Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Salah jangan baca dulu


__ADS_3

Baca besok pagi aja yah... ini salah kirim. Jika kau ingin menemui ibumu kau harus janji untuk duduk dengan tenang. Tidak perlu kau bersikap berlebihan seperti ingin memeluk nya lama. Aku tidak menerimanya Leon. Jika kau melakukan itu, aku jamin Ibumu akan masuk penjara lagi," bisik Janeta sebelum mereka keluar dari kediaman Quandt di Jakarta.


Oleh karena itu, Leon tetap membisu dan memegang ujung bajunya kencang dibawah meja agar dia tidak berlari memeluk ibunya. Dia mengerjapkan mata agar air di pelupuk tidak keluar. Dadanya terasa panas menahan semua perasaan yang ada. "Mom," gumam anak itu lirih. Nita yang tahu perasaan Leon memegang satu tangan anak itu.


"Kau harus kuat menghadapinya," ucap Nita lirih dan hanya mereka berdua yang mendengarnya. Leon menelan Salivanya dan menganggukkan kepala.


Raina tertegun melihat Leon. Dia ingin memeluknya namun Leon terlihat dingin dan diam, tidak datang layaknya seorang anak yang Merindukan orang tuanya. Raina menahan diri untuk datang ke arah Leon. Adry seperti mengerti perasaan Raina dia meremas tangannya berusaha untuk memberikan kekuatan.


"Hallo, Ayah," sapa Adry mencium Ayahnya lalu ibunya. Raina hanya menyalami mereka saja. Janeta nampak mengambil tisu setelah bersalaman dengan Raina.


"Hallo, Leon," ucap Raina gemetar.

__ADS_1


"Bu," ucap Leon dengan pupil mata bergerak. Raina langsung memeluk Leon dan mendekapnya erat. Alih-alih mengikuti ucapan Janeta, Leon memeluk balik Raina karena tidak tahan pada rasa rindu yang mendalam. Namun, sebisa mungkin dia menahan air matanya.


Setelah beberapa menit Raina menangkup kedua pipi Leon. "Kau terlihat bertambah tampan. Mom Nita mengurus mu dengan baik."


Leon tidak sanggup mengatakan apapun hanya menganggukkan kepalanya. Dia takut jika tangisnya yang akan keluar bukan lagi jawaban dari pertanyaan Raina.


Leon menyentuh perut Raina yang besar.


Leon tidak mengucapkan apapun tetapi dia mencium lama pada perut Raina lalu berdiri naik ke kursi mencium dahi ibunya dan tersenyum.


Raina mengacak lembut rambut Leon. Sedangkan, Janeta menatap malas dengan drama rumah tangga itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


"Nita kau pesan apa tadi?" tanya Janeta.


"Makanan terbaik di sini. Steak dengan taburan emas, Salmon tartar with quail eggs and caviar, sampanye, mungkin untuk Raina segelas jus jeruk itu bagus untuk kakinya yang bengkak," ungkap Nita yang melihat jelas bagian kaki Raina.


"Kau memang selalu mengerti kebutuhan setiap orang mu dear," puji Janeta pada Nita. Nita berusaha tersenyum lebar. Padahal hatinya sedang tidak karuan.


Posisi tempat duduk itu seperti huruf U, dengan sofa tebal hingga ke dindingnya. Raina memilih duduk di sebelah Nita. Sedangkan Adry berada di sampingnya. Itu seperti perumpaan jika Nita mendapatkan Leon dan dia mendapatkan Adry. Wah, pikiran macam apa itu? Batin Raina.


Makanan terbaik di sini. Steak dengan taburan emas, Salmon tartar with quail eggs and caviar, sampanye, mungkin untuk Raina segelas jus jeruk itu bagus untuk kakinya yang bengkak," ungkap Nita yang melihat jelas bagian kaki Raina.


"Kau memang selalu mengerti kebutuhan setiap orang mu dear," puji Janeta pada Nita. Nita berusaha tersenyum lebar. Padahal hatinya sedang tidak karuan.

__ADS_1


Posisi tempat duduk itu seperti huruf U, dengan sofa tebal hingga ke dindingnya. Raina memilih duduk di sebelah Nita. Sedangkan Adry berada di sampingnya. Itu seperti perumpaan jika Nita mendapatkan Leon dan dia mendapatkan Adry. Wah, pikiran macam apa itu? Batin Raina.


__ADS_2