
"Kakak...," suara Ayu terdengar gemetar, menoleh ke belakang ke arah bilik kamar yang terbuat dari tripleks.
Roy langsung menangkap ada ketidakberesan di sana. Dia langsung bergerak cepat ke arah bilik kamar itu menyingkap kain korden bergambar kartun.
Kakinya lemas seketika melihat tubuh kecil Bagas meringkuk di atas dipan kayu dengan tempat tidur dari kasur kapuk yang tipis. Lebih tepatnya kasur lantai yang dijadikan kasur tidur.
Roy lalu mendekat ke arah Bagas dan memeriksanya. Tubuhnya panas sekali, batin Roy.
"Sejak kapan dia sakit?"
"Semalam Kakak mengeluh jika punggungnya sakit. Ibu sudah mengurutnya dan memberi Kakak obat pereda nyeri. Tapi paginya Kakak panas kami tidak sekolah karena ibu menyuruhku menunggu Kakak di rumah."
"Lalu dimana Ibumu?"
"Ibu sedang berjualan."
"Bagaimana bisa dia meninggalkan anaknya yang sedang sakit," umpat Roy kesal dan geram.
Ayu terdiam hanya terisak.
"Om gagah," ucap Bagus ketika membuka mata ketika mendengar suara berisik.
"Apa yang kau rasakan?"
"Aku baik-baik saja hanya sedikit sakit dipunggung."
"Anak bandel!" ucap Roy. Bagas masih bisa tersenyum dalam keadaan seperti itu.
"Coba Om lihat bagian mana yang sakit."
Bagas lalu menelungkup, memberi tahu letak bagian tubuhnya yang sakit. Roy memeriksanya. Benar saja ada memar keunguan di bagian pundak anak itu.
"Kau pasti terkena benda keras sewaktu jatuh kemarin, sehingga jadi memar seperti ini. Panasnya di picu oleh rasa sakit di bagian ini. Kita akan ke rumah sakit agar kau bisa memperoleh pengobatan yang baik."
"Tapi Om, Ibu tidak punya uang untuk berobat," ujar Ayu dengan tatapan yang terlihat sayu.
"Apa aku mengatakan jika ibumu harus membayar pengobatan itu, tidak kan? Ayo ikut aku atau kau ingin menjadi menunggu di rumah saja?"
"Aku ikut Om. Ibu tadi bilang jika aku harus menunggu Kakak."
Roy hendak mengangkat tubuh Bagas namun Bagas malah mundur.
Roy langsung menggendong Bagas keluar dari rumah itu, membawanya ke mobil yang terparkir 50 meter dari rumah kontrakan. Dia langsung membawa Bagas ke rumah sakit terdekat.
"Ayu mau kemana? Nanti ibumu mencari?" tanya seorang pria yang tadi sempat diajak bicara oleh Roy.
Mendengar pertanyaan di lontarkan ke arahnya, Ayu lalu menatap Roy.
__ADS_1
"Bagas sakit akan saya ajak ke dokter. Tolong katakan pada ibunya jika Bagus saya bawa pergi bersama Ayu, dia tidak perlu cemas ataupun khawatir."
"Akan sampaikan Mas."
"Terima kasih sebelumnya Pak Paryo," ujar Ayu.
"Semoga Bagus lekas sembuh, ya."
Roy menyetir sambil menggigit tangannya sendiri sambil sesekali menoleh ke arah Bagas. Pantas saja dia bermimpi anak-anak itu memanggilnya. Mereka mungkin sedang membutuhkannya sejak semalam sedangkan dia malah tertidur di tempat yang nyaman. Rasa bersalah menyeruak dalam dadanya. Namun, kemungkinan anak-anak itu bukan anak kandungnya membuat rasa sakit yang lain. Dia berharap naluri nya benar adanya.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit terdekat. Bagus langsung mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit.
Dokter lalu keluar setelah memeriksa keadaan Bagas. Roy mulai mendekati.
"Bagaimana keadaan anak itu Dokter?" tanya Roy.
"Anda orangtuanya?" balik Dokter itu.
"Saya," Roy tidak tahu harus menjawab apa.
"Bukan dia orang asing yang menolong kakak," ujar Ayu.
"Orang asing," ulang Roy dalam hati. Mengapa rasanya dia tidak terima dikatakan sebagai orang asing oleh anak itu?
"Lalu dimana ayah dan ibu mereka?" tanya Dokter itu pada Roy.
"Okey, aku mengerti. Tadinya aku kira pasien itu, anak Anda Tuan karena wajah kalian mirip."
'Mirip benarkah?'
"Mungkin itu hanya kebetulan semata karena aku belum menikah dan baru bertemu dengan mereka kemarin." Roy menatap ke arah Ayu. Anak itu mengatup bibirnya dan mengangguk.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Roy lagi.
