Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Selingkuh


__ADS_3

"Roy, aku mau pulang," kata Nita membalikkan tubuh. Kakinya terasa melayang sewaktu mencoba untuk menapak. Bibirnya masih terasa kebas, bekas ciuman Roy dan dadanya masih berdetak kencang ketika mereka bersama. Perasaan yang selama ini coba dia abaikan tetapi tidak bisa.


"Biar aku antarkan. Kau sedang mabuk Nita. Tunggu, aku ambil jaket di kamar."


Bagaimana bisa kau move on dari mantanmu jika dia selalu ada di sekelilingmu? Itu sangat tidak mungkin. Apalagi ketika mereka sempat hidup bersama selama setahun. Banyak yang telah mereka lalui. Hubungan itu dalam dan sangat membekas di hati keduanya.


Melihat dia setiap waktu. Berinteraksi seolah tidak pernah ada apapun antara keduanya adalah sebuah siksaan yang nyata untuk Nita. Dia bisa membeli apapun tetapi kehangatan cinta Roy tidak bisa diberikan Adry, walau suaminya selalu memberikan apa yang dia mau.


Hati dan pikirannya di penuhi oleh Roy dan rasa bersalah yang dia pendam. Satu-satunya jalan agar dia tidak mengingatnya adalah dengan pekerjaan. Maka dari itu, dia selalu sibuk selama sepuluh tahun pernikahan itu bertemu dengan Adry hanya dalam beberapa hari lalu tenggelam kembali dalam dunianya. Untung saja, Adry orang yang super sibuk sering bepergian ke luar negeri dan lebih sering tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Jadi dia punya alasan yang tepat untuk menjaga jarak dengan pria itu.


Dia pemabuk berat karena merasa tertekan. Lucunya dan satu hal yang Nita suka adalah Roy selalu membawanya pulang ketika dia mabuk tanpa ada Adry. Sehingga dia bisa berada di dekat pria itu lagi. Merasakan pelukannya yang hangat atau mencium aroma tubuh yang sangat dia rindukan. Sepuluh tahun itu terasa berat untuk dijalani oleh Nita.


Nita terpaku ketika menatap fotonya dan Adry yang sedang duduk bersama di rumah ini. Dalam foto itu mereka berdua terlihat tertawa bahagia. Tanpa beban. Dia meraihnya.


"Kau ingat, itu foto terakhir kebersamaan kita. Sebelum Adry datang dan kau lebih memilihnya dari pada aku yang miskin ini," kata Roy.


Nita menggigit bibirnya sendiri dan mengusap titik air di ujung matanya. Meletakkan kembali foto itu ditempatnya.

__ADS_1


"Aku coba realistis Roy, aku butuh dia untuk mendongkrak namaku di kancah dunia hiburan. Kau tahu mimpiku adalah menjadi seorang model Internasional dan itu tidak bisa kudapatkan jika aku tidak mengorbankan hubungan kita." Nita membalikkan tubuh menghadap Roy yang sudah ada di depannya


"Sekarang kau sudah mendapatkan cita-citamu. Menjadi orang terkenal dan banyak dipuja oleh orang. Apakah kau bahagia dengan semua itu?" Nita terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Roy.


"Lepaskan Adry dengan ikhlas dan kembalikan dia pada Raina, kita bisa kembali lagi bersama," lirih pria itu.


"Kenapa Roy, kenapa kau masih menungguku kembali? Kenapa kau masih mencintaiku padahal aku telah sangat melukaimu. Seharusnya kau membenciku atau memakiku atau mungkin jijik. Namun, kau malah tetap perhatian padaku. Kau tahu hal itu yang menyiksaku selama ini. Melihatmu, merasakan perhatianmu, dan keberadaanmu di sekitarku membuatku gila. Aku tidak mungkin kembali lagi padamu karena aku sudah menikah dengan Adry."


