Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Kecewa dan Terluka


__ADS_3

"Aku tidak suka wanita itu ada di dekatku," ucap Janeta tanpa dosa. Dia malah menaikkan kedua kakinya ke atas tempat tidur dengan gerakan sulit dan bersiap untuk berbaring.


Adry langsung memegangi pelipis Raina yang berdarah dan membersihkannya dengan tissue.


"Aku baik-baik saja ini hanya luka kecil. Kau tidak usah memarahi Ibu," kata Raina mencoba meredakan kemarahan suaminya. Dia takut jika Adry semakin kecewa dengan tingkah ibunya.


"Ini sudah keterlaluan. Kita baru dua malam di sini tetapi ibu selalu membuat ulah denganmu."


"Adry," Raina menggelengkan kepalanya.


"Jika dramanya sudah kalian cepat keluar dari kamarku. Aku ingin tidur. Frans bersihkan semuanya!" perintah Janeta.


"Ibu... kau sungguh sangat menyedihkan! Kau juga... untuk apa kau mengurusi wanita yang tidak punya hati ini," ucapan menyakitkan dari Adry akhirnya terlontar juga membuat perih hati Janeta.


"Adry, dia ibumu," ucap peringat Raina. Di saat itu Frans menyerahkan kotak P3K.


"Ibuku sudah mati semenjak dia tertusuk pisau di rumah lama kita. Dia hanya iblis yang masuk ke tubuhnya. Sudahlah sebaiknya kita pergi dari sini jika tidak aku bisa gila dengan semua drama yang wanita itu lakukan."


Adry membawa kotak P3K itu dan menarik Raina kembali ke kamar mereka. Di pintu dia berpapasan dengan Carl. Pria paruh baya itu nampak terkejut melihat luka di pelipis Raina. Dia menarik nafas dalam.


"Ayah, aku harap kau bisa mengendalikan istrimu itu," ucap Adry kesal lalu pergi berlalu bersama dengan Raina begitu saja.


Sepeninggal Raina dan Adry dia menyuruh keluar pelayan yang telah membersihkan kekacauan yang terjadi dan meminta Frans membawakan gelas serta obat yang baru bagi Janeta.


Pria itu duduk di dekat Janeta.


"Raina memintaku untuk mengurus sendiri. Dia bahkan yang menyiapkan makan untukmu dan semua yang berkaitan denganmu. Mungkin kau tidak bisa menerimanya dengan baik tetapi kau jangan bersikap kasar padanya."


"Aku tidak meminta dia melakukannya!" ucap Janeta dingin.


Carl menghela nafas.


"Tidakkah kau lihat anakmu bisa tersenyum bahagia bersama dengan istrinya? Atau kau memang pura-pura buta tidak melihatnya. Jika kau memang mencintai Adry dan menganggap dia adalah sumber kebahagiaan dan hidupmu seharusnya kau ikut bahagia karena anakmu bahagia. Bukannya menciptakan jarak diantara kau dan dia."


Janeta terdiam. Tidak mengatakan apapun juga.

__ADS_1


"Raina tahu betapa kecewanya Adry padamu. Dia juga tahu jika kau sangat membencinya. Kau tahu mengapa dia kemari?"


Janeta memalingkan wajahnya ke samping.


"Dia ingin bisa membuatmu menerimanya. Jika hal itu terjadi maka Adry akan kembali bisa menerimamu. Raina sendiri yang dari awal membujuk Adry agar mau kembali kemari. Dia juga membujuk Adry agar mau kembali berbicara denganmu. Jika kau tetap dengan egomu, kau hanya akan menemukan kebencian di mata anak semata wayangnya itu. Terima Raina dengan baik maka anakmu akan kembali menyayangimu."


"Aku sudah tidak butuh kalian ada di sampingku karena itu tinggalkan aku sendiri."


"Kau sangat keras kepala, aku tidak tahu harus berbicara apalagi denganmu."


Carl lalu berdiri meninggalkan Janeta sendiri di kamarnya. Frans sendiri nampak takut untuk kembali masuk ke dalam ruangan Janeta. Dia takut menjadi sasaran amuk wanita itu lagi.


"Nyonya ini obatnya," kata Frans meletakkan baki berisi obat dan segelas air putih di atas nakas.


