
Kondisi kesehatan Janeta semakin memburuk, tekanan darahnya tidak kunjung turun. Ditambah lagi dia tidak mau makan dan minum , hanya marah-marah dan menangis saja setiap harinya. Hal itu, membuat Raina yang mendengarnya ikut merasa pilu. Dia teringat ibunya yang sakit selama berbulan-bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.
"Ayolah, Sayang, kita temui ibumu dan minta maaf," pinta Raina. Adry duduk di sofa dan Raina duduk di lantai dengan kepala bertumpu di paha Adry. Wanita itu mengatakannya dengan penuh harap.
"Bukan kita yang seharusnya minta maaf tapi dia," tolak Adry kekeh. Wajahnya kaku mendengar permintaan tidak masuk akal dari Raina.
"Bukan minta maaf atas semua yang dia perbuat, tetapi minta maaf karena kita telah mengabaikannya. Bagaimanapun dia seorang ibu. Sesalah apapun dia tetap ibumu yang harus kau rawat dan kau sayangi di saat dia sakit dan tidak berdaya."
"Tapi Raina, dia bahkan belum merasa bersalah atas semua perbuatan yang dia lakukan pada kita."
"Lalu? Kita harus bagaimana? Menunggu ibumu meminta maaf baru mendekat? Jika usianya tidak sampai kata maaf itu apa yang akan kau lakukan? Pasti ada rasa sesal dalam dada karena kau sempat mengabaikannya."
"Raina bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu." Raina menatap lekat pada suaminya.
"Apa?"
"Kau itu terlalu baik untuk menjadi menantu keluarga Quantd. Jika kau seperti ini terus kau hanya akan terus dibohongi oleh semua orang."
"Ish, kau itu... jika tidak mau ya sudah. Aku akan pergi sendiri menemui ibu mertua besok. Terserah kau mau ikut atau tidak. Jika aku salah, setidaknya aku sudah mencontohkan hal baik pada anakku. Yaitu tetap bersikap baik dan sopan pada yang tua. Kau harus ingat jika suatu hari kau pun tua bahkan melakukan kesalahan. Apakah kau mau anakmu juga tidak memaafkan kesalahanmu?" Raina bangkit meninggalkan Adry sendiri dengan pemikirannya.
"Dia sendiri trauma dengan perlakukan ibuku tetapi dia malah menyuruhku untuk mendekati ibu." Adry menggelengkan kepalanya tersenyum. Dia beruntung mempunyai istri yang baik seperti Raina.
*
Pagi harinya, Adry bangun kesiangan. Dia tidak menemukan Raina ada di sebelahnya. Dia lalu bangun dan mengusap wajah, menghilangkan muka bantalnya. Kamar itu ada dua tempat tidur. Tadi malam Rere ingin tidur dengan Leon jadi dia dan Raina tidur dalam satu kasur.
Dia melihat ke arah jam di dinding. Sudah pukul delapan lewat. Dia bangun terlambat karena tadi malam tidak bisa tidur memikirkan perkataan Raina dan semua yang telah terjadi. Keputusannya tetap sama, yaitu tidak akan menemui ibunya jika Janeta tidak kunjung ingin meminta maaf pada Raina dan keluarganya.
Adry mulai keluar dari kamarnya. Di luar nampak Leon dan Rere yang sedang asik bermain game di laptop. Mereka berdua tidak mengindahkan kedatangannya.
__ADS_1
Adry mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dalam hotel ini. Namun, sosok Raina belum juga terlihat. Di atas meja ada sarapan pagi dan susu yang sudah dingin. Mungkin itu jatah makannya. Pikir Adry.
"Hai," sapa Adry pada kedua anaknya.
"Ayah, bikin kaget saja." Rere memegang dadanya dengan gaya seperti orang dewasa. Adry yang melihat lalu mencubit gemas putri kecilnya.
"Wah, semenjak ada Kakak, Ayah tidak pernah diperhatikan oleh Rere, Ayah jadi sedih."
Rere lalu bangkit dan memeluk ayahnya. "Rere sayang ayah kok cuma Kak Leon itu asik. Suka ajak Rere main kalau Ayah suka main handphone sendiri, Rere bosan jika terus bersama Ayah," terang Rere.