"Kenapa kau bilang?" Roy mendengus sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak tahu. Awal kau ingin berpisah denganku itu membuatku terluka. Aku tidak berdaya untuk melawan keinginanmu dan Adry karena dia adalah anak dari orang tua asuhku. Dia juga begitu tergila-gila padamu. Aku hanya bisa menyerahkanmu padanya. Walau itu terasa berat." Roy maju ke depan merapikan surai hitam Nita yang menutupi sebagian wajahnya.


"Aku terpuruk dan jatuh kala itu. Ingin pergi dari kalian berdua namun tidak bisa karena hidupku kuabdikan untuk keluarga Quandt. Keluargaku berhutang budi banyak pada mereka. Kau kira aku tidak tersiksa dengan perasaan itu Nita, sangat. Melihatmu bersama Adry, membuat hatiku panas, namun kau begitu tidak berperasaan melakukannya."


"Aku begitu hancur ketika menemukanmu sekarat dengan keadaan buruk, over dosis. Kau sekarat dan nyaris mati. Hal yang membuatku hancur adalah kejadian itu membuat calon anak kita terbunuh. Di saat perasaanku kacau aku harus membereskan masalah ini. Jangan sampai keluarga Adry tahu jika kau hamil lalu keguguran jika tidak kita berdua akan menuai akibatnya."


"Saat itu aku mulai menyerah dengan hatiku. Ada perasaan marah dan benci padamu. Namun, melihat kau tidak sadarkan diri dalam keadaan koma, membuatku berpikir bahwa aku lebih baik melihatmu bahagia dengan pria lain daripada tidak akan pernah melihatmu sama sekali."

__ADS_1


Roy menekan pelupuk matanya kencang menahan air mata yang akan keluar. Mengingat masalah ini membuat luka lamanya yang dia kubur, bangkit lagi.


"Aku begitu tertekan saat itu, Roy. Adry memutuskan ku dan saat itu aku mengira jika kau pasti sudah membenciku karena mengkhianatimu. Di satu sisi pekerjaanku sedang bermasalah, aku tidak punya semangat untuk hidup dan semua terasa sia-sia. Aku merasa sendiri. Satu lagi, saat itu aku tidak tahu jika aku hamil. Kau tahu jika aku memakai alat KB suntik dan mungkin ketika terakhir kali kita bersama aku telat mengenakannya. Aku sama terkejutnya denganmu hal itu juga membawa beban berat baru untukku. Aku marah karena kau menolongku, kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja?" tutur Nita seperti orang gila.


"Sudah kukatakan aku begitu mencintaimu hingga tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja dari hidup ini."


"Kenapa pula kau tidak membenciku karena telah membunuh anak kita? Aku kira kediamanmu dan sikap dinginmu itu karena kau sangat marah hingga tidak sudi lagi melihatku," tanya Nita.


"Aku marah dan menganggapmu wanita paling egois di dunia ini. Aku membencimu tetapi tetap tidak bisa melupakanmu. Jika kebahagiaanmu adalah bersama Adry, aku rela asal kau tetap hidup dan menikmati harimu."


Nita yang mendengar perkataan Roy mengatupkan bibirnya rapat. Dia menatap pria itu dengan lekat.


Roy sangat baik dan sempurna. Dia tidak bisa mengangkat wajah lagi di depan Roy setelah apa yang dia lakukan selama ini. Dia merasa telah berbuat tidak adil dan jahat padanya.


"Nita selesaikanlah hubunganmu dengan Adry lalu kembalilah padaku," pinta Roy.


Nita memundurkan langkahnya. Dadanya terasa penuh dan sesak sehingga sulit baginya untuk bernafas. Namun, saat ini dia harus mengambil keputusan yang tepat untuk keduanya.

__ADS_1


"Aku tahu kau sangat mencintaiku dan akan selalu mencintaiku. Namun, aku sudah punya suami. Seburuk-buruknya aku, tidak akan pernah aku berselingkuh dari suamiku atau mengkhianatinya. Jadi jangan memintaku untuk bercerai dari Adry. Biar dia yang melakukan itu, tetapi bukan aku. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan meninggalkan seorang pria yang berarti dari hidupku."


__ADS_2