"Dia hanya sedikit cedera di bagian bahu tapi kami sudah memasang perban elastis agar dia merasa agak baikan. Kami juga memberikan pereda rasa nyeri dan penurun panas. Sepertinya anak itu juga kelaparan tapi ada perawat yang sedang memberinya makan. Dia mengalami gejala tipes mungkin karena sering telat makan."
'Jika mereka benar anakku maka aku adalah ayah yang buruk yang membiarkan anaknya kelaparan.'
"Mulai saat ini aku akan memastikan mereka akan kenyang dan tercukupi gizinya setiap hari," ujar Roy. "Apakah kami boleh membawanya pulang sekarang Dokter atau apakah perlu dilakukan tindakan lainnya?"
"Sejauh ini tidak kalian bisa membawanya pulang. Ini resep obat yang bisa kalian tebus di apotik."
"Terima kasih atas bantuannya Dokter."
"Sama-sama."
Roy lalu masuk ke dalam ruang perawatan itu untuk menengok keadaan Bagus.
__ADS_1
"Lihat ayahmu sudah datang," ujar sang perawat.
"Dia bukan Ayahku," ujar Bagas lemah dan menunduk. Roy hanya bisa tersenyum kaku menanggapinya seraya menghela nafas melihat ke arah Bagus. Perkataan Bagus itu terasa menghantam nya ke ujung dunia paling dalam.
"Aku akan mengambil obat dulu lalu kita pulang ke rumah kalian."
Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan mengambil obat Roy lalu mengajak pulang Bagus dan Ayu.
Di tengah jalan mereka berhenti di sebuah rumah makan padang. Roy meminta mereka turun tetapi Bagus menolak dia meminta untuk dibawa ke rumah saja. Akhirnya, Roy memesan lima kotak makanan berjaga jika nanti kedua anak itu akan tambah lagi makannya.
Setelah itu mereka berhenti di sebuah swalayan kecil.
"Siapa yang mau ikut turun."
"Aku mau ikut," ujar Bagus. "Aku tidak pernah belanja di supermarket."
"Aku juga ikut."
Mereka lalu masuk bersama.
Roy mengambil semua makanan kecil, susu, roti dan juga biskuit untuk anak-anak itu hingga belanja yang dia bawa ada dua keranjang penuh. Bagas dan Ayu nampak terperangah dan tertawa lebar.
"Wah ini banyak sekali, Om. Om itu kaya sekali ya bisa membeli apapun.''
" Tapi tidak bisa membeli tawa seperti yang kalian miliki," ujar Roy senang.
'Jika ada baju dan sepatu pasti aku juga akan membelinya untuk kalian.' Roy memandang penampilan anak itu. Walau pakaian mereka sudah kusam tapi masih terlihat rapi. Setidaknya Ibu mereka masih punya waktu untuk mengurus pakaian anak-anaknya. Tidak seperti penampilan mereka kemarin yang kotor dan berantakan. Mungkin mereka memakai baju itu untuk mencari barang bekas di sampah.
Mereka akhirnya sampai di gang. Nampak, terdengar suara orang berteriak.
"Kau bilang mau bayar hari ini tapi apa? Kau cuma bayar cuma separuhnya. Jika kau tidak bisa membayarnya maka sebaiknya kau pergi saja dari sini karena sudah akan ada yang menggantikanmu."
"Inang, aku bayar separuh itu artinya aku ada niat membayarnya. Aku tidak ada niat untuk tidak lari dari kewajibanku."
"Kalau begitu bayar penuh lah."
"Kau tahu hanya hepeng itu duit ku tidak ada lagi. Kau jangan kejam jadi wanita. Beri waktu aku dua hari lagi pasti akan kulunasi bayaran bulan ini. Aku memang suka lama bayarnya tapi aku selalu membayar tidak pernah menunggak bayaran!" jawab lantang seorang wanita.
"Baiklah kalau begitu dua hari lagi jika tidak kau bawa anak-anak dan barangmu keluar dari rumah ini."
"Boru kita itu sudah seperti saudara kau jangan kejam padaku."
"kalau urusan uang tidak ada istilah saudara mengerti! Aku pulang dulu. Ingat besok harus bayar."
"Lusa!" Wanita penagihan uang kontrakan itu lantas pergi dari tempat itu. Dia sempat berpapasan dengan Roy dan anak-anak.
"Hana apa ini bapaknya anak-anak? Tampan sekali, pantas saja kau jatuh dalam pelukannya?"
__ADS_1
Hana yang sedang membawa sebuah ember berwarna putih langsung menjatuhkannya ketika melihat sosok Roy.