
"Entahlah semua begitu cepat. Ada satu mobil yang berjalan beriringan dengan mobilku. Trus mobilku berjalan mendahului di saat yang sama satu mobil menabrak mobil. Hingga berputar dan kami melayang lalu masuk ke air.
"Sofia dan Ben mereka berusaha melindungiku ketika terjadi tabrakan maut. Mereka berusaha mengeluarkan aku dari dalam mobil setelah aku keluar ada tiga orang lain yang berusaha untuk membunuhku terjadi perkelahian di dalam air. Mereka berusaha untuk menenggelamkan aku tetapi Joy melepaskan aku dari cengkraman orang itu. Dia menyuruhku pergi secepatnya dari sana dan aku terus berenang mengikuti arus lalu menepi di jembatan. Orang-orang jembatan yang mengenalku menolong. Termasuk Ojim dan Lina, dimana mereka?"
"Mereka di luar sedang makan."
"Oh, syukurlah."
"Banyak yang mencariku tetapi aku merasa tidak aman. Aku tidak tahu siapa yang benar mencariku untuk menolong atau siapa yang mencariku untuk membunuh."
"Lalu luka di kakimu?"
"Itu terkena tusukan pisau." Hana menghela nafasnya. "Kau tahu Roy aku sangat beruntung karena diberi kehidupan kedua."
"Di mana para pengawal ku apakah mereka selamat?"
Roy terdiam lalu menggelengkan kepala. Hana menangis.
"Andai aku tidak pergi mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi karena aku mereka meninggal."
"Sudahlah, semua ini takdir Hana kita tidak bisa merubah apa yang telah digariskan."
"Kau makan dulu ya, kau belum makan. Tadi dokter mengatakan perutmu kosong."
"Ini sudah malam. Aku malas makan."
"Hmm. Kau harus makan demi anak kita di dalam perutmu," ucap Roy.
"Anak kita?"
"Ya, kau sedang hamil!"
"Aku hamil?" Roy mengangguk.
Hana mengeratkan pelukannya pada Roy. "Terimakasih Sayang karena kau selalu memberikan kebahagiaan berkali-kali lipat padaku," ujar Roy.
"Kau juga selalu membuatku bahagia."
"Ada pelangi setelah hujan, kita harap dengan kehadiran si kecil dalam perutmu ini akan membawa kebaikan lebih pada keluarga kita," harap Roy sambil mengusap perut Hana dan menciumnya.
"Aku akan membiarkanmu susu dan membawakan makan. Kau harus menghabiskan semuanya demi anak kita."
Hana mengangguk. Roy pergi keluar kamar.
"Bagaimana keadaan Bu Hana, Om? Apakah dia baik-baik saja?"
"Istriku sudah sadar sekarang hanya sedang butuh makan. Kalian anak hebat karena telah menjaganya selama ini. Terimakasih."
"Ini semua kami lakukan karena teringat pada kebaikan beliau yang selalu menjadi sosok ibu bagi kami,anak pinggir jalan. Di saat semua orang menjauh, Ibu selalu memberi kami bantuan selama ini. Kami sudah menganggapnya sebagai ibu kami."
"Kalau Ibu sudah sadar kami ingin undur diri untuk pulang ke rumah kami." lanjut Ojim tetapi mendapat cubitan dari Lima.
__ADS_1
"Aku akan dibunuh oleh Hana jika membiarkan kalian pergi dan tinggal di pinggir jalan lagi."
Ojim dan Lina saling bertukar pandang.
"Kalian tinggal di sini saja untuk sementara. Menemani Istriku sampai semua keadaan kondusif dan aman kembali."
"Apakah jika semua telah membaik kami boleh pulang?" tanya Ojim lagi.
"Tidak, kalian tinggal saja di rumah kami bersama dengan Ayu dan Bagus, apakah kalian mengenal mereka juga."
"Oh, adik kembar? Tentu saja kenal."
"Aku juga kenal. Kami kadang bermain bersama jika Ayu sedang menunggu Bu hana berjualan," ujar Ayu.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang tugas kalian hanya menjaga Ibu kalian agar sehat. Dia sedang mengandung jadi harus ektra merawatnya."
