
Kepala Adry mulai terasa pusing dia mendorong tubuh Janeta tetapi pengawal wanita itu malah menodongkan pistol. Lalu mulai terjadi tembak menembak. Adry mencoba berlari bersama anak buahnya dan di kejar oleh Janeta.
Kepalanya makin terasa berat dan kakinya mulai melemah untuk melangkah. Di saat itu Roy datang.
"Kak, kau tidak apa-apa?" Roy memegang tubuh kakaknya yang sedang jatuh bersimpuh.
"Kau jangan ikut urusanku, biarkan aku membawanya!" teriak Janeta pada Roy.
"Aku tidak akan pernah membiarkannya?"
"Kenapa? Agar kau dapat simpati Ayahmu agar dia menyerahkan harta itu padamu bukan pewaris sahnya! Dasar anak ****** tetap menjadi ******!" bentak Janeta murka.
"Kak bertahanlah," ucap Roy menyuruh anak buahnya mengambil air dingin yang dibawanya dari dashboard mobil Jeep. Dia tidak menghiraukan perkataan Janeta samasekali.
Janeta lalu mendorong tubuh Roy agar menjauh dari putranya.
"Pergilah, tidak usah berlagak baik pada dasarnya kau hanya ingin menikamnya dari belakang." Pertarungan antar dua kelompok langsung terhenti menunggu perintah dari kedua kubu.
"Aku tidak peduli dengan yang kau katakan Nyonya, yang jelas aku harus menyelamatkan Kakakku!"Roy menarik tubuh lemah Adry. Sedangkan Adry masih bisa mendengar pertengkaran dua orang keluarganya.
"Pergilah, aku tidak akan pernah menyakiti anakku!" perintah Janeta.
"Tidak menyakiti? Kau telah menyakiti semua orang, tidakkah kau sadar akan hal itu!" seru Roy tidak mau kalah. Selama ini dia diam tapi kali ini tidak.
"Semua kulakukan demi putraku, tahu apa kau akan hal ini?"
"Jika ini semua untuk putramu, kau seharusnya tanya sebenarnya apa yang dia inginkan." Seorang pengawal datang membawa air yang Roy butuhkan dia menyiram kepala Adry dengan air mineral miliknya yang dingin. Mata Adry mulai terbuka walau masih terasa berat.
"Tahu apa kau tentang keluarga, kau datang ke kehidupan kami sebagai racun dan berlagak seperti setetes madu yang akan memaniskan rasa. Kau bermimpi?"
"Aku tidak pernah berharap menjadi keluarga kalian. Kalian sendiri yang membawaku masuk ke dalam keluarga kalian!" Mata Roy membelalak hampir keluar karena marah. Ingin sekali dia merobek mulut wanita itu.
"Nyonya pesawat harus lepas landas sekarang," kata asisten perempuan Janeta keluar dari pesawat.
"Maaf Roy, aku harus mengambil anakku," Janeta memberi perintah pada anak buahnya untuk mengambil tubuh Adry yang sudah tidak lagi bertenaga.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan kau menghancurkan hidupnya lagi," Roy menghalangi Janeta untuk membawa kakaknya.
"Roy! Jika tidak, aku akan membunuhmu sekarang!"
__ADS_1
"Aku bahkan bisa membunuhmu jika kau benar-benar mau mengambil Kakak," ucap Roy dengan suara dingin dan tatapan tajam yang berkilat penuh kebencian.
"Kau yang memintanya." Janeta langsung menembakkan pistol yang sedari tadi disembunyikan di balik tasnya. Dia tertawa keras penuh kemenangan ketika melihat peluru bersarang di dada Roy.
"Ibu...!" teriak Adry marah, melawan rasa kantuknya sekuat tenaga. Matanya menyalang marah, dia mengambil pistol ditangan Roy dan menembakkan peluru ke tubuh ibunya lalu mengenai perut wanita itu. Pria itu lantas tidak sadarkan diri.
Semua terdengar panik, menatap semua orang yang terluka. Hyun berlarian menolong Roy, mengecek keadaannya.