Janeta mendengus kesal sebagai jawabannya. Setelah meletakkan itu, Frans berjalan cepat keluar kamat itu dan menutup pintu lalu berdiri di sana sambil memegang dadanya.


"Jika aku terus begini maka aku bisa mati muda padahal aku belum memiliki pasangan," ucapnya.


"Ayah seharusnya kau itu mewarisiku harta kekayaan bukannya pekerjaan yang bisa membuat nyawaku melayang secara perlahan," gumamnya. Lalu pergi meninggalkan kamar itu.


Adry nampak kesal dengan semua yang terjadi di rumah ini semenjak mereka menjejakkan kaki di sini.


"Ini hari pertamamu di rumah ini dan kau sudah memperoleh luka ini." Adry menempelkan plester di pelipis Raina.


"Tidak ada jalan mudah untuk suatu kemenangan," ucap Raina tenang.


"Aku hanya takut jika kau malah nanti celaka karena ulah ibuku," ujar Adry lagi.


"Ibumu hanya depresi dengan semua yang terjadi. Dia merasa kesepian sehingga melampiaskan perasaannya dengan marah-marah pada setiap orang yang dirasanya lebih lemah. Dia mana berani jika berhadapan dengan Ayah atau dirimu. Dia juga tidak membentak Leon serta bersikap baik padanya."


"Raina, aku tidak tahu harus mengatakan apa agar kau mengerti."


"Aku juga tidak tahu harus melakukan apalagi untuk meyakinkanmu bahwa aku bisa melakukannya. Berikan aku waktu satu bulan saja untuk membuktikan ucapanku bahwa Ibu hanya butuh kasih sayang dan perhatian."


Adry mengusap wajahnya kesal. Dia tidak tahu harus melampiaskan pada siapa.

__ADS_1


"Kau pergi saja ke ruangan gym dan lampiaskan kemarahanmu dengan berolahraga." Raina seperti tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya.


"Atau kau ingin agar kita berolahraga malam untuk melupakan kejadian tadi," tawar Raina membuat Adry tersenyum dan menggelengkan kepala. Raina selalu bisa mengendalikan emosinya.


"Dengan kepalamu yang terluka? Apa kau tidak merasa sakit atau pusing?" ejek Adry mencibir.


"Ini hanya luka kecil. Yang parah itu jika aku tidur dengan Hulk yang sedang memendam kemarahannya."


"Kau mengatakan aku ini Hulk."


"Hmmm, kau berubah menyeramkan jika sedang marah. Padahal kau itu terlihat tampan jika sedang tertawa dan senang."


Adry tersenyum lalu memeluk tubuh Raina erat seraya menghela nafasnya panjang.


"Kau tahu semakin hari, aku semakin bertambah cinta padamu. Kau membuat hal menakjubkan setiap harinya yang membuatku terkesima." Raina lalu duduk di pangkuan suaminya.


"Aku juga semakin mencintaimu hanya saja... kau nampak semakin gemuk saja. Walau begitu kau terlihat tampan."


"Aku gemuk? Apanya yang membuatku nampak terlihat gemuk?"


"Apa kau tidak sadar jika bentuk kotak diperutmu itu sudah semakin pudar karena daging di perutmu semakin bertambah banyak."


Adry melihat ke arah perutnya. Lalu membukanya untuk melihat apakah yang Raina katakan memang benar adanya.


"Kau lihat sudah nampak tidak terlihat lagi." Tangan Raina menyentuh perutnya perlahan membuat gerakan eksotis membuat perut pria itu menegang.


"Sebenarnya kau itu sedang memberitahu atau merayuku. Aku itu masih kesal padamu."


"Sungguh?" tangan Raina semakin nakal bergerak ke bawah. Membuat gelombang panas ditubuh Adry serta membuatnya mengerang keras.


Sedangkan tangan satunya memegang dagu pria itu.


"Biarkan aku yang memimpin kali ini. Aku sungguh tidak ingin tidur dengan Hulk yang menyeramkan dan memenuhi ranjangku."


"Lalu siapa yang ingin kau ajak tidur dalam imajinasimu?" tanya Adry mulai bergerak nakal tangannya masuk ke dalam bawahan dress Raina.

__ADS_1


"Pangeran tampan bernama Adryan, oh s**"*s," terdengar lenguhan Raina.


__ADS_2