Rahim Sewaan

Rahim Sewaan
Sayang


__ADS_3

Adry menghentikan gerakannya dan menatap balik Raina.


"Apakah itu ada pengaruhnya buatmu?" tanya Adry.


"Kau selalu saja melempar pertanyaan balik," rajuk Raina meletakkan kepalanya di atas lutut dan tersenyum memikat.


Adry lalu duduk kembali di pinggir tempat tidur.


"Aku tidak menyukai Jonathan dan mengingatnya membuat hatiku meradang. Dia itu mantanmu dan mungkin saja kau masih mencintainya."


"Mungkin....," ucap Raina sembari bergerak ke atas pangkuan Adry dan kedua tangannya berada leher pria itu.


"Tetapi selama kau belum kembali lagi pada istrimu hati dan jiwaku milikmu," kata Raina penuh arti.


Adry menatap mata besar Raina. Tangannya lalu memeluk pinggang Raina yang masih polos.


"Kau manis sekali?" puji Adry. Raina tahu satu hal. Bahwa kemarahan pria akan hilang dengan kata-kata manis dan rayuan kita yang menggoda. Dia sudah belajar itu dari teman-temannya di tempat kerja.


Kepala Adry masuk ke dalam leher jenjang Raina dan Raina mengusap rambut lebat Adry.


"Kau ingat, pernah mengatakan kebersamaan ini hanya sampai dua bulan dan jangan sebut orang lain saat kita bersama." Adry mengangguk. Itu yang membuatnya berat. Dua bulan itu terasa sebentar. Setelah itu apakah dia rela menyerahkan Raina yang telah menjadi miliknya pada pria lain.


Jari-jari Raina bergerak sensual di leher pria itu.


"Karena itu tidak ada yang lain sampai hari itu tiba," kata Raina.


"Setelah itu?"


"Aku akan melahirkan anakmu dan kita lepas," jawab Raina sakit. Setelah menyatu apakah mudah untuk melepaskan lagi? Dia tidak yakin.


"Tidak usah memikirkan besok, kita nikmati saja kebersamaan kita ini," kata Raina.


"Tidak bisa!" batin Adry. Bahkan dia akan mengurung Raina dalam ruangan rahasia jika sampai dia bersama pria lain.


"Menikmati? Apakah itu artinya kau siap untuk malam ini?"


"As you wish, sir!"


***

__ADS_1


"Sepertinya aku akan langsung hamil setelah ini," gumam Raina ketika mencuci piring. Beberapa hari bersama Adry selalu berakhir di ranjang. Dia selalu memintanya entah itu di dapur, di ruang makan atau pun di ruang TV. Pria itu seperti maniak se..... ks ....


Hari ini Raina bahkan seperti tidak punya tenaga untuk mengerjakan semua hal. Dia ingin menghabiskan harinya di tempat tidur. Namun, dia harus berangkat ke rumah sakit. Mulai hari ini Leon akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Jika dua hari lagi keadaannya stabil maka dia akan pulang ke rumah.


Raina melihat ke dalam lemari pendingin. Persediaan sayuran sudah mulai habis. Dia lupa untuk belanja kebutuhan rumah.


"Kenapa?" tanya Adry tiba-tiba di belakangnya.


Raina melihat ke belakang.


"Kau lihat, tidak apa-apa hanya ada telor saja dan roti," kata Raina menutup lemari pendingin.


"Kalau begitu kita makan di luar saja.''


"Apakah tidak pemborosan selalu makan di luar dan harganya itu sangat mahal jika dirupiahkan. Nanti perusahaanmu bangkrut jika kau mengeluarkan banyak uang."


Adry tertawa. Raina belum tahu seperti apa perusahaannya. Dia hanya tahu jika Adry adalah orang berada saja.


"Jangan seperti para debitur di tempat kerjaku dulu, bertindak ceroboh dengan mengeluarkan banyak uang untuk hal tidak perlu seperti memenuhi gaya hidup hedonis, lalu perusahan milik mereka hancur karena tidak bisa membayar hutang."


"Hanya untuk makan saja tidak akan membuat usahaku hancur."


