
"Nanti kalau ibu datang dan Kakak dimarahi kau bersembunyi saja."
"Tapi Ibu tidak akan marah kalau kita jujur."
"Kalau jujur, lbu lebih marah lagi. Kau ingin Ibu tahu jika Kakak sudah membuat mobil orang pecah." Ayu menggelengkan kepalanya seraya meringis mendengar pendapat kakaknya.
"Memang Ibu kalian segalak apa sampai kalian begitu ketakutan? Dari tadi kalian mengatakan jika Ibu kalian itu selalu memukul, bukankah itu dilarang oleh hukum. Ibu kalian bisa dipenjara jika melakukan kekerasan pada anaknya."
Kedua anak itu terkejut menatap ke arah Roy.
"Jangan bilang Polisi, Om. Ibu Baik hanya saja...," ucap Bagus, kedua anak itu saling memandang.
"Sedikit galak... cuma sedikit," lanjut Ayu. Roy menghela nafas dan menggelengkan kepala. Dia lalu mendekat dan berjongkok melihat ke arah sepeda Bagus.
"Tidak ada rem, pantas saja jika menabrak mobilku. Bagaimana jika menabrak mobil yang sedang jalan? Sangat berbahaya!" ujar Roy.
"Kami pakai rem kaki," terang Bagas.
Roy mengangkat wajah dan menaikkan kedua alis. "Rem kaki?"
"Ya... sret... ," Bagas mempraktikkannya.
Roy menelan salivanya dengan sulit dan mengangguk. "Aku mengerti."
Dia merasa beruntung walau dia tinggal dengan Ibu tiri namun tidak pernah merasakan punya sepeda buntut seperti ini. Sepeda ini lebih pantas dibuang ke tempat sampah.
"Apa kau akan pulang dengan mengendarai sepeda itu?"
Bagas melirik ke arah Ayu. Lalu mereka mengangguk dengan lemas.
"Bagaimana kalau Om bantu agar tidak dimarahi oleh Ibumu," kata Roy.
"Bantu bagaimana, Om?"
"Kita bawa sepedamu ke bengkel terdekat lalu dibenarkan."
"Kata Ibu...."
"Jika tidak mau, Om akan kerumah kalian dan mengatakan apa yang telah terjadi pada ibu kalian. Mungkin setelah itu, sepeda kalian akan jadi kenangan saja."
"Maksudnya?" tanya Ayu.
"Ish kau itu bodoh sekali. Maksud Om, ibu tidak akan memperbolehkan kita naik sepeda lagi."
"Jangan Om, nanti bagaimana kita mencari barang bekas dan membawanya."
__ADS_1
"Kalian ini..."
"Kau itu kalau ngomong harusnya dipikir," ujar Bagas terdengar kesal. "Ini kan rahasia kita."
Ayu menggigit lidahnya sendiri.
"Kalian masih kecil bekerja mencari barang bekas?"
"Jika Om terus bertanya kami tidak bisa bekerja. Sudahlah, kami ingin cari uang dulu."
"Eits tunggu, aku benar-benar akan membawa kalian ke polisi jika tidak mematuhi ku!" ancam Roy membuat Ayu dan Bagas terdiam di tempat.
"Sekarang ikut aku ke bengkel dan perbaiki sepeda kalian setelah itu ceritakan apa yang kalian lakukan setiap harinya. Jika tidak mau terpaksa aku akan..."
"Kami mau," jawab Ayu cepat. Bagas mencubit lengan Ayu. "Kalau kita tidak menurut nanti masuk ke penjara. Kalau kita menurut maka sepedamu akan betul lagi seperti semula dan Ibu tidak akan marah," bisik Ayu.
"Begitu lebih baik. Sekarang bantu Om memasukkan sepeda kalian ke bagasi."
"Kita naik mobil ini, Om? wuih...." seru Bagas menyentuh mobil bermerk Lambegini. Mereka lalu masuk ke mobil setelah meletakkan sepeda itu dalam bagasi.
"Ini bagus sekali seperti yang ada di televisi," celetuk Bagas. Dia dan Ayu nampak girang duduk di kursi kulit.
"Mobil ini juga dingin dan harum," Ayu menghirup dalam udara dalam mobil ini. Roy yang melihat hanya tersenyum. Dia mulai menjalankan mobilnya pelan mencari bengkel sepeda terdekat.
