
Ayu lalu membagikan kotak makanan yang dibawa oleh Roy. Ketika membukanya Ayu dan Bagas di buat terperangah. Nasi Padang dengan lauk ekstra. Setiap kotaknya ada daging dan telor serta ayam. Roy tidak tahu apa yang mereka sukai jadi meminta pemilik warung untuk memasukkan semua lauk itu.
"Ini enak sekali," seru Ayu antusias. Dia lalu mulai makan dengan lahap dengan tangan. Roy terdiam, dia tidak bisa makan dengan tangan. Tidak pernah melakukannya.
Hana yang mengerti tentang kebiasaan orang kalangan atas lalu segera mengambil piring, sendok dan garpu. Di rak kecil sebelah tempat duduknya. Ruang kecil itu memang ruang serba guna. Ada kompor, peralatan masak yang dijadikan satu di sebuah wadah plastik besar, televisi dan juga tumpukan buku serta mainan anak yang di letakkan di pinggir ruangan. Sedangkan bagian tengahnya terdapat tikar plastik bergambar kartun yang sudah pudar. Semua nampak bersih dan tertata walau banyak barang. Hana tipe wanita yang suka dengan kerapian dan kebersihan.
"Terima kasih," kata Roy.
"Bagas, Ayu apakah kalian mau semua lauk ini?" tanya Roy tidak tega melihat kedua anak itu makan dengan lahap.
"Lalu Om?"
"Om sedang tidak makan yang berdaging, kalian tahu kolesterol tidak baik untuk tubuh, Om. Jadi Om hanya mengkonsumsi sayuran saja," bohong Roy.
Dia lalu meletakkan lauk miliknya keatas piring sedangkan dia tetap makan dari kotak makan. Ketiga orang itu memandang Roy dengan seksama.
"Lalu Om makan apa?"
"Daun singkong rebus ini dan sambal milik ibumu nampaknya lezat." Roy lalu mengambil sambal satu sendok penuh.
Ketiga orang itu nampak meringis. Itu sambal rawit merah mentah pasti sangat pedas. Mereka kalau makan paling hanya sedikit saja.
Hana ingin mencegah namun dia tahan lagi. Dia akan melihat bagaimana pria itu bertahan dengan pedasnya sambal level 100 miliknya.
Roy yang tidak pernah makan sambal langsung memerah wajahnya. Telinganya berdenging dan matanya melotot. Lidahnya terasa terbakar.
Roy ingin menahannya tetapi mulutnya terasa meledak. Hana langsung menyerahkan segelas air minum dan masuk ke dalam kamar.
Segelas air minum itu belum bisa menghilangkan sensasi pedas dari sambal itu hingga air mata dan keringat keluar dari tubuh Roy.
Dengan langkah santai Hana kembali dan duduk di dekat Roy dia menyerahkan sesendok madu untuk pria itu.
"Ini bisa menghilangkan rasa pedas di mulut."
Roy langsung memakannya. Benar saja rasa pedas itu berangsur menghilang.
"Kalian selesaikan makannya," kata Hana bangkit dan kembali ke kamarnya. Entah apa yang dia lakukan di dalam namun perempuan muda itu tidak kembali lagi ke ruang tengah.
Roy sendiri menghabiskan makanannya dengan kerupuk. Dia melihat Ayu dan Bagus sangat antusias menghabiskan makannya. Mereka seperti belum pernah memakan itu.
__ADS_1
Sesekali Ayu dan Bagus bercerita tentang kesehariannya. Roy menanggapi dengan berbagai pertanyaan hingga tanpa terasa makan mereka telah habis.
Hana kembali lagi. Mengambil plastik dan membersihkan semuanya sampah. Lalu merapikan dengan cekatan semuanya tanpa bersuara sedikit pun. Ayu dan Bagus saling melihat.
"Bagas ini obatmu, harus diminum sehari tiga kali dan habiskan." Roy menyerahkan obat itu pada Bagas karena wajah Hana nampak tidak bersahabat.
"Oh, makanan itu untuk kalian semua. Kalian bersihkan badan dan tidurlah," kata Roy.
Ayu dan Bagus lalu pergi ke kamar mereka.
"Ibu anak-anak, ini sudah malam aku sebaiknya pulang."
