Raina tetapi wanita itu menepisnya sembari memegang kepalanya.
"Ku mohon Raina jangan pergi," kata Adry penuh ketakutan. Raina menoleh, kesedihan jelas terlihat di wajahnya dan itu sangat menyakiti hati Adry. Rasa tidak berdayanya membuat dia rela bersimpuh di depan wanita ini asal tidak meninggalkannya lagi.
"Tidakkah kau melihatnya Adry, hubungan ini tidak akan pernah berhasil. Keluargamu tidak menyukaiku dan dengan terang ibumu menyatakan perang padaku. Kau masih saja tidak mempercayaiku. Lalu apa yang harus ku perbuat." Raina mengeratkan leher. Sehingga cekungan jelas terlihat di sana.
"Aku sudah bersumpah tidak akan kembali padamu tetapi aku mengingkarinya. Aku bahkan setuju untuk melanjutkan pernikahan kita. Menatap masa depan dengan indah karena aku sangat mencintaimu. Tetapi setelah semua yang terjadi aku baru bisa menyimpulkan dan menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa melangkah bersamamu. Aku berhak untuk hidup dengan lebih baik lagi, anakku butuh ibunya yang bahagia dan sehat."
"Raina," lirih Adry.
Raina tiba-tiba terhuyung, dia memegang meja rias untuk menumpu tubuhnya. Kepalanya di pegang dengan tangan yang lain. "Aduh, kepala ku!"
"Raina ada apa?" tanya Adry khawatir. Dia sudah merasa ada yang tidak beres.
Wajah Raina terlihat memucat, kepanikan menerjang dirinya dan untuk sesat pandangannya kabur. Dia mengulurkan tangan pada Adry untuk meminta bantuan sebelum semuanya gelap.
__ADS_1
Adry langsung bergerak menangkap tubuh Raina yang hampir jatuh ke lantai.