Adry membuka mulutnya lebar. "Kau yang mengajarinya Leon?"
Leon merenggangkan tangannya dan menggeleng kepala.
"Ya, sudah Ayah mau sama Ibu saja, ah...."
"Tadi Ibu bilang kalau dia sedang pergi ke rumah sakit bersama Kakek. Ayah di suruh di rumah saja menjaga kami," terang Leon. Adry menghela nafas.
"Ayah marah?" tanya Rere membuat Adry mengatup mulut dan menggelengkan kepala.
"Kenapa Ayah tidak dibangunkan sewaktu ibu pergi tadi?"
"Kata Ibu sudah tetapi Ayah tidur sangat pulas. Ibu juga bilang kalau ayah tidak boleh melupakan susu dan makan pagi."
"Memang ayah itu anak kecil harus minum susu. Seharusnya ibumu membuatkan Ayah kopi," ujar Adry ke pantry untuk membuat kopi.
***
Raina dan Carl pergi dulu ke kamar Roy sebelum masuk ke kamar Janeta. Di sana mereka melihat Karina dan Roy sama-sama tertidur di atas tempat tidur rumah sakit. Tangan Karina berada di perut Roy.
__ADS_1
Menantu dan mertua itu saling memandang. Lalu keduanya mendekat ke arah sepasang kekasih itu. Walau mereka belum mendeklarasikan sampai dimana hubungan mereka, tetapi kedekatan ini sepertinya mengarah ke hubungan yang lebih serius.
"Karina... ," panggil Raina pelan, menyentuh bahu wanita itu.
Karina mulai membuka matanya. Dia melonjak terkejut dan langsung turun dari tempat tidur.
"Itu, tadi malam Roy tidak bisa tidur karena merasa sakit dan panas, jadi aku mencoba menemani dengan berbaring di sisinya," ucapnya gugup dan malu.
"Tidak apa-apa, memang luka paska operasi itu terasa sakit jika sudah beberapa hari. Ketika efek obat biusnya sudah mulai menghilang," terang Carl.
Karina mengangguk. Pengertian dari ayah Roy membuat hati Karina tenang. Setidaknya mereka tidak memikirkan macam-macam atau mungkin saja merestui hubungan mereka. Ini terdengar bagus tetapi mengambil hati Roy itu bukan perkara mudah.
Menggeser nama seseorang yang selalu ada di pikirannya selama belasan tahun itu hampir mustahil dilakukan dalam waktu singkat. Namun, keinginan Roy yang ingin menatap masa depan bersamanya membuat Karina yakin untuk memulai hubungan baru dengan pria itu. Walau hubungan itu tanpa sebuah nama atau status.
"Aku membawakanmu dan Roy sarapan, mungkin dia tidak menyukai makanan rumah sakit."
Karina mengangguk.
"Apakah malam ini dia demam lagi?" tanya Carl.
"Tidak, hanya saja, itu... merasa tidak enak badan di sekujur tubuhnya. Terutama nyeri bagian dada."
"Ya sudah nanti aku akan melihatnya lagi setelah pergi ke kamar ibunya." Carl lalu mengajak Raina keluar dari kamar itu dan berjalan ke kamar ibu mertuanya.
Di tengah lorong yang menuju ke ruang perawatan Janeta, Raina menghentikan langkahnya. Carl yang di depannya lalu membalikkan tubuh.
"Jika kau takut dan ragu sebaiknya kau urungkan saja keinginanmu. Adry juga tidak setuju dengan rencanamu ini kan?"
"Ya, tetapi menjaga keutuhan rumah itu juga jadi tanggung jawabku sebagai menantu dari keluarga Anda, tentunya jika Anda merestuinya."
__ADS_1
"Aku malah salut dengan keinginan baik mu ini. Aku sama sekali tidak menyangka jika kau adalah wanita terbaik yang Adry miliki. Dia sangat beruntung memiliki dirimu. Maafkan aku juga yang pernah meremehkan dan menyakiti dirimu."