
Seperti biasanya, Roy pergi ke kantor sepagi ini. Dia memakai jas lengkap dan sepatu pantofel mengkilap. Hal yang dulu suka di komplain oleh Karina karena dia selalu terlihat formil setiap saat dan waktu.
Ada yang berubah dari dirinya saat ini. Entah sudah berapa lama dia tidak pergi ke tukang cukur rambut. Rambutnya dia biarkan panjang hingga se bahu dan akan dia ikat rapi khas pria metroseksual. Dengan jambang lebat yang memenuhi sebagian wajahnya. Tidak lupa kaca mata hitam dia gunakan sebelum keluar dari kamarnya.
"Pak kita ada pertemuan dengan Mrs. Yuan dari China nanti pukul sembilan dan setelah itu ada acara makan siang dengan Nyonya Brianna. Kita akan membicarakan tentang proyek pengadaan alat pabrik kita yang telah usang."
"Batalkan dengan Brianna. Aku akan bekerja hingga siang saja setelah itu aku punya acara sendiri."
"Tapi Pak... nanti sore ada jadwal dengan Mrs Smith soal keinginannya untuk berkerja sama untuk membangun bengkel di wilayah timur Indonesia."
"Cancel semua pindahkan ke hari lain. Aku ada urusan yang lebih penting dari bisnis ini atau kau juga bisa menggantikan aku menemui Brianna."
"Kau tahu Pak jika Nyonya Brianna sangat menyukaimu. Dia sudah berkali-kali memastikan kau untuk datang menemuinya."
"Aku tidak peduli apakah dia menyukaimu atau tidak. Bisnis adalah bisnis tidak boleh dicampur dengan masalah pribadi." Roy berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"Kau tidak tertarik, Pak. Dia itu pintar, cantik dan juga ****."
"Kalau kau suka untukmu saja."
Jawaban Roy membuat Hyun terdiam. Dia sudah bersama Roy sedari di pulau Heaven Of Love dan tahu akan sifatnya. Dia pria yang tidak mudah tertarik pada wanita. Tipe pria yang setia dan tidak pernah bermain-main dengan mereka.
Mobil membawa mereka ke kantor Quantd Company.
Setengah hari dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Kini dia tidak sabar untuk melihat si kembar yang membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang semalaman.
"Hyun, urus semuanya dengan baik jika ada dokumen yang perlu ku tandatangani secepatnya kau bawa saja ke rumah nanti sore. Aku akan mengerjakannya di sana."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Roy akan melangkah keluar ketika Brianna masuk ke dalam. Janda satu anak itu terlihat cantik dan menarik dengan pakaian kerjanya yang pas badan. Menampilkan liukan tubuhnya yang berisi di tempat yang semestinya.
"Pak Roy, apakah kau mau pergi menemuiku?" tanya Brianna mendekat.
"Maaf, dengan berat hati aku mengatakan jika tidak bisa melakukan pertemuan itu. Aku sudah menyuruh Hyun untuk menggantikan aku."
"Tapi soal kerjasama kita," ujar Brianna kecewa.
"Bisa diselesaikan oleh Hyun. Dia akan meneliti barang yang kau tawarkan dan akan menyampaikan hasil pengamatannya padaku. Kau jangan khawatir, dia atau aku sama saja karena aku sangat mempercayainya."
Roy lalu meninggalkan Brianna begitu saja. Wajah wanita itu memerah karena marah. Dia menatap Hyun yang ada didepannya dengan tajam.
"Kau katakan kami bisa makan siang bersama."
"Tiba-tiba Pak Roy membatalkan semua acara hari ini, katanya dia ada urusan penting. Sepertinya dia akan menjemput keponakannya yang ada di bandara."
"Sepertinya tidak Nyonya tapi aku sendiri tidak tahu pastinya. Kau sendiri tahu jika Pak Roy itu bukan tipe pria yang suka menggoda wanita."
Brianna menghela nafasnya. Wajahnya yang tadi merah dan menggelap kembali lagi normal.