"Ibu tidak tahu mengenai hal ini. Dia sibuk berjualan dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam kalau jualannya belum habis."
"Oh. Memang ibu kalian jualan apa?"
"Jualan sempol ayam di perempatan jalan raya sana," tunjuk Ayu.
"Bersama Ayah kalian?"
Kedua anak itu langsung terdiam.
"Kami dari kecil tidak punya Ayah. Entah dimana dia, kata almarhum Nenek, Ayahku lelaki tidak bertanggungjawab sehingga dia pergi meninggalkan kami."
Hati Roy mendesir nyeri, mendengar jawaban Bagas. Dia menoleh dan menatap ke arah dua anak kecil itu yang menatap jauh ke depan.
Sejenak mereka terdiam.
"Berarti kalian hanya tinggal bersama dengan Ibu?" Bagas dan Ayu hanya mengangguk. Nampak wajah sedih dari keduanya.
Mereka akhirnya menemukan bengkel sepeda. Kedua sepeda Ayu dan Bagus langsung mendapat perbaikan penuh. Sedangkan Roy mengajak keduanya untuk makan di warung bakso sebelah.
"Memang kalian mencari uang untuk apa?" tanya Roy penasaran.
__ADS_1
"Untuk membeli perlengkapan sekolah sendiri serta bukunya. Kami ingin membantu Ibu semampu kami. Ibu tidak menyuruh hanya saja, kami ingin meringankan bebannya selain itu kami ingin mengumpulkan uang untuk membeli handphone baru. Handphone kami yang lama sedang rusak dan kami tidak punya uang untuk memperbaikinya. Uang Ibu sudah habis untuk makan dan membayar kontrakan serta cicilan motor, " tutur Ayu panjang lebar. Dia lalu melanjutkan makan baksonya lagi.
"Baksonya enak, Om," kata Bagas yang langsung menghabiskan bakso itu dengan cepat. Nampaknya mereka sangat kelaparan.
"Kalau kalian mau tambah lagi saja," tawar Roy. Mereka terdiam. Roy yang tahu arti kediaman mereka langsung memesan lagi.
Ada perasaan tenang dan senang ketika bersama dengan kedua anak itu, perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah selesai makan mereka kembali ke bengkel sepeda. Sepeda mereka telah selesai dan terlihat bersih serta bagus walau kerangka sepeda masih seperti lama. Bagas dan Ayu langsung mencoba menaikinya.
"Ini keren!" celetuknya. Sebenarnya Roy ingin membelikan sepeda yang baru untuk kedua anak itu tapi dia yakin mereka pasti akan menolaknya.
"Berapa semuanya," tanya Roy pada tukang reparasi sepeda.
"Tujuh ratus, Pak."
"Mahal sekali, apa tidak apa-apa," celetuk Bagas tidak enak.
"Iya karena semua roda di ganti dan juga memasang rem dan memperbaiki total keduanya.
" Sudah... sudah tidak apa-apa, kau jangan khawatir uangku tidak akan habis untuk membayar sepedamu itu. Kau nanti bisa bilang pada Ibumu jika Om yang menabrak sepeda kalian jadi Om memperbaiki semuanya. Itu tidak akan membuat Ibu kalian curiga,"
"Itu ide yang baik. Ibu pasti percaya dengan alasan itu," Ayu bertepuk tangan senang.
"Rumah kalian dimana biar Om antarkan."
"Dekat sini kok, Om."
"Mereka tinggal di gang ujung jalan itu," tunjuk tukang reparasi.
Ayu dan Bagus mengangguk.
"Kau mengenal mereka?"
"Tidak kenal hanya tahu dan sering melihat mereka dari kecil. Bukankah kalian anak dari Mba Hanna yang jualan sempol di perempatan?"
"Betul, nama ibuku Hana," jawab Ayu.
"Hana," gumam Roy.
"Apakah Hana dan Hani itu orang yang sama yang pernah bersamanya? Atau mungkin hanya kebetulan saja?"
Roy mengamati kedua anak itu dengan seksama. Tawa dan senyum Bagas seperti tidak asing dan mata Ayu juga pernah dia lihat.
Tidak mungkin wanita itu hamil karena dia telah mengeceknya sendiri di rumah sakit. Jadi tidak mungkin kedua anak itu anaknya. Dia hanya terlalu larut dalam mimpinya saja.
__ADS_1