
Beberapa bulan kemudian.
Roy sedang menghadiri sebuah pesta kliennya di klub ternama kota Jakarta. Dia sebenarnya enggan untuk datang namun Jonathan yang nakal dan jahil memaksanya. Mereka akhirnya datang berdua ke tempat itu.
Seperti biasanya Jonathan selalu dikelilingi oleh wanita cantik. Sedangkan, Roy memilih untuk tetap berada di pojokan bar fokus dengan minumannya.
"Kau butuh teman wanita?" tanya Max. Relasi dari Jonathan dan Roy.
"Tidak terimakasih," tolak Roy.
"Ini aku berikan kunci kamarnya jika kau butuh wanita. Jangan tolak pegang saja dulu. Kamarnya ada di lantai 14 hotel ini." Max menyelipkan kartu masuk kamar lalu pergi meninggalkan Roy.
Pria itu menaikkan kedua alisnya dan kembali minum. Ini untuk mengurangi kesedihannya karena masih berduka atas kematian Karina. Walau sudah terjadi berbulan-bulan lamanya namun masih terasa sesak di hatinya.
Setengah jam kemudian Roy mulai merasa ada yang aneh dalam tubuhnya. Matanya yang tajam menatap ke arah Mark yang tersenyum sambil mengangkat gelasnya dari kejauhan.
"Dia mengerjai ku, bre ung seak," maki Roy.
Dia lalu keluar dari ruangan itu hendak pulang namun di sepanjang jalan para wanita nakal mulai menyentuh tubuhnya dan beberapa orang mulai menggoda membuat darahnya semakin naik. Tuntutan besar semakin dirasanya menekan. Dia butuh tempat pelepasan.
Max mendekat ke arah Roy.
"Kau tidak akan kuat kembali ke mansion mulai lebih baik kau pergi ke kamar hotel dan mandi di sana jika kau menolak wanitaku jika tidak kau bisa menggunakannya. Ini sebagai hadiah atas kerjasama kita," bisik Max.
Roy lalu masuk ke dalam lift, dia bingung akan pergi ke tempat parkir atau kamar pemberian Mark. Akhirnya dia memilih naik ke kamar. Dia sana dia akan mengusir wanita pesanan Mark.
Hal tersisa dari kejadian itu adalah ketika dia tidak sendiri di dalam lift. Disana ada sepasang kekasih yang saling berciuman di depan Roy tanpa sungkan dan malu. Hal itu, memperparah imajinasi dan keinginan Roy untuk melampiaskan hasratnya.
Roy dengan terhuyung masuk ke kamarnya. Dia pikir akan disambut oleh wanita panggilan yang menjijikkan nyatanya tidak. Dia lalu menyalakan lampu kamar hotel dan mendapati sosok tubuh yang berbaring di tempat tidur hanya memakai lingerie hitam yang transparan.
Roy menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin melakukan hal itu dengan wanita murahan yang sudah pernah tidur dengan banyak pria. Itu menjijikkan.
Roy lalu pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Sampai tangannya merasa pegal, bukit gairahnya tetap tidak menunjukkan perubahan. Bahkan rasa itu semakin tinggi ketika teringat akan tubuh molek diatas tempat tidur.
__ADS_1
Dengan tubuh yang masih terasa panas dingin tidak karuan, Roy keluar dari kamar mandi. Menatap wanita yang terbaring terlentang. Dia memiringkan kepala. Mengapa wanita itu tidur jika disiapkan untuk melayaninya?
Roy tidak mau ambil pusing dengan pemikiran itu. Dia ingin menyudahi siksaan yang mendera tubuhnya karena sifat jahil Mark. Dia mendekat dan menelan salivanya berat.
Dia hanya wanita murahan. Pikir Roy meyakinkan diri. Dia mendekat ke arah wanita itu menyentuhnya dan sedetik kemudian dia berubah menjadi monster kelaparan, benar-benar menghabisi wanita di pelukannya.
Hingga saat penyatuan itu dia tersadar akan satu hal.
"Sial! Dia masih perawan," umpat Roy tetapi saat itu dia tidak bisa menghentikan tubuhnya.
Sedangkan wanita itu, tiba-tiba membuka matanya. Dia nampak terkejut menatap ke arah mata Roy. Lalu rintihan kesakitan mulai terjadi. Roy memerankan iramanya. Dia mencium bibir wanita itu untuk mengalihkan perhatiannya dari sakit itu.