"Sebenarnya kau itu hanya bekerja sebagai CEO saja atau kau juga pemilik perusahaan itu."


"Apalagi seperti itu, nanti mereka mengira kau telah korupsi karena mengabiskan banyak uang untuk biaya operasi Leon dan biaya hidup kami selama ada di sini." Ceramah Raina membuat Adry tersenyum lebar sembari mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu halus karena lupa bercukur.


"Namun, itu sebanding dengan apa yang kudapatkan. Aku mendapatkan kalian dalam hidupku sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya," ucap Adry dengan mata yang berbinar-binar. Dia memeluk pinggang ramping Raina.


"Apa kau bahagia kami ada untukmu?" tanya Raina.


"Sangat bahagia," ucap Adry. Raina tersenyum lalu mengecup pipi Adry.


"Aku juga bahagia," kata Raina. "Namun aku lapar, kau telah menguras tenagaku semalam ini dan aku butuh sesuatu untuk membuat tenaga baru," jelas Raina mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mendengar kata bahagia Adry membuatnya senang hanya saja waktu mereka selalu berkurang setiap saat dan dia tidak bisa membayangkan perpisahan itu akan seperti apa sakitnya.


"Jika kau sudah memperolehnya adakah bayaran untukku?" tanya Adry mengangkat tubuh Raina sehingga wanita itu dalam gendongannya. Kakinya mengapit pinggang Adry.


"Baiklah kau boleh meminta apapun," jawab Raina. Adry lalu membawa tubuh Raina keluar apartemen.

__ADS_1


"Adry turunkan nanti ada yang melihat."


"Di sini ini hal yang lumrah dilakukan," kata pria itu.


Raina lalu memeluk erat Adry takut terjatuh.


"Kenapa kau tidak memakai jas lengkap hari ini?" tanya Raina ketika mereka telah berada di dalam mobil.


"Bukankah hari ini Leon akan dipindahkan ke ruang perawatan untuk itu aku sengaja meliburkan diri. Dua hari ini aku sibuk jadi tidak bisa menemuinya."


Raina terdiam memasang seatbelt di tubuhnya dan mobil mulai dinyalakan lalu meluncur pergi keluar.


"Selain itu kita harus menghadiri acara pernikahan temanmu," kata Adry menoleh ke arah Raina. "Jadi aku akan membawamu ke boutique untuk memilih baju serta membuatmu berbeda."


"Padahal aku sudah melupakan acara itu,'' kata Raina. Dia tidak melupakannya hanya saja dia tidak enak jika Adry melihat Jonathan ada di sana. Suasana nanti tidak baik lagi.


"Kenapa bukankah itu acara pernikahan temanmu?" tanya Adry.


"Aku takut," pancing Raina. Adry mengerutkan dahinya.


"Takut apa?"


"Takut jika kau cemburu pada Jonathan," jawab Raina jujur.


"Untuk apa aku takut bersaing dengan pria lainnya?" celetuk Adry penuh percaya diri.


"Lagi pula untuk apa bersaing toh nantinya juga kita akan berpisah," lirih Raina lesu sembari melirik ke arah Adry.


Adry langsung menghentikan kendaraannya di tengah jalan. Untung saja suasana jalan raya di Berlin berbeda dengan di Jakarta yang liput.


"Kita tidak akan berpisah Raina," ucap Adry memukul stirnya kuat. Dia lalu menjalankan lagi mobilnya.


Raina membuka mulutnya dan menatap Adry.


"Jadi jangan katakan tentang perpisahan!" emosi Adry mulai meledak terlihat dari wajahnya yang putih berubah memerah seketika.


Sebuah panggilan terdengar dari handphone Adry, Raina bisa melihat jika itu panggilan dari Nita. Istri Adry pertama.


"Istrimu!" kata Raina penuh penekanan. Dia lalu melipat tangannya di dada dan melihat ke arah jendela.

__ADS_1


Adry menerima panggilan itu melalui Airphone.


"Hallo, Sayang!" panggil Adry. Raina berdecih dalam hati baru saja pria itu mengatakan tidak ingin berpisah dengannya detik kemudian memanggil Sayang pada istri pertamanya. Serakah.


__ADS_2