"Ibu Hana hamil?" Mereka berdua terlihat bahagia.
"Ya, Om titip Ibu di sini."
"Lalu Om tinggal dimana?" tanya Ojim.
"Di rumah. Om harus menjaga Ayu dan Bagus. Ada beberapa hal yang tidak bisa Om katakan hanya saja Ibu Hana harus dilindungi dan tidak ada yang boleh tahu jika Ibu Hana ada di sini."
"Siap, Om."
"Om akan ambilkan makanan untuk Istri Om. Apakah kalian melihat Om Hyun?" tanya Roy pada keduanya.
"Bapak mencariku?" tanya Hyun.
"Iya, kau baru pulang."
"Aku bingung di swalayan mencari susu merk apa yang Ibu Hana sukai. Jadi aku beli semua."
"Yang terbaik biasanya yang paling mahal."
"Kalau Ibu hamil itu bukan paling mahal tetapi rasa yang paling dia sukai karena ada beberapa rasa yang akan membuat perut mereka mual."
"Kau kok tahu banyak?" Hyun menggaruk belakang kepalanya.
"Apa kau pernah menghamili wanita?"
"Mantan pacarku dulu tetapi dia sudah bahagia dengan suaminya."
"Jadi kau sudah punya anak?"
"Ada satu usia 5 tahun tinggal di Hongkong."
"Berarti belum lama dong, kok aku tidak pernah tahu kau berhubungan dengan siapa saja?"
Hyun hanya meringis.
__ADS_1
Roy lantas membuatkan susu Hana dan menyiapkan makanan yang Hyun bawa. Setelah itu membawa masuk ke dalam kamar.
"Kenapa lama sekali?" tanya Hana. Ingin bangkit tetapi Roy dengan cekatan membantunya.
"Mau kemana?"
"Kamar mandi." Roy menggendong Hana pergi ke kamar mandi.
"Aku tunggu aku diluar saja."
"Biar aku menunggumu di sini!"
"Tidak, aku bisa sendiri," tolak Hana.
"Dengan berat hati Roy meninggalkan Hana di kamar mandi baru kembali ketika Hana memanggilnya dan membawa ke tempat tidur lagi."
"Makan dulu, ada sayur asam kesukaanmu dan ayam goreng," ujar Roy.
"Aku tidak mau makan ini aku mau makan roti dan minum susu saja."
"Roti? Kenapa dari tadi tidak bilang Sayang. Kalau begitu aku akan ambilkan roti untukmu tapi kau minum dulu susunya."
Roy membuat susu coklat dan vanilla. Hana memilih rasa vanilla.
"Lain kali buat yang tidak terlalu manis seperti ini." Hana menghabiskan susu itu untuk menghargai jerih payah Roy yang mau meladeninya.
Setelah memastikan bahwa Hana makan roti dan minum susu lalu memberinya obat, baru Roy pamitan dengan wanita itu. Dia harus pulang agar Hani tidak curiga dia pergi lama.
"Tolong jaga Ayu dan Bagus," pintar Hana.
"Tentu saja aku akan menjaga mereka dengan baik. Kau jangan khawatir."
"Aku hanya takut jika Hani ingin mengalami mereka."
"Tidak akan pernah karena di setiap ruangan ada CCTV dan ada yang melihat pergerakan rumah selama dua puluh empat jam."
"Apakah di kamar kita ada?"
"Tentu saja!"
"Syukurlah agar aku tahu apa yang kau lakukan di dalam kamar bersama dengan Hani!"
"Kau cemburu?"
"Sangat!"
"Jangan cemburu seperti itu jika tidak aku tidak akan pernah bisa pergi dari sini."
"Cemburu karena kembaranku bisa tidur berpelukan dengan suamiku sedangkan aku sendiri di sini sambil kesakitan." Hana mencebikkan bibirnya.
"Sudah jangan seperti ini jika tidak aku tidak akan pergi," kata Roy mengecup bibir Hana yang masih ada rasa susu yang menempel.
__ADS_1
"Karena itu cepat pergi sebelum aku menangis dan kau tidak tega."