Wanita itu ingin memberontak namun tidak sanggup karena efek obat bius itu masih membuat lemas tubuhnya dan membuatnya setengah tidak sadar. Berharap semua ini hanya sebuah mimpi buruk. Namun, ini terasa nyata. Pria ini dan sentuhannya serta rasa sakit ini terasa nyata.
Roy terbangun keesokan paginya setelah kelelahan menggempur seorang wanita muda. Dia lalu membuka matanya dan menoleh ke samping. Tidak ada wanita itu namun noda darah yang bercampur dengan cairan sisa percintaan mereka membercak di seprai putih.
Roy lalu duduk dan memegang kepalanya. Dengan cepat dia mandi dan memakai kembali bajunya.
"Sial! Wanita itu masih virgin dan aku tidak memakai pengaman. Aku takut dia hamil anakku. Entah berapa kali aku melakukannya tanpa ampun. Ini semua karena Max," umpat Roy.
"Aku sungguh tidak tahu dengan yang Max lakukan. Tapi seharusnya kau berterima kasih pada Max karena dia hasratmu ter tuntaskan dan kau tidak harus menderita penyakit prostat karena selalu menahan diri."
"Teman tidak punya akhlak!"
"Hei, untuk apa kau memikirkan wanita itu karena dia cuma wanita panggilan yang Max pesan."
"Dia masih virgin, bodoh!"
"Wow, Max memang memberi hadiah terbaik, kau mendapatkan jackpot semalam."
"Aku menyesal malah menceritakan ini padamu."
"Seharusnya kau senang karena mendapatkan wanita yang masih bersih jadi tidak takut terkena penyakit kelamin. Max memang pengertian, tahu apa yang kau pikirkan jika berdekatan dengan wanita."
__ADS_1
Roy yang kesal melemparkan bantal ke arah Jonathan.
"Aku heran bagaimana bisa kau memajukan usahamu padahal otakmu itu sangat dangkal!" geram Roy. Bukannya marah Jonathan malah tertawa.
"Aku itu sangat jenius," ujar Jonathan bangga dengan diri sendiri membuat Roy bertambah pusing.
"Aku hanya takut dia hamil karena aku tidak pakai pengaman."
"Dia itu sudah menjual diri padamu jadi untuk apa memikirkan wanita itu. Dia pasti sudah tahu risikonya dan meminum obat pencegah kehamilan."
"Dia masih sangat muda," ucap Roy menatap Jonathan dengan perasaan bersalah yang bercokol di dada.
"Jaman sekarang banyak wanita muda yang menjual diri karena tuntutan gaya hidup jadi kau jangan merasa bersalah."
"Setidaknya aku ingin tahu siapa yang bersamaku semalam."
"Hmmm aku juga tidak tahu mengapa gambar wanita itu tidak ada dalam CCTV semalam pasti ada yang meretasnya. Atau mungkin rusak."
"Bagaimana bisa bukannya kau yang punya hotel ini?"
Jonathan hanya bisa menahan nafasnya. Dia memang pemilik hotel ini tetapi ada bawahan yang mengurus semuanya. Hal ini bisa jadi catatan untuk memperbaiki kinerja hotel setelahnya. Dia akan mengganti manager hotel ini karena tidak bisa mengurus hotelnya dengan baik.
"Sudahlah Bro. Anggaplah ini sebuah hiburan semata. Wanita itu adalah hadiah dari Max. Sahabat kita itu pasti sudah mengantisipasi semua hal yang ada, sehingga wanita yang kau tiduri tadi tidak mungkin hamil."
Roy menyatukan alisnya, "Mengapa aku tidak yakin dengan yang kau katakan?"
"Karena kau terlalu baik untuk jadi pria breng- -sek sepertiku dan Max. Kau bahkan tidak pernah bermain-main dengan wanita. Aku iri padamu tapi aku tidak bisa melakukan itu."
"Sudahlah, aku harus pergi, nanti malam aku ada janji dengan Bella."
"Bella siapa lagi? Teman kencanmu yang mana?"
"Dia wanita istimewaku," ucap Jonathan bangkit. "Max akan kembali dari Swiss dua Minggu lagi. Mungkin dia ingin menghindari kemarahanmu."
__ADS_1
"Aku akan menghajarnya bila bertemu dengannya."