"Cepat, dia harus dibawa ke rumah sakit," teriak Hyun
Sedangkan Janeta mengerang sakit, dia ditarik ke pesawat. Hyun lalu menyuruh temannya untuk membawa Roy ke pesawat. Beberapa orang suruhan Janeta menghalangi tetapi mereka kalah jumlah dengan orang dari Adry. Terjadi perdebatan di sana dan hendak terjadi perkelahian kembali. Lalu asisten wanita Janeta menengahi.
"Kalau kalian terus bertengkar maka kedua orang ini akan mati bersamaan."
Semua orang lantas terdiam dan akhirnya Roy dan Janeta di bawa pergi ke rumah sakit di pulau seberang untuk dibawa segera ke rumah sakit. Satu dokter dari pulau ini ikut menemani kepergian mereka.
Adry sendiri dibawa kembali ke dalam kediamannya untuk dirawat seadanya. Dia lalu dibaringkan. Hyun menyuruh seseorang untuk mengambil Raina kembali dari persembunyiannya setelah keadaan dirasa kondusif.
Raina menjerit panik ketika melihat keadaan Adry yang tidak sadarkan diri.
"Dia tidak ada apa-apa Nyonya, hanya terkena obat bius," ucap pegawai dari pulau ini.
"Lalu dimana Roy?" tanya Raina.
"Dia...," pegawai itu terlihat bingung untuk menjawab.
"Kenapa dengan Roy, adakah sesuatu yang tidak aku ketahui."
Wajah pegawai itu terlihat pucat. Dia menghela nafas sebelum menceritakan yang telah terjadi tadi.
"Roy tertembak dan kau dari tadi diam saja tidak mengatakan apapun padaku!" bentak Raina.
"Maafkan aku, Nyonya." Pegawai itu menundukkan wajahnya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kami belum tahu hanya saja katanya dia sedang melakukan operasi pengangkatan peluru dari dadanya."
Rasa nyeri terasa di dada Raina. Bagaimanapun dia sudah menganggap Roy sebagai adiknya sendiri. Dia ingin menemani dan melihat keadaannya. Namun, dia tidak bisa sebelum Adry siuman. Raina hanya bisa pasrah, berdiam diri. Dalam hatinya dia merasa was-was akan terjadi hal buruk pada Roy.
__ADS_1
"Semoga dia bisa bertahan. Roy sudah banyak menderita dari dulu," ujar Raina. Pegawai itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Apakah ada yang tahu nomer Karina?" tanya Raina pada pegawai itu penuh harap.
"Saya akan menanyakannya pada Pak Hyun." Pegawai itu lantas keluar dari ruangan itu untuk menelfon Hyun yang kini menjadi pemimpin sementara di pulau ini.
Beberapa saat kemudian pegawai tadi datang dan membawa sebuah kertas.
"Ini nomer Nona Karina sekarang dia berada di Indonesia setelah melakukan prosesi penguburan Ayahnya."
"Kenapa harus ada masalah di saat bersamaan," gerutu Raina mulai mengambil handphone miliknya dan melakukan panggilan ke nomer Karina. Untung saja mereka masih berada di negara yang sama saat ini.
Panggilan pertama tidak diangkat. Raina mulai merasa cemas dan khawatir. Panggilan kedua lalu diterima. Raina bisa bernafas lega.
"Hallo, siapa ini?" tanya seseorang dari seberang telephon.
"Aku Raina," ucap Raina.
"Oh, Kak Raina," seru Karina bersemangat. "Ada apa Kak?" tanya Karina.
"Karina... aku butuh bantuanmu," ucap Raina menarik nafas berat.
"Bantuan apa, Kak?" tanya Karina terdengar penasaran.
"Roy... ," ucap Raina tertahan lalu menangis.
"Ada apa dengan Roy?" seru Karina tertahan.
"Roy ... Roy .... Roy ... tertembak di dada dan dia sedang menjalani operasi pengangkatan peluru di rumah sakit pusat kota."
Tidak ada suara. Namun, tidak lama kemudian ada suara Isak tangis dari Karina.
"Aku akan ke sana," kata Karina.
"Tapi kau ... ," ujar Raina bersyukur dalam hati, setidaknya dia berharap jika Karina bisa menumbuhkan semangat hidup Roy nantinya sehingga Roy bisa selamat dari maut.
"Semua sudah selesai, aku akan kesana secepat yang aku bisa."
"Jika kau mau, aku akan menghubungi Jonathan untuk membawamu dengan pesawat miliknya."
__ADS_1