Sedangkan Roy mengendarai kendaraannya sendiri ke gang kecil dimana kedua anak kembar itu tinggal. Dia lalu berhenti di depan gang menunggu kedua anak itu lewat.
Detik berganti menit dan menit berganti jam. Sudah hampir pukul tiga sore namun kedua anak itu tidak terlihat olehnya. Roy yang tidak sabar lalu bertanya pada orang sekitar tempar tinggal kedua anak itu.
"Oh, Bagas dan Ayu. Mereka tinggal di ujung gang ini. Di sana ada gang setapak yang lebih kecil. Depan gang itu ada Musholla. Kau bisa masuk ke dalam dan bertanya pada orang sekitar dimana rumah kontrakan keduanya.
" Terima kasih."
__ADS_1
Mobil Roy mulai memasuki gang yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil itu. Dia menghela nafasnya karena merasa kesulitan ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Ketika melihat Musholla dia memarkirkan kendaraannya. Keluar dan melihat ke sekitar baru pergi ke dalam gang yang dikatakan oleh orang yang dia tanyain tadi.
Ini adalah gang senggol setiap dia berpapasan dengan orang dia pasti akan bersenggolan dengan orang itu karena tubuhnya yang tinggi dan besar. Wajah Roy memang bukan wajah ramah jadi membuat orang nampak menatapnya tidak senang atau takut.
Barisan rumah kecil nampak terlihat. Ibu-ibu sedang duduk di pintu rumah ada yang berbincang ada pula yang sedang mengerjakan sesuatu. Mereka menatap Roy dengan tatapan aneh. Mungkin karena tidak ada orang setampan dan sekeren dirinya masuk ke dalam gang ini. Bisik-bisik mulai terdengar.
Roy sebenarnya enggan untuk bertanya namun jika itu tidak dia lakukan dia tidak akan menemukan dimana letak rumah Bagas dan Ayu. Dia lalu bertanya pada salah seorang pria yang sedang memberi makan burung di depan rumah.
"Maaf Pak. Saya mau tanya. Apakah ada anak kembar bernama Ayu dan Bagas yang tinggal di kompleks ini?"
"Oh, Bagas Ayu itu kontrakan mereka," tunjuk bapak itu pada sebuah rumah dari triplek berwarna hijau kusam. Roy bisa melihat dua sepeda Ayu dan Bagas terparkir di sana.
"Bapak itu siapa mereka? Kok mencari?"
"Saya hanya pemerhati anak, Pak. Kebetulan saya melihat mereka dan tertarik untuk membantu mereka."
"Oh... saya kira saudara dari ibunya. Setahu saya ibunya itu sebenarnya dari keluarga berada hanya saja dia dibuang entah karena apa."
"Saya bukan kerabatnya. Kalau begitu saya permisi, Pak." Roy lalu meninggalkan bapak itu dan berjalan dua rumah lagi hingga sampai di depan rumah yang dia tuju.
Dia menghela nafas melihat kondisi depan rumah itu. Baju-baju digantung di depan rumah bawah seng yang telah karatan. Beberapa coretan khas anak kecil terlihat memenuhi tembok. Sedangkan dua sepeda itu bersandar di tembok.
Roy hendak mengetuk pintu dengan dada yang berdebar. Hal yang telah lama tidak dia rasakan mungkin sudah belasan tahun lamanya atau puluhan. Belum sampai tangannya menyentuh dinding pintu yang kayunya terkelupas, pintu itu terbuka. Di depannya nampak Ayu yang terlihat pucat dan cemas. Wajahnya nampak basah. Dia nampak terkejut menatap Roy yang ada di depannya.
Roy sendiri terkejut melihat keadaan Ayu namun dia mencoba bersikap biasa. Mungkin Ayu baru saja menangis karena bertengkar dengan kakaknya. Hal yang lumrah terjadi antara adik dan kakak.
"Om ada disini?" tanya Ayu.
Roy tersenyum. Dia mengangguk.
__ADS_1
"Dimana Bagas?" tanya Roy melihat ke arah dalam ruangan berukuran tiga kali tiga. Mencari keberadaan Bagas.