"Itu bagus dan jangan kembali lagi," ketus Hana membuat Roy terkejut dengan sikap terus terangnya. Mereka masih tetap duduk di atas tikar.
"Kenapa tidak boleh?" Roy nampak terkejut
"Aku tidak suka menghadirkan mimpi palsu untuk anakku."
Roy tertawa sinis.
"Aku kemari bermaksud baik."
Roy membuang nafas kasar dan menyentuh hidungnya sendiri.
"Terus terang aku terkejut kau adalah ibu mereka."
"Apakah berbeda jika aku atau bukan ibu mereka."
"Ini terlalu kebetulan. Takdir mungkin."
Hana terdiam.
"Di mana Ayah mereka?" tanya Roy.
Tatapan Hana nampak terluka mendengar pertanyaan pria itu. Dadanya yang sejak tadi sesak kini sulit bernafas ketika mendengar pertanyaan Roy.
"Dia bukan pria yang baik yang akan bertanggungjawab dengan kehidupan anakku," ucap Hana dengan mata yang menerawang. Dia lalu tersenyum mengejek pada Roy.
Tenggorokan Roy sendiri merasa tercekat. Dia merasakan kata-kata Hana ditujukan padanya.
__ADS_1
"Seharusnya kau bisa hidup lebih baik setelah aku memberikan uang itu padamu. Itu bukan jumlah sedikit untuk membuat modal usaha dan menyewa rumah yang lebih layak. Atau kau punya masalah pelik sehingga tiga ratus juta itu habis begitu saja? Padahal Max juga memberikan kau uang lebih banyak pada saat itu."
Roy mengatakannya dengan sangat berhati-hati. Namun, wajah Hana nampak menggelap.
"Bukan kah itu uangku jadi terserah aku menghabiskannya untuk apa? Lagipula membesarkan anak itu butuh uang banyak apa kau tidak sadar itu? Uang itu tidak cukup membiayai mereka sampai sebesar ini!"
"Jika kau sudah selesai mengatakan semua pemikirkanmu itu kau boleh pergi dari sini selamanya dan jangan pernah kembali. Kau itu hanya membuka..." Hana tidak melanjutkan kata-katanya. Dia mendorong tubuh besar Roy untuk pergi dari rumah secepatnya.
"Pergi sekarang atau aku akan berteriak jika kau bertindak tidak sopan!"
Roy memegang tangan Hana.
"Hei tenanglah, aku hanya bertanya. Aku cukup tahu diri untuk melakukan tindakan tidak baik di rumah ini."
"Tahu diri.... kau bahkan membeli wanita demi kepuasanmu kau bilang tahu diri. Kau itu pria brengsek yang tidak ingin kutemui atau kulihat wajahnya lagi! Sebelum aku...," mulut Hana di tutup oleh tangan Roy.
"Aku akan pergi hari ini tapi jangan larang aku menemui Bagas dan Ayu."
Hana mengigit tangan Roy.
"Jangan sentuh aku lagi! Aku benci dengan sentuhanmu," ujar Hana dengan ekspresi jijik, dia pergi mengambil air dari ember dan menyeka bekas sentuhan Roy itu di luar kontrakan.
Roy melihat semuanya.
"Sekarang kau bisa pergi," kata Hana dengan nada bergetar. Mata dan hidungnya nampak memerah.
"Okey, aku akan pergi sekarang tapi kau harus menjelaskan semuanya besok!"
"Tidak akan ada besok karena aku tidak ingin melihatmu lagi selamanya." Hana menatap berani Roy.
"Tidak... aku menuntut penjelasanmu besok dan aku bukan orang baik dan sabar yang akan mengemis menunggu kau untuk menerangkan semua yang telah terjadi."
Roy lalu beranjak pergi dari rumah kontrakan itu. Meninggalkan Hana yang lemas dan nampak tidak berdaya.
Ayu dan Bagus yang sempat mendengar perdebatan mereka hanya bisa mengintip dari dalam rumah.
Mereka tidak menyangka jika Ibunya dan Om Gagah telah saling mengenal sebelumnya.
Mereka berdua saling memandang. "Apa kau berpikir sama sepertiku?" tanya Bagus.
__ADS_1